Wanita tua yang kupanggil Emak
Senyum simpul diantara linangan Darah
Matanya suram menatap kukusan tanak
Jiwanya pilu terpeluk senyap di antara
Terkenang ratusan ribu hari nan silam
Ada hangat di setiap racik cinta yang tercipta
Duluu sekali sebelum prahara pongah melanda
Dan satu persatu kami pergi membawa langkah
Lelaki tua yang ku panggil Abah
Kekarnya ringkih di humbalang senja
Mimpinya karam di cerabik suram
Masa tua hanya penanda getas tertebas lara
Mereka yang ku kerat senjanya tanpa jeda
Ku hujani ribuan duka nasib nestapa
Ku paksa genggam simalakama bertopeng nirwana
Aku pergi , Mak, Bah
ceracauku menggulung damai badaipun singgah
Ratusan ribu purnama kini telah rebah pasrah
Di peluk lelaku waktu dan cerita hampa
Aku gemetar merayapi bilik yang pernah ku jejak
Wanita tua yang ku panggil Emak
Lelaki tua yang ku panggil Abah
Aduhai mengapa bijak nian mereka tetap menyapa
Sementara diri selalu durjana mengepal tantang
Hari ini kota asing ini lengang direjam panas
Aku meleleh lumer tenggelam dalam pora air mata
Ku singgahi simpuh demi rindu pada wajah tua mereka
Tuhan, izinkan waktu bersamaku menebus sesal akan mereka
Cc 19 juli 2018
Tidak ada komentar:
Posting Komentar