Kamis, 06 Juli 2017

Perjalanan

Mailiau 24 oktober2013
Winter season

Aku hanya tidak dapat tertidur lagi malam ini. Ada suara yang berdentum dentum dalam kepoloku. Gaduhnya seperti tetabuhan atraksi barongsai dan petasan yang sempat aku saksikan pada upacara sembahyangan di kuil/klenteng belakang rumah kemarin.

Memoriku seperti ingin berlompatan keluar, enggan berdiam di pojok ruang batinku yang selama ini selalu terkunci rapat dan tak sekalipun kubiarkan meraja di fikiranku. Tapi tidak kali ini, tidak malam ini, mereka seperti sengaja mengacau, datang  mengacak-acak jiwa yang biasanya selalu bisa dipaksa untuk tenang.

Ada apa ini,?
Aagh!!!
Rasanya bibir ini kelu, bahkan sekedar menyebut sepotong kalimat illahiah pun Aku tak sanggup. Padahal dahulu bibir dan hatiku  selalu akrab dengan dzikir.


Ada apa dengan hatiku? Mengutubkah ia,,,?

"Sudahkah engkau shalat anakku sayang,,,?" Suara Bunda seperti tepat berada di Rongga dua telingaku, berbisik lembut dan lirih. Sebutir bening luruh pelan, Rindu lebih dari sekedar dahsyat.

“Dengan shalat , kau akan mampu menjernihkan segala sesuatu yang  mengeruh dalam bathinmu. Karena sesungguhnya, shalat adalah interaksi paling intim antara bathinmu dengan sang khalik. Shalat adalah sebaik baik komunikasi antara Engkau dengan Penciptamu, Nak."

Bunda!!

Aku tergugu dalam hening, hati mendadak histeris, berteriak sekeras ia bisa, meski tentu saja semua hanya ada dalam diam. Ia menyepak, menendang, dan sumpah serapah kesumat  melonjak, menari~nari liar. Apinya sontak membakar segala ilalang kering yang  dulu pernah begitu subur dan hijau . Duluuu sekali sebelum semua seperti sekarang.

“Shalatmu, sayang... Shalatmu adalah sebuah jatidiri hakiki. Sebuah kartu tanda penduduk, di berikan langsung oleh Penciptamu. Shalatmulah yang akan  membedakanmu dari Non muslim. Shalatmu nak, Shalatmu yang akan terhisab pertama kali saat kita semua sampai di padang pengadilan, yaumil akhir.”

Bunda!!

Akhirnya Letih juga setelah mengamuk itu hati, kemudian hening... lungkrah, senyap seperti kelengangan padang es di sebuah kutub.

Secara perlahan kuseret langkah keluar kamar, setelah lebih dahulu mengecek dan memastikan, pasien yang kujaga terlelap dan tak akan terusik oleh gerakanku.

Brrr!!!!
Angin dingin dari hembusan cuaca 7 derajat celcius menyusup lewat sela pintu dan jendela,  menggigilkan raga sampai ke tulang-tulangku begitu Aku keluar ruangan kamar. Meninggalkan kehangatan pemanas ruangan yang selalu terpasang di dalam kamar yang kutempati bersama lansia yang kujaga selama setahun setengah ini.

Bukan! bukan raga ini yang mnggigil Aku yakin, tapi hatikulah yang  menggigil. Mungkin ia telah terlupa cara berinteraksi dengan dinginnya percikan air wudhu . Ia lupa , kapan terakhir ia berwudhu lalu melaksanakan shalat.

“Shalatlah nak!! Apapun yang akan menghalangimu, cukup engkau letakkan segala ketakutanmu pada sebuah doa dalam rakaatmu,  niscaya ALLAH akan mengurus segala ketakutanmu. Bukankah ALLAH itu maha pengabul segala doa dan penolong segala kesulitan semua makhluknya?

Bissmillah,!!

Izinkan kutempelkan keningku pada bumimu duhai RABBI! Zat yang maha menguasai seluruh jagat dan seisinya. Kening ini telah sekian lama terberangus oleh ketakutan dan kecintaan pada duniawimu. Negri langit ini telah lama memasang jeruji besi pada rongga kebebasanku menjalani segala hal yang harusnya telah menjadi darah dan nadiku.

"Anna ni caai nalii,,,??!! "~anna di mana kamu?~

Gelegar datang , tak memberiku kesempatan untuk bergerak sama sekali, bahkan sekedar untuk menyelesaikan tasyahud akhirku.

"Ni cai sheme,?" ~kamu sedang apa?~


thai thai ~majikan perempuanku~ tiba tiba saja telah berdiri di hadapanku, suaranya selembut biasa jika Dia bicara padaku, dengan irama dan intonasi yang sempurna. Tapi kali ini matanya menghujam langsung  ke arah mukena putih yang tergesa ku lepas dan ku lipat. Jelas tergambar ketakutan dan kemarahan pada wajahnya.

“thuipuchi thai thai.” Tergagap Aku menjelaskan.

 "Wo siang pai pai isia, u fencung kau lah, kheyi ma?”

~maaf ,nyonya,saya rindu shalat,lima menit cukuplah,bolehkah?~

"Puyunglah! " ~ Tidak usahlah~

 Matanya makin tajam menghunjam, meski intonasi suaranya tidak berubah.

"Secien women iting tongle ,ni pu kheneng pai pai cai womente cia, she pu she? ”

~Sebelumnya kita sudah sepakat, Kamu tidak boleh sembahyang dirumah kami, ya tidak?~

Tangan lentik itu terulur, tanpa kata meminta mukenah di tanganku, bahkan tanpa repot repot menunggu jawabanku. Jika kesepakatan yang Dia maksud tidak pernah melibatkan persetujuanku. Seperti hampir semua Teman-temanku yang lain , yang bekerja sebagai tenaga kerja wanita di wilayah aspac. Egent kami terkadang memaksa kami menandatangani kesepakatan kontrak soal hal-hal pribadi, seperti Handphone atau hak kami untuk beribadah, tidak semua memang, Aku hanya salah satu orang yang tidak seberuntung  teman-teman lain. Thai~thai , menantu dari lansia yang kujaga, memang sangat baik memperlakukan Aku selama Aku ikut mereka, hanya soal satu ini Mereka sama sekali enggan memberiku toleransi, sebubuh tanda tangan di atas materai tentang peraturan satu ini selalu dia ingatkan , setiap kali Aku mencoba mengusik hak rohaniku.

“kamu masih mau kerja di sini kan , Anna ? Kalau mau , tolong ikuti peraturan rumah kami , kalau tidak , terpaksa kami harus mengembalikanmu pada egent . "

Aku menunduk , lemah , serasa menjadi pandir seketika.

“kamu fikirkan baik baik Anna ! Selama ini kami perlakukan kamu dengan baik , kan?  Hanya untuk satu ini saja kami tidak memperbolehkanmu , tidak boleh ada dua Tuhan dalam rumah kami . "

Gemulai tangan lembut Thai-thai meringkas mukenahku .menatapku lagi , kali ini dengan tatapan lebih lunak , seraya berkata , "cepatlah kembali kekamar Sudah waktunya Ama minum susu . Kita bicarakan lagi soal ini besok ."

Diam... Kata orang bijak lebih berharga dari sekuintal emas sekalipun .Tapi diam kadang bisa jadi hanya sebagai penanda , betapa lemah dan kerdilnya keimanan kita . Betapa pengecutnya sikap kita ketika menghadapi satu keadaan yang membuat kita tersudut dan tak berkutik.

Malam ini Aku kembalu tak dapat tidur. Badai dan angin dingin mengamuk lebih dahsyat dari semalam kemarin . Tapi seperti biasa , badai itu hanya berani kisruh di hati.

Benakku sedang sibuk mengeja makna kata pulang . Tempat di mana bisa kuletakkan segala nestapa yang sekarang ini sedang kurasakan.


Ya pulang !! Berhenti dan melupakan semua cita-cita dan tekad awal saat pertama kali aku nekat memutuskan menjadi tenaga kerja wanita ke negri langit ini . Rumah mungkin adalah pelipur satu-satunya untuk airmataku saat ini.

