Selasa, 31 Juli 2018

Lelaki antah berantah

LELAKI ANTAH BERANTAH
By   Lena Pamungkas

Mabukmu mengerikan
Menghisapku pada emosi paling api
Merentakku pada lubang gelap tak bersisi
Kau mabuk,aku lenyap dalam pusaran udara

Liarku beringas, berlompatan kata tak berujar
Tolong jangan lagi kau gegas lava di dada
Pecahkan saja botol itu
Bersama api dan isinya

Ayo sini kita berdamai
Jangan hirau belati kanan kiri
Cukup Tentang kita
Aku dan kamu

Menghitung bintang

Cc 15 Juni 2018

Minggu, 29 Juli 2018

RUANG

Untukmu kekasihku
Yang menantiku
Untukmu aku menantimu
Ternanti selalu
Dinanti kapanpun

Penantian adalah ruang
Di mana rindu menjadi satu satunya
Perisai kesabaran
Genggamlah sekuat kepal

Aku akan menunggu
Saat matahari datang untukku
Aku akan bertahan meski pilu
Saat kau datang menjemput cumbu

Mengaitkan janji kalbu
Pada sepasang cincin bermata biru
Dan ruang putih beraroma buhur
Tempat hati membaur bersama syahdu

#ASK

Cc 30 juli 2018

MY TRIP

Ingin memetik rembulan
Ia datang diam diam di tepi malam
Tetiba diri merasa dikejar penanggalan
Sebelum sempat bintang terhantar ke sisinya

Apa kabar segala kenangan
Kemarin telah terlipat rapi dan tersimpan
Matahari siang,esok dan lusa
Sinarnya akan lebih menyengat

Siaplah mengarang bersama bebatuan garang..
Jangan pernah bertanya bagaimana
Atau mengapa bahkan kapan
kamu tetaplah menjadi kamu yang sama

Sumpah
Ingin menghidu ribuan wangi kemuning
Sambil menyesap kopi dan camilan pagi
Membentang koran hari ini

Ah
Sabarlah penanggalan
Tenanglah
Nikmati saja hidangan di depan mata

Nanti lusa
Kamu akan juga membuka jendela
Di subuh hening beraroma bunga mawar
Warnanyaputih bercampur merah
Tak lupa serumpun lili di sudut halaman
Ikut menemani matahari dan penghujan

Ayo Berdansa memeluk awan
Dan tolong jangan ucapkan lelah
Buang saja pada keranjang sampah
Seperti kemarin membuang semua luka

Pesalakan cirebon 27 oktober 2016

Proklamasi tanpa aklamasi

Negri terindah
Tempat tertumpah segala angan masa tua
Tempat tergayut selaksa mimpi  keluarga
Rahayu gemah ripah surgawikah?

Aku belum punya pekik merdeka
Bagaimana aku bisa merdeka
Jika jiwaku terperangkap
Entah di dimensi mana

Pekikkan saja kata maafku
Kau darahku
Kau tulangku
Kau kecintaanku
Kau carutku
Kau juga marutku

Maaf
Jangan paksa aku berteriak merdeka
Merdekaku adalah hening dan kerontang
Gersang lalu meradang

Tunduk saat terkenang mereka yg telah pergi dalam hitungan abad
Pergi untuk menanam benih merdeka
Bagi nusa pertiwi tercinta

Mereka damai terlelap
Tanpa mengerti lagi di atas sana
Tanah yang dulu mereka tebus dengan tumpahan darah
Entah berbilang menjadi apa

Merdeka nyatanya
Bukan milik kami para marginal
Merdeka nyatanya
Hanya milik tikus-tikus pengerat sukma

Bahkan ketika teralis memasung raga
Mereka nyinyir dalam serapah merdeka
Prodeo bintang lima
Lalu bagaimana aku ikut merdeka

