MERDEKA ( BELENGGU )
Sekat kesekian hari adalah cuti paling indah bagi para dewa yang sibuk memutar uang, tapi neraka bagi kami yang setiap hari memulung suap nasi dari harumnya debu dan udara jalanan.
Kuaduk panci berbumbu temu kunci. Kemarin tanganku mengoreknya dari pinggir kali. Harum bahkan tidak sampai pada pintu bilik kami.
Segenggam beras sudah tanak tanpa sempurna, sekedar lunak bisa terkunyah tanpa gigi patah.
Ah, ilmu matematikaku akan teruji bagaimana cara membaginya untuk kami berempat.
Kurasa hanya sampai bilangan tiga nasi aron akan terlahap.
"Bu, masak apa?" Suara sulung memecah malam.
Aku senyum, pasti dia heran kenapa hari ini aku sanggup masak.
"Bangunkan adik2mu" kubelai harapan masa tuaku dengan suara setenang telaga.
Tiga piring plastik kusam terjejer rapi
Ah, syukurlah, segenggam beras tadi sanggup kubagi rata untuk mereka.
Tinggal tuang kuah, semoga mereka suka.
"Ibuuu,,, lela mau isinya.." rengek bungsu melongok isi panci.
"Makan saja apa yang diberi ibu" hardik sitengah sambil menjauhkan panci.
Kuhela nafas, membelai satu-satu kepala kusam belahan rahimku.
Dalam hitungan detik tandas sudah isi piring
Perut kempis mereka mengabarkan kenyang hanya sekedar wacana.
"Bu, anto yang cuci piring sama panci , ya. Ibu istirahat! Sebentar anto mau keluar . Kemarin bang gotam bilang ada kerjaan buat anto."
Tenggorokan cekat, kering bukan karena sedari kemarin tak dibasahi air, tetapi demi saling membagi tatap dengan sulung, calon perjakaku yang baru saja menginjak usia dua belas tahun.
Nak, kemana sisa-sisa masa kanakmu ? Kutatap punggung ringkih berbalut jersey kw nan kusam yang kubelikan empat tahun silam. Sulung lenyap dibalik pintu bilik kami. Ruangan berdinding triplek bekas mega proyek kondominium seberang kali, bang gotam memberikannya beberapa waktu lalu. Pengganti kardus yang katanya tak lagi layak disebut dinding.
Sebelum covid-19 datang, kehidupan kami memang tidak kalah menyedihkan dari sekarang. Aku, yang hanya tamatan sd, menghidupi tiga anak dengan cara memulung rongsok dari jalan ke jalan. Setiap hari membawa uang lima ribu saja sudah untung sekali, kadang tak serupiahpun dapat kubawa.
Tapi setidaknya , saat itu aku bisa leluasa bergerak, ada saja rongsok yang berhasil kukumpul dari belakang restoran-restoran cepat saji yang berjejer sepanjang jalan utama kota kami. Bahkan sering mereka berbaik hati, memberiku sisa menu yang tidak habis terjual . Sebelum covid, aku tidak pernah memasak batu dengan bumbu temu kunci untuk anak-anakku.
Kemarin, mbak sanari mengeluhkan satu hal. Dia adalah pemilik warung kopi kecil di sudut jalan. Sejak ppkm berlaku, warungnya tutup total. Pendapatannya berkurang drastis katanya, sekarang dia hanya bisa mengandalkan penghasilannya dari jualan makanan online. Itupun berkurang jauh sejak negri kami dikacaukan covid.
"Gila, nik! Ppkm diperpanjang lagi. Wes angel wes. Tutup selawase yen ngene warungku, nik!"
Aku tidak mengerti apa itu, yang aku paham , sejak semua disekat-sekat aku makin sulit memulung suap untuk ketiga anakku. Rongsokan yang biasanya mudah kudapat, ikut lenyap bersamaan jalanan yang kian sepi. Tidak ada lagi manusia yang berkeliaran dan membuang sampah-sampah mereka sembarangan.
Untung bang gotam berbaik hati. Mandor proyek itu kadang memanggil anto tengah malam, aku tidak tahu apa yang dilakukan anto, bang gotam hanya bilang ada beberapa pekerjaan proyek yang bisa anto bantu, umur anto masih kecil, dia tidak bisa kelihatan bekerja di proyek pada siang hari karena akan menimbulkan masalah. Aku hanya tahu, ketika anto keluar, itu berarti akan ada beberapa lembar rupiah yang bisa anto berikan untukku. Dan kami bisa bernafas sejenak untuk beberapa hari.
Subuh menjelang. Kulipat mukena kusam dan menaruhnya di atas para-para.
Pintu bilik terbuka, wajah anto muncul. Tampak lesu dan letih dengan rona kesakitan yang tak mampu ia sembunyikan.
Ditaruhnya beberapa lembar rupiah ke tanganku, lalu bergegas menjatuhkan badan ringkihnya di samping kedua adiknya dengan cara tengkurap.
"Mandi dulu, nak! Biar capeknya sedikit hilang."
"Nngh... "
Tak ada suara. Remang cahaya dari bohlam lima wat bilik kami tak mampu menyamarkan pemandangan di depanku, di bagian celana anto tepatnya.
Jelas bercak darah dan kotoran di sana. Seketika ada bongkahan batu jatuh tepat ke jantungku. Yang aku heran, tak sebutirpun air mata sanggup jatuh meluncur di pipi kusamku.
Apa kemiskinan juga ikut membunuh nuraniku sebagai seorang ibu , Tuhan ?
Kulirik kalender bergambar caleg salah satu partai. Slogan dan wajahnya sama-sama menggambarkan harapan dan optimisme yang dijanjikan bisa sampai ke tangan kami jika kami mau menusuk tepat wajahnya pada hari pemilihan setahun lalu . Ah, manusia memang pejanji yang ulung. Persis janji lelaki bangsat yang kini pergi entah ke sebelah bumi yang mana, membiarkan aku pontang-panting mengurus sisa perbuatannya. Tetapi, bukannya lebih baik lelaki itu menghilang ? Setidaknya tidak akan ada lagi yang harus babak belur setiap hari di antara aku dan ketiga anakku.
Kuraih karung dari balik pintu, hari ini hari kemerdekaan negri kami, semoga akan ada perayaan seperti tahun-tahun kemarin. Sehingga aku bisa mengumpulkan botol-botol minum serta kotak-kotak bekas makan mereka.
Jalanan lengang, umbul-umbul merah dan putih berjajar cantik, tetapi tidak ada tanda-tanda perayaan kemerdekaan . Lapangan tak kalah lengang. Hanya ada beberapa satpol pp yang berjaga.
Ppkm diperpanjang kata mbak sanari, aku tak mengerti, yang aku mengerti hari inipun aku kembali gagal memulung rongsok.
Pernah kudengar emak bertuah padaku, merdeka itu artinya ketika manusia lepas dari belenggunya. Apapun itu.
"Aku belum merdeka, dong, mak." Racauku mnyeret karung kosong menyusuri jalan lebih jauh. Berharap ada tempat para pembangkang yang mau melanggar Ppkm untuk merayakan kemerdekaannya.
( Dirgahayu ke 76 bumi nusantaraku. Biarkan kami memaknai lepasnya belenggumu dengan cara senaif kami bisa )
@Lenspam #jalankarang Cc 17 AGUSTUS 2021
Credit picture @the bohemian L from pinterest