Mataku menerawang , menggumuli langit langit kamar. 


Seperti yang pernah bunda katakan dulu , saat melepasku pergi , "Harus ada titik untuk Kau berhenti mengembara  , An. Bunda tidak ingin Kamu selamanya di luar sana."


Mungkin ini saat yang tepat ? Saat yang bijak untuk berhenti dan meletekkan semua letih tak terhingga ini ?

Ku hela nafas , berat sekali , terbayang percakapan dengan Putri semata wayangku beberapa hari kemarin.

"Ibuu,,,, Widya kalau lulus SD  mau masuk pesantren boleh ya ,, ? " Suaranya  manja dan riang, Tiga bulan lagi Dia akan menyelesaikan sekolah dasarnya , dan harĂ¹s melanjutkan ke tingkat menengah , bukan biaya sedikit untuk memenuhi keinginannya masuk ke sebuah pondok pesantren terkenal di kota Kami . Sejak usia taman kanak-kanak Dia bercita-cita ingin menjadi seorang Guru , terutama guru agama . AH! Sedang apakah dia sekarang ? Pukul sepuluh waktu indonesia , pasti dia sudah terlelap , membawa semua harapan masa depannya .

"Anna , gendeng bagian dapur dan kamar mandi rumah kita ambruk , sudah rapuh kayu-kayunya , perlu segera di perbaiki  butuh sekian juta untuk itu . " Yang ini suara bapak , ketika mereka bicara lewat telpon minggu kemarin . 

“Dian sudah waktunya cuci darah dan ambil obat lagi , Ann“ itu tangisan Bunda juga minggu kemarin , "setidaknya kita harus ada pegangan lima jutaan , "

Aku makin meringkuk seperti udang yang siap di rebus ,  Dengan mata nyalang dan otak makin ribut serta kacau , tanganku erat menggenggam tasbih mungil pemberian Ari , sahabatku yang lebih dahulu kembali ke tanah air . Ini satu-satunya barang rohaniku yang tidak berhasil disita Thai-thai untuk diserahkan pada egent tadi siang . Aku menyembunyikannya di bawah kasur Ahma , 

Kata pulang sepertinya harus kembali mental entah ke sisi mana , bukankah hidup itu berarti kita harus berjuang dan menjalani apa yang ada di hadapan kita tanpa mengeluh ? meskipun itu bukan sesuatu yang ingin kita pilih ?

Detak jam menembus angka pukul tiga dini hari , dan belum ada tanda-tanda mataku akan terpejam , bahkan makin banjir oleh airmata.

Bolehkan Aku merasa Lelah , Bunda ? Aku makin meringkuk seperti udang rebus siap santap.

Perjalanan...Mungkin ini saatnya aku kembali memilih...atau diam...saja mengunyah segala bara keparat ini ?? Tapi sampai ia berakhirpun tak ada yang bisa kupilih.

Revisi chiayi city 15 september 2018

Dedikasi buat semua pekerja dan calon pekerja  domestik di luar negri, khususnya di aspac .cerita ini Hanya fiktif , tapi semoga bisa menjadi semacam inspirasi , renungan dan bahan untuk bersyukur saat kita tidak di hadapkan pada kesulitan seperti tokoh dalam cerita ini,
Ingat!!!nikmat terbesar selain nikmat sehat itu adalah nikmat iman dan keleluasaan untuk menjalankan kewajiban kita sebagai muslim,yang punya kesempatan seperti itu, manfaatkanlah sebesar besarnya,,semoga allah senantiasa mempermudah segala langkah kita sampai finish kontrak aamiin

Rabu, 05 Juli 2017

Catatan Dari sepotong jendela sepi

1 SEPTEMBER 2016

Iya,,
Aku sepi,,
Berteman ketak ketuk serta gelisah angin,,,
Musim gugur yg tak pernah tuntas..
Menanggalkan anginnya
Oleh cacian dan winter yg kepagian datang..

Iya,,
Aku sepi,,,
Mungkin juga lelah,,
Mungkin juga penat
Atau muak
Entah,!!!!!
Bukankah kosa mereka tak lagi penting

Iyaaaa
Aku sepi
Memandangi keramaian
Gempita malam
Atau kedap kedip bintang
Atau sumringah rembulan
Hanya dari sudut kaca jendelaku
Yg nakonya pecah separuh

Sssttt,,,
Sudah hamburkan saja ,,!!!
Kau sudah mengeja semua hinaan
Yg paling sempurna untukku
Menamparnya tepat
Pada ulu hatiku

Lalu mau apa lagi???
Mau terbahak???
Mau terus mencaci??
Atau ....

Aahhhh,,,,,
Iya
Iya
Iya

Aku memang sepi
Mungkin juga muram
Dengan senyumku yg buram..
Dan mataku terhalang nako buram ini

Hingga tak sanggup q lihat

Ketika kau berjalan tegap
Bergandengan mesra
Dengan bahagia mu nan sejati

Atau sesungguhnya
Aku sedang sembunyi
Dari segala bentuk kelemahanku

Cukup abaikan
Masuklah kembali
Pada tempurungku
Sayonara
Dan jangan bertanya...

PESALAKAN
01sept2016

Rabu, 21 Juni 2017

Kelepak sang kelopak

Bulan menua,,,,kerut kerutnya terlihat pada ketuk ketuk jam di dinding tua bernama ingatan,,,,
Malam merindangkan temaram warna daun daun oak yg gugur sore tadi,,,,
Pada sebuah keasingan bangku kenangan,,,,ada yg terluput,,,tentang ribuan harfiah yg tertoreh di helaian lontar bernama masa lalu,,,,

260294*********sudut gelap sebuah kisah,,,,di situ pernah terlabur serapah lara,,,,lewat remasan jemari yg tersia,,,,atau lengkingan mimpi yg mendadak bisu d hunus sejarah kelu ,,,,

“menyingkirlah sesegera mungkin kemudian,,,!!!!!!!”
Aku lelah menikam pengharapan akan kehidupan sesudah reankarnasi,,,,dan aku pepat mengeja barisan kata misteri ,,,,

Jika ini takdir,,,menyimpanmu sepanjang hela nafas di angka usiaku,,,,
Jika ini hanya sekedar tentang sebuah ingatan,,,,pada kerut sudut mata almondmu,,atau pada kebiasaan kita menghamburkan segala episode dahulu,,,,

Mengapa ada yg terasa basah di pipi,,,????

#broken

patah hati itu bikin jantung berkebat kebit....sakit seperti tertusuk.panah beracun....mati tetapi tidak mati...hidup tetapi tidak hidup.....melayang layang seperti hantu tak bertempat.....patah hati itu mmbuat mata tak berhenti untuk terlelap.....sibuk bermain air dari lubuk hulu sanubari,,,,,tak ingat pada pejam dan lelap....hanya ada tentang bayang lambaian perpisahan yg ia beri tiba tiba....
patah hati itu seperti pintu besi yg terbanting d hempas angin taifung.....

bruaaaakkkkk....!!!!
sesaat seperti ingin terbongkar dan terhisap udara kacau...tapi nyatanya ia masih tetap setia...menempel pada engsel engselnya ....

aaaaaaahhhhh,,,,
jika patah hati itu seperti yg kurasakan beberapa hari ini.....tanpa hangat kopi di pagi hariku,,,,tanpa sebatang rokok di tengah balau pikiranku dengan teriakan lampir dan gerandong...tanpa rebah di jam istirahat siangku....tanpa lelap di jam istirahat malamku,,,,

heummzzz....patah hati.. .ternyata seperti benang kusut yg mengotori keriangan udara pagiku,,,,

ia beri sepi tiba tiba....hening sehening2nya,,,,,,latar pelangi inipun menjadi gulita saat ia tutup pintu antara kami,,,,

hufftttt...
ya....sudah seharusnya itu yg ia lakukan....jadi pergi saja ia....tapi mengapa ia tak turut membawa patah hatiku ini,,,????biar aku bisa tetap menjadi aku yg kemarin....
aku yg bisa tersenyum.simpul atau sedikit nakal.....

patah hati itu,,,??????

