Kamis, 06 Juli 2017

Perjalanan

Mailiau 24 oktober2013
Winter season

Aku hanya tidak dapat tertidur lagi malam ini. Ada suara yang berdentum dentum dalam kepoloku. Gaduhnya seperti tetabuhan atraksi barongsai dan petasan yang sempat aku saksikan pada upacara sembahyangan di kuil/klenteng belakang rumah kemarin.

Memoriku seperti ingin berlompatan keluar, enggan berdiam di pojok ruang batinku yang selama ini selalu terkunci rapat dan tak sekalipun kubiarkan meraja di fikiranku. Tapi tidak kali ini, tidak malam ini, mereka seperti sengaja mengacau, datang  mengacak-acak jiwa yang biasanya selalu bisa dipaksa untuk tenang.

Ada apa ini,?
Aagh!!!
Rasanya bibir ini kelu, bahkan sekedar menyebut sepotong kalimat illahiah pun Aku tak sanggup. Padahal dahulu bibir dan hatiku  selalu akrab dengan dzikir.


Ada apa dengan hatiku? Mengutubkah ia,,,?

"Sudahkah engkau shalat anakku sayang,,,?" Suara Bunda seperti tepat berada di Rongga dua telingaku, berbisik lembut dan lirih. Sebutir bening luruh pelan, Rindu lebih dari sekedar dahsyat.

“Dengan shalat , kau akan mampu menjernihkan segala sesuatu yang  mengeruh dalam bathinmu. Karena sesungguhnya, shalat adalah interaksi paling intim antara bathinmu dengan sang khalik. Shalat adalah sebaik baik komunikasi antara Engkau dengan Penciptamu, Nak."

Bunda!!

Aku tergugu dalam hening, hati mendadak histeris, berteriak sekeras ia bisa, meski tentu saja semua hanya ada dalam diam. Ia menyepak, menendang, dan sumpah serapah kesumat  melonjak, menari~nari liar. Apinya sontak membakar segala ilalang kering yang  dulu pernah begitu subur dan hijau . Duluuu sekali sebelum semua seperti sekarang.

“Shalatmu, sayang... Shalatmu adalah sebuah jatidiri hakiki. Sebuah kartu tanda penduduk, di berikan langsung oleh Penciptamu. Shalatmulah yang akan  membedakanmu dari Non muslim. Shalatmu nak, Shalatmu yang akan terhisab pertama kali saat kita semua sampai di padang pengadilan, yaumil akhir.”

Bunda!!

Akhirnya Letih juga setelah mengamuk itu hati, kemudian hening... lungkrah, senyap seperti kelengangan padang es di sebuah kutub.

Secara perlahan kuseret langkah keluar kamar, setelah lebih dahulu mengecek dan memastikan, pasien yang kujaga terlelap dan tak akan terusik oleh gerakanku.

Brrr!!!!
Angin dingin dari hembusan cuaca 7 derajat celcius menyusup lewat sela pintu dan jendela,  menggigilkan raga sampai ke tulang-tulangku begitu Aku keluar ruangan kamar. Meninggalkan kehangatan pemanas ruangan yang selalu terpasang di dalam kamar yang kutempati bersama lansia yang kujaga selama setahun setengah ini.

Bukan! bukan raga ini yang mnggigil Aku yakin, tapi hatikulah yang  menggigil. Mungkin ia telah terlupa cara berinteraksi dengan dinginnya percikan air wudhu . Ia lupa , kapan terakhir ia berwudhu lalu melaksanakan shalat.

“Shalatlah nak!! Apapun yang akan menghalangimu, cukup engkau letakkan segala ketakutanmu pada sebuah doa dalam rakaatmu,  niscaya ALLAH akan mengurus segala ketakutanmu. Bukankah ALLAH itu maha pengabul segala doa dan penolong segala kesulitan semua makhluknya?

Bissmillah,!!