Pesalakan

17 agustus 2016

SENJA

Perawan ayu termangu di tepi karang
Menatap ufuk mulai temaram
Bibir ranum berdecak suram
Ia heran mengapa langit belum juga runtuh menimpaKetukan menit datang berjingkat
Di sisinya semburat jingga ikut menyapa
SENJA
Warna syahdunya adalah kenangan
Tempat ia khatamkan rasa kalbu nan larang
SENJA
Sapuan angin lembutnya adalah ingatan
Akan wajah tanpa rupa
Pandangan tanpa netra
Namun hadirnya tegas berada
SENJA,,,,
kepingnya nan indah adalah keabadian
Ia lebih dari sekedar kata singkat
Lebih sunyi dari sekedar makam makam tua
Namun pasti terukir lengkap di jiwa
Segala rasa atas nama cinta
Biar karam namun kudusnya tak akan lekang

Perawan Ayu duduk sunyi di tepi malam
Pipi merona semburat tangis berulam duka
Baru saja Senja terlepas dengan kobaran amarah
Telah ia taruh kedunguan hakiki pada sayapnya

Beribu purnama datang pergi mengantar senja

Perawan Ayu tak putus harap dalam seloka harap

Mencari patahan senja nya yang pertama

Saat seorang lelaki datang

Membawa mawar dan sekuntum surga

Mailiau  township

26 Februari 2013

Sabtu, 28 Juli 2018

YANG TAK TERLUPAKAN

Kepada kenangan pertama

Aku telah memanggil sebuah kesunyian.Lalu ku tambatkan Ia di tepi peradaban waktu,kujadikan prasasti sejarah perawan hati.cinta yang pernah mekar bak bakung di tengah musimnya, perlahan  menguncup meski penghujan belum lagi benar benar mengusaikan tugasnya.
Terlalu Tiba-tibakah? Mendadak engkau telah menjadi pusara di lahan pemakaman ingatanku.Tidak pernah benar benar berdiam ,meski belum juga bisa ku sebut pergi.

Bayangmu masih seperti denyaran gerimis, yang tiap kali datang, selalu saja menampar nampar kaca jendela  kamarku,meninggalkan jejak embun di sana. Persis suasana hatiku tiap kali aku mulai mengingatmu kembali.Dan segala hal yang pernah terjadi antara kita.

Ada satu ingatan begitu rapi tersimpan di lembaran memori hatiku

Sore itu menjelang senja, usai hujan menunaikan tugasnya membasahi kota kita.Sisa-sisa airnya membentuk genangan pada lubang-lubang aspal yang sepertinya di biarkan merana oleh dinas pekerjaan umum kota kita.

Saat  kita diam bersisian , asyik membelah sisi jalan dengan langkah kita. Ikut melengkapi udara sejuk petang menjelang senja , jarang jarang bukan ? Sejuk menyapa kota kita yang terkenal gersang dan panas .


Aku selalu ingat, bagaimana caramu tertawa, bagaimana caramu mengerling ,atau bagaimana caramu meraih lenganku, hanya untuk bertukar posisi agar aku tidak terciprat kubangan air yg terlindas dari lalu lalang mobil.

”Yakin lu mau jalan sampe mester del, ?”

Bahkan Aku selalu ingat nada tanya di suaramu, mengusik kebiasaanku setiap kali kita selesai mengunjungi bioskop kecil di sudut perempatan sana. Aku selalu memilih berjalan kaki menuju terminal angkot yang nota bene letaknya lumayan jauh dari tempat kita menonton film.

”Mending naek 06 aja ya? Terus nyambung 54 deh."

Selalu begitu saranmu, Aku pasti akan menggeleng kuat-kuat untuk menolaknya.
Seperti yg sudah-sudah, kamu akan mengalah, ikut membarengi langkahku menyusuri sepanjang trotoar ,dengan pemandangan bangunan tua di kiri kita, dan bangunan modern di kanan kita, kontras tapi aku selalu suka dan menikmatinya,

Seperti aku menikmati setiap kebersamaan kita yang seperti ini.Pelan- pelan mengeja langkah .Sambil berharap dalam hati, semoga hal seperti ini tak akan pernah habis dan berakhir hingga kita berumur puluhan nanti.

Hari ini ingatanku kembali kesana. Pada bioskop tua itu, pada jalan jatinegara barat di senja hari.Pada gegas kesibukan para pengendara motor atau mobil.Semua terkumpul manis dan utuh  malam ini, Saat gerimis rapat datang menampar nako jendela kamarku, ada embun di permukaan kacanya ,dan juga di kedua pupil mataku.

Aku telah memintal kenangan itu.Merajutnya perlahan menjadi syal penahan dingin serta sunyi.Semua ku lakukan tiba-tiba,tanpa persiapan sedikitpun agar hatiku tidak terpuruk seperti sekarang.

Bagaimana tidak? Harusnya kisah kita  tidak berakhir seperti ini,bukan? Sedikitpun sikap dan lakumu tidak menunjukkan kalau semua hanya disiapkan untuk menjadi sepotong kenangan yang mungkin akan kutangisi sampai berabad-abad kedepan.

Semua terlalu tiba-tiba. Indah berubah menjadi petaka , mawar mekar menjadi ranggas berguguran, penghujanpun mendadak kemarau, saat begitu tiba-tiba kau uraikan nestapa, bahwa ada cerita lain yang harus terselip.di antara cerita kita yang semestinya sudah lebih dari sempurna.

Kadang aku berfikir fatal, alangkah tidak adilnya tuhan padaku.Aku yang pertama mengenalmu, aku yang pertama menjadi kisah cintamu, aku yang pertama menjadi  tiap alasan kamu tersenyum dan bahagia, lalu kenapa harus dia yang menjadi orang terakhir untuk melengkapi puzzle kehidupanmu? Apapun alasannya, rasanya tidak adil,

Tapi sudahlah!
Aku telah memilih. Memilih takdir itu berjalan antara kita, bukankah menentang takdir sama artinya kita menentang sang pembuat takdir?

”Tidak bisakah kita tetap seperti ini, Del...?”

”Menjadi bayang bayang antara lu dan dia?"

Itu percakapan kita di sela kabut malam. Sengaja kau pencilkan diri kita dari keramaian teman yang lain.Agar bisa berbagi tangis? Atau sekedar bisa bebas menegaskan permohonanmu?

”Sampai kapan,Wan?" Tuntutku

“Sampai gue bisa memilih" Matamu menyiratkan sakit

Whatt?
Tak ada yg lucu.Kamu tidak sedang bercanda seperti kebiasaanmu,tapi toh aku tertawa juga.Tepatnya merasa perlu tertawa kencang agar buyar segala serapah yang ingin kubuang dari celah bibirku. Aku tak ingin ada makian di antara cerita kita yang telah kacau ini.

“Lu yakin gue  bakal ngebiarin lu memilih..?" Toh aku tak bisa menyembunyikan nada pahit dari suara yang berusaha ku tekan sedatar mungkin.

Kamu tahu betul bagaiamana sifat keras kepalaku. Rentang waktu tujuh tahun telah lebih dari cukup untuk saling mengenal. Meski di antaranya kerap kita buang dengan perpisahan.

”Terus mau lu bagaimana, Del?"

Iwan yang selama ini ku kenal super periang, iwan yang selalu berhasil memecahkan suasana beku di manapun  dan dengan siapapun kita berkumpul. Malam itu seperti lembaran kertas buram.Tanpa ada warna lain selain kelabu kehitaman.Dan rona putus asa di mata almondmu.

Membiarkan diam tergantung di antara hela nafas itu menyesakkan.Tapi rasanya jauh lebih menyesakkan jika aku harus lontarkan juga isi bathin ini. Karena aku tahu tahu betul apa yang akan kupatahkan sesudahnya. Hati dan kehidupanku sendiri.

”Jalanin apa yg harus lu jalanin." Keluar juga suaraku, kacau bercampur amarah dan tangis. "Lu  harus nikahin dia? Demi ibu lu? So nikahi dia. Dan semoga kalian bahagia after ever."

Palu telah kuketuk atas nama pengadilan hatiku sendiri. Seperti menyambut gempita kekalahanku, guruh di luar sana berdentum riang, kilat menari nari, hanya aku yang luruh, berusaha mati-matian menyudutkan air mata ke tempat seharusnya dia ada. Dalam hati.

Bukan begini seharusnya tuhan menggariskan alur cerita cinta pertamaku.
Tuhan pernah membiarkanmu datang dari negri para peri. Membawa kuntuman  rasa pertama yang  tersuguh manja pada gerbang awal remajaku.
Tuhan timbul tenggelamkan kisah kita hingga tak lagi jelas setiap episodenya.kita ada tapi tak ada.kita berpisah tapi selalu terus saling mencari.
Atau akukah yg selalu bodoh memperlakukan setiap kesempatan untuk menyangkarkan perasaan kita.?
Atau memang sejatinya aku dikalahkan oleh nasib? Karena aku tidak terlahir di suku dan keyakinan yang sama sepertimu?
Berulangkali semua perbedaan itu membuat kita saling pergi menjauh.Dan atas nama cinta kita  kembali terus saling mencari.

Sampai akhirnya dia hadir di tengah kisruh cerita kita. Dia yang lebih segalanya dariku. Dia yang katamu begitu sabar menunggu hatimu terbuka dan berkata iya untuk kisah kalian. Dia yang tidak urakan sepertiku. Yang paling penting, Dia yang berhasil merebut simpati ibumu karena kalian berasal dari tempat ,kasta,dan keyakinan yang sama . Eugh!

Malam itu aku merangkai sepi. Meraba tiap embun di kaca jendela kamarku.Aku telah memilih.Memilih takdir itu berjalan di antara kita.Memilih membiarkan langit runtuh di atas kepalaku. Dan gelap abadi menyungkup hari-Hariku.

Malam itu, malam pertamamu bersama dia.wanita yang kau bilang mampu menjinakkan keliaran hatimu.Ini juga akan jadi malam pertamaku,  sayang.Malam pertama kumulai sesalku tentang kamu

Jangan tanya bagaimana aku akan menghabiskan hari-hari sesudah ini.Mungkin akan kuteriakan serapah ini kesegala arah.Meski itu hanya sebentuk makian kecil yang kotor. Atau akan ku benamkan diriku dalam-dalam pada kubangan asap dan air setan.Entahlah

Yang kutahu pasti, Aku hanya ingin tahu cara melupakanmu dengan manis setelah itu. Aku hanya ingin mengerti bagaimana aku bisa ikhlas melepasmu untuk gadis lain.
Ya, hanya itu dan sesederhana itu.

Sepuluh  tahun sejak hari itu, Tak pernah sekalipun aku punya keberanian untuk kembali ke Kota kita. Hanya ingatan tentangmu terus meraja, memintal seribu andai, menahan hatiku untuk tetap tabah dalam kesendiriannya.

Andai saja Tuhan mengizinkan satu pertemuan lagi untuk kita, Apakah cerita akan berganti alur tentang kita?

Jawabnya pastilah entah

Mailiau township 7 November 2013

Kamis, 26 Juli 2018

WUZZZ

WUZZZZ

by : Lena Pamungkas

Jika kau pikir aku cuma si jalang
Dan kau hendak melenggang pulang
Membungkus segalanya menjadi kenangan
Maka kupersilahkan tuan pulang
Bungkuslah baik baik semua ingatan
Seberapa banyak penjelasan
Tak akan pernah penuh dipengertian
Hidup telah bercerita banyak tentang kekalahan
Sampai aku tak mampu lagi membedakan
Mana hitam mana putih hanya serupa angan-angan
Aku memutuskan diam entah menunggu entah ikut menghilang
Semua akan sama saja tinggal menjadi bayangan

#DISPOINTED

Cc 26 Juli 2018

Selasa, 24 Juli 2018

SEMILIR

Mati tiada keranda
Terbujur tiada makam
Hanya Jiwa melayang liar
Menjadi hantu sebelum raga berpulang

Riuh angin menabuh gerimis congkak
menaburkan ribuan kantil dan kenanga
Memahat aksara pada nisan udara
Telah berpulang seluruh ketegaran

Daun daun kamboja waktu gugur melayang
Menikam tepat pada jantung ingatan
Hingga tiada sisa tetes tetes darah pengharapan
luka ini adalah luka peradaban nan teramat purna

Sekarang aku hanya meminta keranda
Tempatku sauh segala muak bangkai nestapa
Usunglah ia dengan tangan tangan kalian
Gali juga ku satu makam untukku bersemayam
Tempat ku kubur sejuta petaka yang telah tercipta

Tak ada lagi yang ingin kubuat
Aku lelah menunggu indah kembali pulang
Baiknya ku usaikan saja lekas sajak sajak mimpi kehidupan
Toh, Hantu tak perlu lagi romansa ,bukan?
Baiklah,kubur aku dalam tanah merahmu,teman

Tapi oh tapi, mengapa
Jiwaku masih bertengger manis pada raganya
Seperti sinta bermanja pada sang rama
Tidak mengertikah ia
Kehidupan dan kematian dua hal yang asburd untukku sekarang
Aku hanya ingin berpulang,menjemput petang di ujung nirwana

Jiwa berbisik lirih perlahan
Jangan pernah terlupa sayang
Bahwa jiwamu ini bukan engkau pemiliknya
Jualah ALLAH penggenggam waktu kapan tiba
Jualah bunda serta nanda rantaimu tuk' kuat memijak

Aku akan tetap mesra menyandingmu sampai akhir duhai Raga
Jangan lagi meminta keranda pun makam
Ia adalah kepastian setiap jiwa
Nikmati saja detik_detik busuk milik kita

Aku terdiam
Semilir angin datang dari ujung ingatan
Harum bedak bayi nanda
Teduh lantun zikir bunda nun di sebrang samudra
Dua nafas tempat lelah berpulang

#dedikasi_for_emak_dan_Za_
#thanks_alot_always_to_be_my_soul

Mailiau township taiwan

11 april 2013

BARISAN LEKANG

BARISAN YANG LEKANG

By: Lena Pamungkas

Aku membatu, memang
Keras
Bebal
Tanpa warna
Selain abu dan pekat
Kita kelar
Ya sudah kelar
Mau apa lagikah?
Ku pikir lebih dari lelah
Berjalan
Berlarian
Di tempat yg sama
Maju tidak
Mundur tidak
Melelahkan bukan
Ayo saling berbalik saja
Ambil arah kita semula
Dan belajar saling melupakan
Sampai hari Kita
Kembali mampu berhadapan
Dengan senyum
Dan jabat tangan seorang teman
Tidak lebih tidak kurang

#kepada_mantan
#pecahan_kristal

Cc 04 April 2018

Sabtu, 21 Juli 2018

IS THIS TRUE?


Semakin tua rindu yg kita punya
Ia akan semakin menjadi tuak terkeras
Yang baru menciumnya saja
Kita akan terbang melayang
Ke alam nirwana

Atau
Bahkan dia malah menjadi fosil?
Mengerak di dasar hati
Lalu membeku
Dengan titik beku yg paling beku

Entahlah kurasa
Sudah terlalu lama
Aku melupakan sebuah rindu

Untuk apa di ingat?
Kalau ia hanya akan
Memberi kita tuak terkeras
Atau fosil terbeku

Tidak
Begini saja
Diam diam aku menatap kahyangan
Menghitung gumpalan kapas putih dengan latar biru

Seperti biasanya
Semua akan menjadi lengang
Senyap
Sunyi

Sebab rindu yg ku punya

Entah pada apa dan siapa

Cc 28 juni 2017

KOPI PAHIT

Kopi pagiku terasa aneh
Mungkin kau taruh sianida di sana, madam?
Atau karena tinjumu lugas menyapa
Memerahkan pipi dan derita

Rahang tertinju kepal rahwana
sebagian kekuatanku berkata
ini sama sekali bukan rintangan
Hanya untaian onak bagi sang pejalan

Sebagian kelemahanku berontak resah
Liar memagut amarah
Kepalpun siap meronai angkara
Sebab Aku manusia meski kau pandang dina
Tak sepatutnya tinjumu mampir menyapa

Lalu ada tinju lain menerjang
Tepat di sini, di hulu nurani yang terlupa
Tentang raahiim,tentang rahman
Dan burai udara terhirup pada tiap detik nafas
Cukuplah ALLAH tempatmu melarung gelisah
Sampai kau temukan titik jawaban

Di antara hening bersulam air dari mata
Seraya netra merabai ujung cahaya
Semoga perjalanan ini lekas usai
Lalu ku temukan secangkir kopi tanpa rasa aneh tersisa

Cc 20 07 2018

#second_insomnia

Kamis, 19 Juli 2018

GHIBAH


Telunjuk-telunjuk anyir berserakan seputarku
Usai bibir gincu berjubah tebal merapal mantra
Lelehan merah serupa darah
Sisa makan malam sang Burung bangkai
Dia menyeka giginya
Juga semerah darah

Aku kenyaaaangg
Lolongnya sambil terus memangsa bangkai tubuh yang lain

Bau anyir menguar dari sabdanya
Lantunan murotal terbenam karam
Oleh genangan darah
Yang barusan dagingnya Ia cabik

Cc 20 07 2018

TUAN,,,KAMU BAGAIMANA?

Tuan, kamu bagaimana?

Lena Pamungkas

Sisa kopi semalam tak tuntas
Aku gundah
Mereka reka
Palung jiwamu, tuan
Masihkah maharani itu bertahta
Hingga ia sanggup bersabda
Kacaulah kau dengan gundah
Jujur,tuan
Ingin sekali ku warnai cemburu ku
Ku beri renda merah cantik jika perlu
Agar kau paham ia tengah duduk patuh
Menunggu matahari datang mengusir kabut
Dan bisa terlihat jelas palung kalbumu

#lazy_hour_for_start_wake_up
#Ask

Cc 20 07 2018

Rabu, 18 Juli 2018

KERAT SESAL


Wanita tua yang kupanggil Emak
Senyum simpul diantara linangan Darah
Matanya suram menatap kukusan tanak
Jiwanya pilu terpeluk senyap di antara

Terkenang ratusan ribu hari nan silam
Ada hangat di setiap racik cinta yang tercipta
Duluu sekali sebelum prahara pongah melanda
Dan satu persatu kami pergi membawa langkah

Lelaki tua yang ku panggil Abah
Kekarnya ringkih di humbalang senja
Mimpinya karam di cerabik suram
Masa tua hanya penanda getas tertebas lara

Mereka yang ku kerat senjanya tanpa jeda
Ku hujani ribuan duka nasib nestapa
Ku paksa genggam simalakama bertopeng nirwana
Aku pergi , Mak, Bah

ceracauku menggulung damai badaipun singgah
Ratusan ribu purnama kini telah rebah pasrah
Di peluk lelaku waktu dan cerita hampa
Aku gemetar merayapi bilik yang pernah ku jejak

Wanita tua yang ku panggil Emak
Lelaki tua yang ku panggil Abah
Aduhai mengapa bijak nian mereka tetap menyapa
Sementara diri selalu durjana mengepal tantang

Hari ini kota asing ini lengang direjam panas
Aku meleleh lumer tenggelam dalam pora air mata
Ku singgahi simpuh demi rindu pada wajah tua mereka
Tuhan, izinkan waktu bersamaku menebus sesal akan mereka

Cc 19 juli 2018

Selasa, 10 Juli 2018

Sepotong hari di sisi sepi yang lain

SEPOTONG HARI DI SISI SEPI YANG LAIN

Lena Pamungkas

Pak tua masih keukeuh menolak renta
Dia melipat usia sampai ogah terlihat
Malam_malam ditabuh genderang perang elmaut
Big botle kouliang tandas sempurna dalam tiga hari
Pak tua terus juga memaksa amnesia
Atau kuharap lekaslah kau demensia
Matahari pagi dan siang
Laksana cucukan jarum penumpas semangat
Pak tua pun kandas di ujung sofa
Menghitung nafas tidak pergi tidak datang

Cc 11 07 2018

Senin, 09 Juli 2018

REMEMBRANCE

REMEMBRANCE

Lena Pamungkas
(Repost)

Seperti daun daun
Menguning di ujung ranting yg rapuh
Tertiup angin dan luruh
Jatuh ke pelukan bumi

Hujan terlalu lekas datang
Menggulung pelangi dengan kelabunya
Mengaburkan sisa sisa cahaya sore tadi
Mengaramkan manik2 doa sepanjang pagi