#tak berkawan tak bertuan...

#i'll be back...to love u again Ingatkah zi,,,???di padang rahasia kita pernah habiskan ratusan hari awal remaja kita,,,, Kita rentangkan tangan lebar lebar ....dengan mata nyalang terpentang menembus langit.... "bagai mana ya...rasanya berada di atas sana...???melihat awan di bawah pndangan kita,,,ingin sekali aku pergi ke sana,,," Selalu begitu tuturmu setiap kali kita berlama lama menatap arak2an putih itu.... Dan pasti kmu akan memukul lenganku kuat kuat saat aku tertawa keras...menertawakan keinginanmu.... "lihat saja,,,!"tekadmu cemberut,,,"suatu hari aku akan melihat awan itu dari dekat,,setidaknya dari sebuah jendela pesawat yg membawaku pergi mnjadi turist...wkk.." Padang kenangan,,,sore ini ku sempatkan datang kembali ke sini zi... Memandangi satu persatu dandelion yg dulu sering ku selipkan di rambutmu,,, Merebahkan lagi ragaku pada hamparan rerumputan ....mataku berpagutan dengan setumpuk awan awan di atas... Di sanakah kamu saat ini zi,,??q rasa kau sedang bermain main dengan kapas kapas putih nan lembut itu.... Atau kau terselip di antara kerlip bintang sekarang ini,zi,,,??? Tidak tahukah engkau,,??bagaimana meradangnya hari hariku sejak engkau memutuskan melepas kebersamaan kita,,,,mencampakan dandelion yg ku selipkan di sela rambut dan telingamu,,, "aku harus pergi," "kenapa,?" "kenapa,,??"nyaris menggelegar suaramu,"tidakkah kau lihat keadaan keluargaku saat ini,wis,,?" Aku menunduk saja...geram pada kelemahanku yg tak bisa mnjadi seorang lelaki di saat kau membutuhkanku... Untuk pertama kalinya aku membenci usia dua puluh tahunku...membenci statusku sebagai mahasiswa semester awal,,, Kau pergi,,,melaburkan angan anganmu untuk keluargamu,,,mengapa sejauh itu,zi,?saudi,?bagiku itu sebuah negri antah berantah ,,,,dan ia telah menelanmu bulat bulat,,, Sekali dua kau masih sempat kirimkan kabarmu,,,kirimkan keluhmu tentang keliaran negri tertutup.itu,,, Lalu tiba tiba kau menghilang,,,blasss,,,hitungan bulan sudah menjadi tahun,,,dewasa mulai ku anjak,,,belum juga kau nampak membawa janji yg dulu kita kait di padang ini,,,, "i'll be back to love you again,,"katamu manis usai kecupan panjang kita,,,,air mata atau keringat atau kemarahan,,?semua terasa samar,,, Kemana kau,zi,,?lima tahun tidakkah cukup waktu untuk menuntaskan segala carut keluargamu,,,lihatlah!mereka telah lebih dari.sejahtera saat ini,tanpa secuil hutangpun . Pulanglah,,zi,,!saatnya kau tunai janji padang dandelion kita,,,,sudah saatnya engkau menjadi ibu dari anak anakku...anak anak kita,,, Atau awan awan itu lebih menarik hatimu,,?dan kerlip bintang yg mnjadi kediamanmu saat ini jauh lebih indah,,,??? Lalu bagaimana denganku,,???? "wis,,"suara lembut ibu menyqdarkan aku,,,"pulang nak,,hari jelang malam,,sudah waktunya kamu beristirahat,," "aku menunggu zi pulang bu,," "zi tak akan pulang , anakku,,,lupakanlah,!dia sudah tenang di sana,,,ayo pulang,," Ku tatap.langit yg mulai meremang malam.bintang pertama muncul...secerah senyummu yg dulu kerap kunikmati.... Sebelum negri antah berantah itu menelanmu .... Dan sebelum hukum pancung itu memberangus tubuhmu...memberangus impian kita...