Izinkan kutempelkan keningku pada bumimu duhai RABBI! Zat yang maha menguasai seluruh jagat dan seisinya. Kening ini telah sekian lama terberangus oleh ketakutan dan kecintaan pada duniawimu. Negri langit ini telah lama memasang jeruji besi pada rongga kebebasanku menjalani segala hal yang harusnya telah menjadi darah dan nadiku.

"Anna ni caai nalii,,,??!! "~anna di mana kamu?~

Gelegar datang , tak memberiku kesempatan untuk bergerak sama sekali, bahkan sekedar untuk menyelesaikan tasyahud akhirku.

"Ni cai sheme,?" ~kamu sedang apa?~


thai thai ~majikan perempuanku~ tiba tiba saja telah berdiri di hadapanku, suaranya selembut biasa jika Dia bicara padaku, dengan irama dan intonasi yang sempurna. Tapi kali ini matanya menghujam langsung  ke arah mukena putih yang tergesa ku lepas dan ku lipat. Jelas tergambar ketakutan dan kemarahan pada wajahnya.

“thuipuchi thai thai.” Tergagap Aku menjelaskan.

 "Wo siang pai pai isia, u fencung kau lah, kheyi ma?”

~maaf ,nyonya,saya rindu shalat,lima menit cukuplah,bolehkah?~

"Puyunglah! " ~ Tidak usahlah~

 Matanya makin tajam menghunjam, meski intonasi suaranya tidak berubah.

"Secien women iting tongle ,ni pu kheneng pai pai cai womente cia, she pu she? ”

~Sebelumnya kita sudah sepakat, Kamu tidak boleh sembahyang dirumah kami, ya tidak?~

Tangan lentik itu terulur, tanpa kata meminta mukenah di tanganku, bahkan tanpa repot repot menunggu jawabanku. Jika kesepakatan yang Dia maksud tidak pernah melibatkan persetujuanku. Seperti hampir semua Teman-temanku yang lain , yang bekerja sebagai tenaga kerja wanita di wilayah aspac. Egent kami terkadang memaksa kami menandatangani kesepakatan kontrak soal hal-hal pribadi, seperti Handphone atau hak kami untuk beribadah, tidak semua memang, Aku hanya salah satu orang yang tidak seberuntung  teman-teman lain. Thai~thai , menantu dari lansia yang kujaga, memang sangat baik memperlakukan Aku selama Aku ikut mereka, hanya soal satu ini Mereka sama sekali enggan memberiku toleransi, sebubuh tanda tangan di atas materai tentang peraturan satu ini selalu dia ingatkan , setiap kali Aku mencoba mengusik hak rohaniku.

“kamu masih mau kerja di sini kan , Anna ? Kalau mau , tolong ikuti peraturan rumah kami , kalau tidak , terpaksa kami harus mengembalikanmu pada egent . "

Aku menunduk , lemah , serasa menjadi pandir seketika.

“kamu fikirkan baik baik Anna ! Selama ini kami perlakukan kamu dengan baik , kan?  Hanya untuk satu ini saja kami tidak memperbolehkanmu , tidak boleh ada dua Tuhan dalam rumah kami . "

Gemulai tangan lembut Thai-thai meringkas mukenahku .menatapku lagi , kali ini dengan tatapan lebih lunak , seraya berkata , "cepatlah kembali kekamar Sudah waktunya Ama minum susu . Kita bicarakan lagi soal ini besok ."

Diam... Kata orang bijak lebih berharga dari sekuintal emas sekalipun .Tapi diam kadang bisa jadi hanya sebagai penanda , betapa lemah dan kerdilnya keimanan kita . Betapa pengecutnya sikap kita ketika menghadapi satu keadaan yang membuat kita tersudut dan tak berkutik.

Malam ini Aku kembalu tak dapat tidur. Badai dan angin dingin mengamuk lebih dahsyat dari semalam kemarin . Tapi seperti biasa , badai itu hanya berani kisruh di hati.

