Kepada kenangan pertama
Aku telah memanggil sebuah kesunyian.Lalu ku tambatkan Ia di tepi peradaban waktu,kujadikan prasasti sejarah perawan hati.cinta yang pernah mekar bak bakung di tengah musimnya, perlahan menguncup meski penghujan belum lagi benar benar mengusaikan tugasnya.
Terlalu Tiba-tibakah? Mendadak engkau telah menjadi pusara di lahan pemakaman ingatanku.Tidak pernah benar benar berdiam ,meski belum juga bisa ku sebut pergi.
Bayangmu masih seperti denyaran gerimis, yang tiap kali datang, selalu saja menampar nampar kaca jendela kamarku,meninggalkan jejak embun di sana. Persis suasana hatiku tiap kali aku mulai mengingatmu kembali.Dan segala hal yang pernah terjadi antara kita.
Ada satu ingatan begitu rapi tersimpan di lembaran memori hatiku
Sore itu menjelang senja, usai hujan menunaikan tugasnya membasahi kota kita.Sisa-sisa airnya membentuk genangan pada lubang-lubang aspal yang sepertinya di biarkan merana oleh dinas pekerjaan umum kota kita.
Saat kita diam bersisian , asyik membelah sisi jalan dengan langkah kita. Ikut melengkapi udara sejuk petang menjelang senja , jarang jarang bukan ? Sejuk menyapa kota kita yang terkenal gersang dan panas .
Aku selalu ingat, bagaimana caramu tertawa, bagaimana caramu mengerling ,atau bagaimana caramu meraih lenganku, hanya untuk bertukar posisi agar aku tidak terciprat kubangan air yg terlindas dari lalu lalang mobil.
”Yakin lu mau jalan sampe mester del, ?”
Bahkan Aku selalu ingat nada tanya di suaramu, mengusik kebiasaanku setiap kali kita selesai mengunjungi bioskop kecil di sudut perempatan sana. Aku selalu memilih berjalan kaki menuju terminal angkot yang nota bene letaknya lumayan jauh dari tempat kita menonton film.
”Mending naek 06 aja ya? Terus nyambung 54 deh."
Selalu begitu saranmu, Aku pasti akan menggeleng kuat-kuat untuk menolaknya.
Seperti yg sudah-sudah, kamu akan mengalah, ikut membarengi langkahku menyusuri sepanjang trotoar ,dengan pemandangan bangunan tua di kiri kita, dan bangunan modern di kanan kita, kontras tapi aku selalu suka dan menikmatinya,
Seperti aku menikmati setiap kebersamaan kita yang seperti ini.Pelan- pelan mengeja langkah .Sambil berharap dalam hati, semoga hal seperti ini tak akan pernah habis dan berakhir hingga kita berumur puluhan nanti.
Hari ini ingatanku kembali kesana. Pada bioskop tua itu, pada jalan jatinegara barat di senja hari.Pada gegas kesibukan para pengendara motor atau mobil.Semua terkumpul manis dan utuh malam ini, Saat gerimis rapat datang menampar nako jendela kamarku, ada embun di permukaan kacanya ,dan juga di kedua pupil mataku.
Aku telah memintal kenangan itu.Merajutnya perlahan menjadi syal penahan dingin serta sunyi.Semua ku lakukan tiba-tiba,tanpa persiapan sedikitpun agar hatiku tidak terpuruk seperti sekarang.
Bagaimana tidak? Harusnya kisah kita tidak berakhir seperti ini,bukan? Sedikitpun sikap dan lakumu tidak menunjukkan kalau semua hanya disiapkan untuk menjadi sepotong kenangan yang mungkin akan kutangisi sampai berabad-abad kedepan.
Semua terlalu tiba-tiba. Indah berubah menjadi petaka , mawar mekar menjadi ranggas berguguran, penghujanpun mendadak kemarau, saat begitu tiba-tiba kau uraikan nestapa, bahwa ada cerita lain yang harus terselip.di antara cerita kita yang semestinya sudah lebih dari sempurna.
Kadang aku berfikir fatal, alangkah tidak adilnya tuhan padaku.Aku yang pertama mengenalmu, aku yang pertama menjadi kisah cintamu, aku yang pertama menjadi tiap alasan kamu tersenyum dan bahagia, lalu kenapa harus dia yang menjadi orang terakhir untuk melengkapi puzzle kehidupanmu? Apapun alasannya, rasanya tidak adil,
Tapi sudahlah!
Aku telah memilih. Memilih takdir itu berjalan antara kita, bukankah menentang takdir sama artinya kita menentang sang pembuat takdir?
”Tidak bisakah kita tetap seperti ini, Del...?”
”Menjadi bayang bayang antara lu dan dia?"
Itu percakapan kita di sela kabut malam. Sengaja kau pencilkan diri kita dari keramaian teman yang lain.Agar bisa berbagi tangis? Atau sekedar bisa bebas menegaskan permohonanmu?
”Sampai kapan,Wan?" Tuntutku
“Sampai gue bisa memilih" Matamu menyiratkan sakit
Whatt?
Tak ada yg lucu.Kamu tidak sedang bercanda seperti kebiasaanmu,tapi toh aku tertawa juga.Tepatnya merasa perlu tertawa kencang agar buyar segala serapah yang ingin kubuang dari celah bibirku. Aku tak ingin ada makian di antara cerita kita yang telah kacau ini.
“Lu yakin gue bakal ngebiarin lu memilih..?" Toh aku tak bisa menyembunyikan nada pahit dari suara yang berusaha ku tekan sedatar mungkin.
Kamu tahu betul bagaiamana sifat keras kepalaku. Rentang waktu tujuh tahun telah lebih dari cukup untuk saling mengenal. Meski di antaranya kerap kita buang dengan perpisahan.
”Terus mau lu bagaimana, Del?"
Iwan yang selama ini ku kenal super periang, iwan yang selalu berhasil memecahkan suasana beku di manapun dan dengan siapapun kita berkumpul. Malam itu seperti lembaran kertas buram.Tanpa ada warna lain selain kelabu kehitaman.Dan rona putus asa di mata almondmu.
Membiarkan diam tergantung di antara hela nafas itu menyesakkan.Tapi rasanya jauh lebih menyesakkan jika aku harus lontarkan juga isi bathin ini. Karena aku tahu tahu betul apa yang akan kupatahkan sesudahnya. Hati dan kehidupanku sendiri.
”Jalanin apa yg harus lu jalanin." Keluar juga suaraku, kacau bercampur amarah dan tangis. "Lu harus nikahin dia? Demi ibu lu? So nikahi dia. Dan semoga kalian bahagia after ever."
Palu telah kuketuk atas nama pengadilan hatiku sendiri. Seperti menyambut gempita kekalahanku, guruh di luar sana berdentum riang, kilat menari nari, hanya aku yang luruh, berusaha mati-matian menyudutkan air mata ke tempat seharusnya dia ada. Dalam hati.
Bukan begini seharusnya tuhan menggariskan alur cerita cinta pertamaku.
Tuhan pernah membiarkanmu datang dari negri para peri. Membawa kuntuman rasa pertama yang tersuguh manja pada gerbang awal remajaku.
Tuhan timbul tenggelamkan kisah kita hingga tak lagi jelas setiap episodenya.kita ada tapi tak ada.kita berpisah tapi selalu terus saling mencari.
Atau akukah yg selalu bodoh memperlakukan setiap kesempatan untuk menyangkarkan perasaan kita.?
Atau memang sejatinya aku dikalahkan oleh nasib? Karena aku tidak terlahir di suku dan keyakinan yang sama sepertimu?
Berulangkali semua perbedaan itu membuat kita saling pergi menjauh.Dan atas nama cinta kita kembali terus saling mencari.
Sampai akhirnya dia hadir di tengah kisruh cerita kita. Dia yang lebih segalanya dariku. Dia yang katamu begitu sabar menunggu hatimu terbuka dan berkata iya untuk kisah kalian. Dia yang tidak urakan sepertiku. Yang paling penting, Dia yang berhasil merebut simpati ibumu karena kalian berasal dari tempat ,kasta,dan keyakinan yang sama . Eugh!
Malam itu aku merangkai sepi. Meraba tiap embun di kaca jendela kamarku.Aku telah memilih.Memilih takdir itu berjalan di antara kita.Memilih membiarkan langit runtuh di atas kepalaku. Dan gelap abadi menyungkup hari-Hariku.
Malam itu, malam pertamamu bersama dia.wanita yang kau bilang mampu menjinakkan keliaran hatimu.Ini juga akan jadi malam pertamaku, sayang.Malam pertama kumulai sesalku tentang kamu
Jangan tanya bagaimana aku akan menghabiskan hari-hari sesudah ini.Mungkin akan kuteriakan serapah ini kesegala arah.Meski itu hanya sebentuk makian kecil yang kotor. Atau akan ku benamkan diriku dalam-dalam pada kubangan asap dan air setan.Entahlah
Yang kutahu pasti, Aku hanya ingin tahu cara melupakanmu dengan manis setelah itu. Aku hanya ingin mengerti bagaimana aku bisa ikhlas melepasmu untuk gadis lain.
Ya, hanya itu dan sesederhana itu.
Sepuluh tahun sejak hari itu, Tak pernah sekalipun aku punya keberanian untuk kembali ke Kota kita. Hanya ingatan tentangmu terus meraja, memintal seribu andai, menahan hatiku untuk tetap tabah dalam kesendiriannya.
Andai saja Tuhan mengizinkan satu pertemuan lagi untuk kita, Apakah cerita akan berganti alur tentang kita?
Jawabnya pastilah entah
Mailiau township 7 November 2013