Selasa, 06 Juni 2017

IMPIAN KITA

Chiayi citty 6 june 2017/11 ramadhan1438

Dalam sepi,ketika tak ada seorangpun mampu mendengar dan kudengarkan,hanya suara hati berdentum dentum,memantul ,bercengkrama dengan ketukan irama gundah,

Selamat ya anandaku sayang,buah rahimku tercinta,satu lagi babak baru kamu lalui ,,selamat ! Kamu berhasil lulus un,dan masuk ke sekolah yang kamu inginkan,mts negri (mts negri 4 plered ya neng?)

Tak terkira syukur dan bahagiaku ,meski aku hanya bisa mendengarmu dari tempat pengasingan ini.

Kamu tahu ga za?
Apa yang membuatku sanggup dan masih tetap bertahan sampai sejauh ini??
Ku tantang matahari itu,biarpun mataku telah buram ,terhukum sinar garangnya,ku tantang kerikil 2 tajam ini,meski kaki telah lebih dari koyak,

Dan rasanya aku masih akan sanggup melalui hal terburuk yang lainnya,asal aku bisa mengantarmu sampai kesana,kepada impian kecil kita,kamu tahu kenapa za?.kenapa aku masih tetap berjalan meski jiwa raga telah lebih dari sekedar lelah,

Percakapan kecil kita nuun dahulu,waktu kamu masih berumur lima tahun,waktu jarak belum begitu lebar terbentang di antara kita,waktu aku masih berupa malaikat di matamu,

“ibu,,ibu mau jadi guru tapi ga jadi ya??mau jadi guru bahasa inggris ya??”
“kok fiza tauk ,neng?”
“hehehehehe” tawamu begitu manis merasuk pendengaran,mengguyur rasa putus asaku kala itu,membuat titik nadirku terbuang jauuh dan terlupakan seketika.
“kalo gitu fiza aja yg gantiin ibu ya,,fiza mau jadi guru ah,tapi ga mau guru bahasa inggris,fiza maunya jadi guru agama aja,kaya ibu wati tuh,guru md nya fiza”

Tak terkira rasaku saat itu za,tak henti syukurku pada illahi,dia yg maha rahim,bahkan di tengah dosa dosaku yg segunung,dia berbaik hati memberiki seorang malaikat sepertimu,

Sejak iti,za..aku menggenggam terus percakapan kita ,,ku dekap,ku beri bingkai manis pada ingatanku,kutaruh pada tempat paling depan dari deretan janji ku,
Satu saat ,akan ku antar kau pada titik yg paling kau inginkan,seberapapun sulitnya,aku tak akan pernah menyerah,

Waktu lewat seperti seekor elang yg menukik,lalu terbang kembali,melesat cepat menembus langit,

(aku rindu sekali saat saat itu,saat belum ada jarak sebegini jauh antara hati kita)

Pertemuan kita lagi,
Masih ingat sayang??kamu sudah mulai besar ketika itu,kelas empat ya za?aku beruntung bisa melewati ramadhan bersamaku sekali itu,melewati ramadhan ketika suasana di antara kita belum menyedihkan seperti saat ini,,mungkin saat itu kamu belum menyadari,bahwa aku ini ibu paling jahat sedunia ,

:)

“fiza masih pengen jadi guru agama neng?”
“masih dong ibu,fiza paling suka pelajaran agama.boleh ya bu.”
“pasti donk neng,insya allah ibu bakal wujudin cita cita fiza,asal kamu rajin belajar,jangan banyak maen”

Impian kita memang  bukanlah impian terhebat milik dunia za.ia begitu sederhana,tapi ia seperti dynamo,mesin utama penggerak semangatku ,yg terus ku ingat  ketika aku merasa tak sanggup lagi menjalani semua ini,
Ketika aku tak sanggup lagi berpura pura bahwa aku setegar karang,ketika aku tak sanggup lagi menyembunyikan tangis putus asaku,dirimu yang q ingat za,,

Mungkin kamu tidak tahu za,dan ku harap tidak akan pernah tahu,setiap hari,setiap menit,,aku seperti di paksa menggenggam buah simalakama,di paksa memilih,,berada di sisimu,melihat dan menemani setiap moment pentingmu,,menjadi ibu seutuhnya untukmu,melihatmu setiap saat,tapi aku tak akaan pernah bisa mengantarmu sampai kesana,
Atau,seperti ini,aku berada jauh darimu,kehilangan setiap moment berhargamu,kehilangan cintamu(ini yang paling membuatku hancur,za,hancur banget kalau boleh jujur) kehilangan saat saat emas bersamamu,tapi dengan cara ini aku bisa mengantarmu sampai kesana za,ke tempat mimpi kita,
Bukan! Bukan aku tak percaya pada kuasa allah,aku hanya mencoba realistis,aku hanya ingin memberimu hidup yang layak,aku hanya ingin kamu bisa nyaman ,,,mendapatkan apa yg kamu inginkan,
Dan semua itu hanya bisa q wujudkan dengan cara ini..kamu tauk kan a?gimana dahulu kita lalui hari hari kita,,lebih dari getir,
Sudahlah!!!aku tak hendak membahas masa kelam yg itu,biar itu rapi terkunci pada kotak hari kemarin kita,
Cukup tatap saja kedepan,,selangkah lagi kamu maki mendekati mimpi kecil kita,(i m so proud about you my litle hawk)
“gimana neng?masih tetep mau jd guru agama?”
“masih bu”
“tapi fiza ga jadi mukim,ma af ya neng,uangnya g cukup buat mukimin fiza,,lagian kasian mimi sendirian.“
Sejenak kamu diam ,menerawang,llu berkta pelan akhirnya,“gak papa bu”
“terus jdinya fiza masuk kmna?“
“belom tauk bu,pengennya d weru satu sih”
“kalau mnurut ibu mah,fiza kn mo jd gru agma tuh,,knapa g ambil sekolah agama dri smp?? Mksud ibu fiza pilih mts kan skarang ad yg negri,,ntr sma kli aj fiza bisa mukim,klopun g bisa,kn fiza bisa masuk m a negri juga,,jadi jalan k jalur pendidikan agama lebih gampang,”

Ah!!
Ingat percakapan kita terakhir kali?? Waktu itu jarak mulai bermain di antara kita,kamu terlihat semakin pendiam,
Sedih za,,sedih sekali melihatmu seperti ini,tapi aku ciba mengerti,mngkin kamu butuh ruang,,mungkin memang aku yang tak pernah bisa jadi ibu yg cukup baik buatmu,,its ok sayang,selama aku bisa mengantarmu sampai kesana,,percayalah,aku sanggup melalui inisemua,lebih dari sanggup,

Oh ya,
Makasih ya neng,makasih kamu nau nerima saran ibu soal sekolah,seenggaknya ku jadi ngerasa,masih ada harapan buat kita,
Aku ga akan pernah berhenti berusaha za,,insya allah,,

Baik baik di situ ya sayang,
Mungkin kita saling bungkan saat ini,tapi tidak perasaan ku,ah!!bagaimana aku bisa berhenti mencintai nafasku sendiri?tidak akan pernah bisa,,

You are still be my reason for what i did,,,

Satu hari za,satu hari aku akan kembali meraih hatimu,dan kita ajan kembali berbincang seperti dulu,,

I hope so

Peluk cium dari ibu yang tak pernah bisa jadi ibu buatmu

Love you so much
Selamat jadi anak smp,

:)

Senin, 15 Mei 2017

HUJAN


Sembunyi sudah
Air mata
Lelah
Suara
Di balik guruh
Di bawah kilat

Lalu renay
Sebelum senyap

Sssttt!!!!
Sudahlah!!!
Kurasa mereka lelah
Mungkin terlelap 
Setelah  berpesta
Di tengah beranda tua 

Aku juga 
Ikut terdiam
Menanti pelangi malam 


Bahkan warnanyapun
Telah kulupakan

Mailiau maret 31 2014