Benakku sedang sibuk mengeja makna kata pulang . Tempat di mana bisa kuletakkan segala nestapa yang sekarang ini sedang kurasakan.


Ya pulang !! Berhenti dan melupakan semua cita-cita dan tekad awal saat pertama kali aku nekat memutuskan menjadi tenaga kerja wanita ke negri langit ini . Rumah mungkin adalah pelipur satu-satunya untuk airmataku saat ini.

Mataku menerawang , menggumuli langit langit kamar. 


Seperti yang pernah bunda katakan dulu , saat melepasku pergi , "Harus ada titik untuk Kau berhenti mengembara  , An. Bunda tidak ingin Kamu selamanya di luar sana."


Mungkin ini saat yang tepat ? Saat yang bijak untuk berhenti dan meletekkan semua letih tak terhingga ini ?

Ku hela nafas , berat sekali , terbayang percakapan dengan Putri semata wayangku beberapa hari kemarin.

"Ibuu,,,, Widya kalau lulus SD  mau masuk pesantren boleh ya ,, ? " Suaranya  manja dan riang, Tiga bulan lagi Dia akan menyelesaikan sekolah dasarnya , dan harĂ¹s melanjutkan ke tingkat menengah , bukan biaya sedikit untuk memenuhi keinginannya masuk ke sebuah pondok pesantren terkenal di kota Kami . Sejak usia taman kanak-kanak Dia bercita-cita ingin menjadi seorang Guru , terutama guru agama . AH! Sedang apakah dia sekarang ? Pukul sepuluh waktu indonesia , pasti dia sudah terlelap , membawa semua harapan masa depannya .

"Anna , gendeng bagian dapur dan kamar mandi rumah kita ambruk , sudah rapuh kayu-kayunya , perlu segera di perbaiki  butuh sekian juta untuk itu . " Yang ini suara bapak , ketika mereka bicara lewat telpon minggu kemarin . 

“Dian sudah waktunya cuci darah dan ambil obat lagi , Ann“ itu tangisan Bunda juga minggu kemarin , "setidaknya kita harus ada pegangan lima jutaan , "

Aku makin meringkuk seperti udang yang siap di rebus ,  Dengan mata nyalang dan otak makin ribut serta kacau , tanganku erat menggenggam tasbih mungil pemberian Ari , sahabatku yang lebih dahulu kembali ke tanah air . Ini satu-satunya barang rohaniku yang tidak berhasil disita Thai-thai untuk diserahkan pada egent tadi siang . Aku menyembunyikannya di bawah kasur Ahma , 

Kata pulang sepertinya harus kembali mental entah ke sisi mana , bukankah hidup itu berarti kita harus berjuang dan menjalani apa yang ada di hadapan kita tanpa mengeluh ? meskipun itu bukan sesuatu yang ingin kita pilih ?

Detak jam menembus angka pukul tiga dini hari , dan belum ada tanda-tanda mataku akan terpejam , bahkan makin banjir oleh airmata.

Bolehkan Aku merasa Lelah , Bunda ? Aku makin meringkuk seperti udang rebus siap santap.

Perjalanan...Mungkin ini saatnya aku kembali memilih...atau diam...saja mengunyah segala bara keparat ini ?? Tapi sampai ia berakhirpun tak ada yang bisa kupilih.

Revisi chiayi city 15 september 2018

Dedikasi buat semua pekerja dan calon pekerja  domestik di luar negri, khususnya di aspac .cerita ini Hanya fiktif , tapi semoga bisa menjadi semacam inspirasi , renungan dan bahan untuk bersyukur saat kita tidak di hadapkan pada kesulitan seperti tokoh dalam cerita ini,
Ingat!!!nikmat terbesar selain nikmat sehat itu adalah nikmat iman dan keleluasaan untuk menjalankan kewajiban kita sebagai muslim,yang punya kesempatan seperti itu, manfaatkanlah sebesar besarnya,,semoga allah senantiasa mempermudah segala langkah kita sampai finish kontrak aamiin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar