Jumat, 04 Juni 2021

BUKANKAH HIDUP AKHIRNYA HARUS BAHAGIA



Saat dua tangan menangkup seiring tengadah wajah tepat menghadap pintu sang langit. Warna emas senja menyeringai, mengekalkan betapa lengangnya jalan yang sedang kau susuri. Mencari bahagia sampai lupa cara berlapang dada.

Harusnya bahagia tak perlu diminta dan dijanjikan, bagi para pemimpi dan pencari, mungkin saja bahagia itu pernah menghampiri , hanya saja kau tak pernah menyadari sebab kau hanya sibuk menghitung detikmu yang tak jua beranjak menjadi menit.

Jika kau paham, bahagia semata ada dalam ruang dadamu sendiri, ketika ia merasa lapang, ketika kau berhasil membuang semua rongsokan masa purba yang selama ini betah kau timbun dan kau simpan.

Bukankah hidup akhirnya harus bahagia? Lalu mengapa sulit sekali kau menerimanya ? Kau biarkan arah angin terus bermain-main dengan dirimu, menerbangkan arahmu sampai sesat nyaris tak lagi mengenal kata pulang.

Nong, coba sejenak kau pandang rona senja yang sejak titik nolmu selalu saja kau benci.

 Iya ! Tanpa sadar... Sejak itu kau selalu membenci senja. Membenci warna kuning emasnya, membenci kesunyiannya, ketika semua kembali ke sarang hangat. Sementara kau hanya riuh berputar , tanpa satupun pintu terbuka untukmu. Benar-benar sendiri.

Sekali saja cobalah berdamai dengan senja. Leburlah ! Rasakan ! Kadang keheningannya tak melulu soal lara, tak melulu soal kehilanganmu. Tak melulu soal kenangan luka yang kau paksa dekap entah sampai kapan. Di sana juga ada masa depanmu. Ada pintu tempat kelak kau bisa pulang , menaruh segala jenis koreng yang bertumpuk di lelahmu.

Bahagialah !!! Bukan karena dia pernah memintamu berjanji soal ini, bahagialah!!! Selayak kau harus bahagia. Tak perduli bagaimana, tak perduli siapa.

Cukup bahagia !!!! Lupakan semua ceritamu tentang meninggalkan dan ditinggalkan. 

BAHAGIA SAJA !!! 

Itu yang seharusnya, bukan ?? 

@lenspam jalankarang Cc 04 juni 2021



Pict by pinterest