Rindu tak lagi bertuan
Asa tak lagi berbilang
Nakhoda kalut mencari bahteranya
Bahkan
Tak juga mengerti
Bahtera telah karam di ujung samudra

Lantas terikat sudah doa doa kemarin itu
Terikat jadi kenangan
Kesungguhan yg terlantar
Kesungguhan yg terbuang
Di bawah kaki takdir

Senyum kini satu satunya pelipur lara
Di kala sepi menyela
Di kala angin kembali meniup
Daun daun kuning di ranting rapuh

Teringat...
Akupun pernah tergantung
Di dahan yg sama
Lalu melayang
Terlupakan.. #KENANGANYGSINGGAHLEWATPOTOMU
#chayi08052017monday
#260294

RESE

RESE

Lena Pamungkas

Aku ingin
Melihat warna cemburumu
Merahkah?
Birukah?
Hitamkah?
Tapi tak kunjung ku lihat
Meski telah  ku badai ketenanganmu
Hai tuan,
Apakah memang
Cerita di hari senja kita
Tak perlu kata cemburu

Chiayi city 08 07 2018

#efek_kena_badai_langsung

Hafiza

kapan terakhir aku memelukmu?
Entahlah
Yang kutahu sepagi ini
Tornado telah sukses meluluh lantak hati dan ketegaranku
Nak!
Kau tahu ada begitu banyak cerita ingin ku bagi
Ada begitu banyak mimpi ingin kucari
Untukmu
Atau untukku
Sama saja ku rasa
Tolong jangan merasa kau seperti papan rapuh
Terpecah sendiri dari bahtera lapuk
Aku di sini meski adaku mungkin bagimu tiada
Aku di sini
Merasakan tiap asin airmata mu
Aku di sini
Tahu betul seperti apa luka kita
Aku di sini adalah kamu
Kancil tertembus peluru angin
Luka abadi kita
Tolong jangan mengoyak kekuatan kita
Bertahan saja nak!
Sampai waktu menyuruh kita untuk menyerah

Kapan terakhir kali aku memelukmu,nak?
Entahlah aku lupa
Mungkin juga sibuk untuk pura pura lupa

Nak! Jangan menangis,Ibu meminta

Sebab lautan dan udara enggan mengabulkan

Tangan tua ini tuk mengusap dukamu sekarang

#Luka_kita_nak

Cc 10072018

Kamis, 05 Juli 2018

ILUSI

ILUSI

Lena Pamungkas

Temani aku begadang kawan
Nikmati potongan malam
Semilir angin barat
Serta pendar sisa purnama

Kantukku terpental entah kemana
Terganti ribuan dengung lebah di penjuru kepala
Apa itu? Kurasa ingatan akan luka
Atau eres_eres rindu yang pernah luap

Ya sudah malam ini kita nyalang saja
Gusah semua tentang beban dan kenangan
Nanti akan ku buatkan puisi cinta
Khusus untukmu sahabat

Agar kau bisa lupakan dia
Lelaki berpeluh anyir darah
Bermata rubah
Lalu esok untukmu akan jadi indah

Tanpa air mata

#sahabat

Chiayi 05 07 2018

Selasa, 03 Juli 2018

TANPA JUDUL

TANPA JUDUL

Lena Pamungkas

Kau tahu?
Kadang iblis suka memakai topeng malaikat
Semata agar culas tak nampak
Lalu sang malaikat
Pasrah melekatkan topeng iblis
Di wajahnya yang teduh bestari
Dan aku
Mencintaimu sang topeng iblis
Tuntun aku dalam keheningan panjang ini
Sampai kita lenyap
Lalu tiba di masa kita saling merekat

Chiayi city 03 07 2018

#setapak_pasti

Minggu, 01 Juli 2018

JANJI HENING

JANJI HENING

(cerpen)

Lena Pamungkas

Malam menua, ada embun terlalu cepat turun, dedaunan gersang musim panas tak mampu lagi menampung tetesannya, ia tumpah,ruah ,luruh di kedua netranya.

Suara detik jarum di jam dinding berdetak monoton, ia adalah gemuruh debar jantungnya yang terwakili.

Di hadapannya, secangkir kopi pahit hitam _yang seharusnya tak boleh lagi mengisi lambungnya_ nyaris setengahnha tandas ia seruput. Sebungkus ld putih _inipun sudah tak layak lagi menyumpal paru parunya_ cepat sekali berubah menjadi puntung, berebut menyesaki asbak hitam.

Kebiasaan super buruk, entah kapan mampu ia perbaiki, seperti hari harinya yang juga selalu ia perlakukan buruk, ia tak pernah bisa memperbaiki segala hal yang telah ia rusak.

Untuk kesekian kali Rin menarik nafas seiring asap congkak bertandang ke paru parunya.secepat itu ia hempas kembali.

Seraut wajah ikut mendusal, memenuhi hampir sebagian besar ruang pikirannya, air matanya kian tumpah laksana puncak penghujan.

"Kei, bersaksilah malam ini," suara nya lirih memantul mantul pada dinding buram kamar petakkan tempat ia menyembunyikan diri," Ini ku kembalikan lagi padamu janji yang dulu pernah kamu taruh di bebanku,"

Malam masih meramgkak memburu dini hari,
Dan Rin masih sibuk dengan obrolannya bersama keheningan.Ah,, bukan keheningan sesungguhnya, ia tengah menyapa Kei seperti biasa, lelaki dari masa lalu yg kini hanya berupa  imaji pendamping sunyi.

Selalu saja ada yang berderak patah tiap kali ia mulai mengingat nama itu. Rasa lelah mendekap harap semu sungguh sukses merejam batinnya hari ini.

Kei, kei, kei, seperti mantra ia langgamkan dengan dua celah bibir gemetar. Berharap dengan begitu sosok yang lebih dari sekedar ia rindukan itu dapat menjelma lekas ,

Tapi seperti biasa, Kei telah lama hilang, sosoknya telah lama hanya menjadi pendar buram di hidupnya,satu satunya yang tersisa hanyalah ingatan akan lelaki bermata almond itu.ingatan yang terkadang membuatnya hilang arah,sesat dan tenggelam oleh rasa kelu dan putus asa.

Tidak malam ini, Rin menAtap nanap kertas merah marun bertinta kaligrafi emas.
Malam ini semua akan tuntas ,kei.
Aku akan buang semua hal.tentang kamu, esok... ku pastikan kamu hanya akan melihat senyumku.Tak akan pernah ku biarkan lagi kau melihat wajahku yang gulita.

Selamat berbahagia kei.Selamat merayakan keberhasilanmu membuatku hancur dan terpuruk.Tapi tenanglah! Seperti kataku tadi, tak akan ku biarkan kau melihat aku hancur.

Esok,Kei ,esok aku akan melangkah tegap menuju altar bahagiamu, esok akan ku tatap wajah sumringah kalian dengan dagu tengadah.
Esok juga adalah hari pertama ku mulai janji heningku ini. Aku akan membuang ingatanku tentang kamu.
Aku akan menjadi aku yang baru.Aku yang hanya punya senyum untuk di pamerkan pada dunia.
Lukaku ? Ah biar saja ia berdarah darah di pojok hati sana. Jangan manjakan ...

Malam tiba di bibir pagi.semburat merah mulai menyapu ufuk timur.
Rin menyeruput sisa kopinya yang tinggal.seteguk, dua batang ld putih tersisa pada bungkusnya, selembar surat undangan pernikahan merah marun terkepal erat di tangannya yang seputih kapas.

Hening menghitung detik, mengantarnya menjadi menit. Lalu menuju jam.

Adzan subuh tak sempat mampir ketelinganya.Namun aneh, ia masih mendengar suara teriakan bunda memanggil namanya, dari ujung langit2 Rin bisa melihat bunda meraung, histeris...
Dan merah bercecer di sekelilingnya ,merah pekat mengalahkan warna undangan pernikahan kei dan seira..

Lalu gelap melabrak,

Chiayi city 27 05 2018

Tommorow you ll only see my smile. I ll forget all about you,,