Sabtu, 25 Januari 2014

hafiza widyadhari,,,,,,,

hafiza widyadhari anakku,,,,
lekaslah besar dan bentangkan sayapmu,,,,
sentuh langit langit itu ,,,,
dengan segala kebesaran jiwamu,,,,

nak,,,,!!!
meski engkau terlahir atas nama sunyi,,,
lalu merangkak besar di timang sepi,,,,
hingga menjadi dewasa di tempa mimpi
(akan kebersamaan kita dan dia bagai dahulu kala)

percayakah engkau,,,,???
tuhan selalu punya cara terindah untuk mendidik sebuah jiwa,,,
ia titah guruh untuk menggelegar,,,
agar qta paham akan kesunyian,,,
ia titah petir untuk menyala,,,
agar qta paham akan kegelapan,,,
ia pun menitah hujan untuk membadai,,,
agar qta paham akan ketenangan,,,

kelak,nak,,,!!!
kelak ada saatnya engkau mengerti,,,,,
sakit,,,
sunyi,,,,
rindu,,,,
kecewa,,,,
duka,,,,
amarah,,
tawa,,,,
bahagia,,,

kelak nak,,,!!!!
jadilah sekokoh karang,,,,
jadilah selembut awan,,,,,
jadilah semanis bunga,,,,,
jadilah sehangat mentari,,,,
jadilah sesejuk embun,,,,,

dan lupakan masa ini,,,,
masa ketika kau hanya bisa meraba keberadaan kami,,,,
manusia yg bertitle ayah
manusia yg bertitle bunda
namun hanya bisa mengalungkan sepi pada leher mungilmu,,,,

lupakan detik itu,,,,
ketika engkau hanya bisa menitipkan air mata rindumu,,,,
pada tembok tua kamar kita,,,,
ketika engkau hanya bisa menatap iri,,,
pada kebersamaan sebuah keluarga,,,,,

lupakan nak,,,,!!!!!
atau biarkan segala itu diam di kenangan,,,,
sebagai pengingat,,,,
bagaimana tuhan telah memilihmu,,,,
menjadi yg terkuat,,,,,

anakq,,,,temali rahim bunda,,,,
maaf ini tak akan pernah selesai ku urai,,,,

untuk goresan mungil di tiap lukisanmu,,,

ayah
ibu
love
fiza,,,,,,

maaf,,,,!!!!!!!!!!
aku tersesat nak,,,,
tak mengerti lagi cara mencari arah,,,,
ketempat dimana kau inginkan kami kembali bersama,,,,,,

dalam rindu,,,,
mailiau 26012013

Senin, 06 Januari 2014

ombak

sekujur kota itu meluka,,,,,
ku rasa,,,
ketika kita terakhir bersisian,,,,
seraya kau lumat habis sisa perjamuan bathin kita,,,,

bangku kayu itu ,,,,
kesetiaan musim dari bait bait perjumpaan,,,
derai hujan itu,,,
kesejatian pencarian,,,,
lalu merindu,,,
lalu gemuruh,,,,

matamu telah memerangkapku di sini ,zier,,,
memaksaku tuk terus melarikan hatiku,,,
pada sudut sudut kota kecil itu,,,,
pada jutaan serpihan usang milik kenangan kita,,,,

aku kembali lagi,,,,
memapah mimpi,,,
mengeja harfiah luka yg pernah tertitip,,,
dan masih rapi tersimpan,,,,

kota itu,,,adalah perawan kita,,,,
kota itu,,,adalah prasasti ,,,,

tempat hati senantiasa pulang

,,,,dalam rindu,,,,