Kamis, 30 Agustus 2018

DI PANTAI INI SATU KETIKA

Dipantai ini satu ketika,
Aku tidak akan menyusuri senja seorang diri
Tidak akan menatap semburat sunset seorang diri.
Tidak akan memeluk hasrat sang angin seorang diri.

Satu ketika tangan tangan kita akan saling bertaut
Dan jejak kita pun bergelut bersama pasir yg basah tergumul ombak

Aku bukan sedang menanti sebuah perjumpaan
Anggap saja aku sedang menyusuri takdir,
membiarkan ia berenang renang dan bermain dengan arus nadi hidupku
Seperti yg telah tuhan titah bagi tiap tiap sang kelahiran

Pada akhirnya mungkin
Pantai ini akan menjadi saksi abadi pertemuan kita kembali
Atau bahkan
Hanya sekedar penonton bisu bagi kekalahanku yg lain

Tidak penting bukan???

pantai ini,tetaplah pantai tercinta
Dimana cinta pertama pernah melabuhkan kisah remajanya
Mengumumkan bahagianya
Pada barisan para nyiur
Serta membisikkan rahasianya
Pada kesiur kelopak sang angin

Ketika itu
Dia datang dari barisan masa silam
Singgah
Menetap
Sebelum kembali beranjak ke masa silam
Terkubur bersama buntalan episode para makam

Tetapi
PANtai ini dengan kedamaiannya akan selalu memastikam
Segala musim akan selalu bergantI
Sebagai rotasi yg tercipta

Sendiri
Mencari
Berdua
Sendiri
Lalu hilang...
Berganti lembar

DI PANTAI INI SATU KETIKA..

Aku bukan sedang menanti
Anggap saja aku tengah melihat ke arah sana
Kearah pertemuan kita dengan angin dan senja

Aku dan calon pemimpin bilik bilik surgawiku

Bukan kamu
Bukan dia
Bukan mereka

Ia hanya bernama entah....

Mailiau 12dec2013

Rabu, 29 Agustus 2018

AWANG-AWANG

Selayak pengerat jantung negri
Terkadang kami ribut sendiri
Berjingkrak gelinjang menari
Di atas tangisan anak-anak negri

Bahagia kami terlalu sederhana, teman
Sesederhana daun yang jatuh diterpa    udara
Ketika hasil jerih kami sedikit bergerak sepoin dua poin ke angkasa
Saat itulah waktunya kami tersenyum sedikit lega

Lalu sesudahnya ada sungging ironis
Seraya maaf mengusik lirih
Maaf ya negriku, kami berbahagia dengan cara sendiri
Sementara kau menangis dalam krisis

Tapi kami tak bisa menghentikan bungah kami
Poin-poin dolar melesat ke langit tinggi
Bagi kami hanya satu arti
Bertambah lagi tabungan kami di hari nanti

Saat kami letih menjadi pekerja di negri asing

Cc 30 08 2018

Selasa, 28 Agustus 2018

MEROBEK REMBULAN

Malam berpayung hujan
Rembulan menantang
Di ceruknya berbias
Senyummu ananda

Cc 29 august 2018

Senin, 27 Agustus 2018

TERIMA KASIH (tuan pendongak )

TERIMA KASIH
(TUAN PENDONGAK)

Terima kasih
Hari ini kau buat puan terbahak
Sampai ngacir airmata saking lahap
Badut-badut politik
Masih kalah lucu dengan naifmu

Kata orang bijak
Orang pintar tanpa nurani
Seperti pohon tanpa buah
Sia-sia

Cc 27 august 2018

SISA RASA

Siang menyengat
Aku terdiam
Ruang ini pengap
Hati jauh lebih pengap

Rasanya
Aku butuh jendela usang
Pengantar semilir udara
Juga desir daun-daun mangga

Masih pengap
Aku terlupa
Jendela itu pergi kemarin petang
Bersama sisa-sisa fikiran

Ada yang jatuh kemudian
Dari tubuh,atau hatiku, entahlah
Sepotong selendang pemberiannya
Sekejap basah menyeka lara

Aku sering terlupa
Di antara kami hanya tinggal cerita
Dan sisa-sisa mimpi yang terbuang
Sejak Ia menyunting perawan cadar

Aku sering terlupa
Di antara kami hanya tinggal kenangan
Dan sia-sia janji merangkak pulang
Ia telah sesat pada labirin gelap

Hanya sisa
Tak lebih tak kurang
Padanya kuhimpun masa
Padanya kuhimpun amanah

Aku akan bahagia
Meski bukan dia
Dan sisa-sisa kisah
Cuma akan jadi penggalan

Kepada:260294

Cc 27 august 2018

Jumat, 24 Agustus 2018

SERIBU HENING

Apa
Yang
Menenangkan
Dari
Keheningan
Sehabis
Hujan
Badai
Riuh
Berhari-hari?

Yaitu
Ketika
Kau
Bisa
Menghitung
Satu persatu
Suara
Hatimu

Lalu
Memilahnya
Seperti
Master
Memilah
Kuas
Terbaiknya

Cc 24 august 2018

Selasa, 21 Agustus 2018

AKU TAK (JAWABAN JUDGE )

AKU TAK

(Karya : kusfandiari Abu Nidhat)

Arwed SD Asbonan

Aku tak
Men-judge covermu
Kejalanganmu memang tergambar nyata berkhas
Bukan tak tertulis dzikir
Bukankah kau sendiri yang mengejawantahkan dzikir dengan segala asumsi
Bukan tak ada ayat-ayat surga
Tak sadarkah apa yang ada di dirimu tersimpan agenda surga
Aku yakin kau tak membual

Aku tak
Men-judge covermu
Keburaman bukanlah potretmu sesungguhnya
Jika saat ini yang menampak hanyalah seringai hampa
Tak usahlah kau paksakan wajahmu tersenyum
Bukankah sudah pernah kau katakan
Bahwa pada saatnya kau bakal tersenyum indah
Tertawa sumringah
Bila perlu terbahak-bahak

Sungguh
Aku tak
Aku tak
Aku tak
Tak hendak menata mozaik agar jadi topeng-topeng kepalsuan
Tak hendak mengumbar kata bijak bestari
Tak hendak menyimpan sumpah serapah, apalagi kutukan melaknat

Sekali-kali tidak demikian
Dan ketahuilah, kawan
Kavling surga bukan diperuntukkan bagi tokoh-tokoh yang mengandil ayat-ayat suci belaka
Kavling surga bukan diperuntukkan bagi penghafal dalil-dalil agama, namun sama sekali tidak mengamalkannya
Kavling surga bukan diperuntukkan bagi peluncur nasehat maklumat
Jika telunjuknya mengarah kepada para insan yang tak pernah paham arti hidup dan kehidupan  ini
Biarpun sasàran merasa pedih di hati dan prihatin

Ingatlah, kawan
Sering terjadi dan kita saksikan bahwa
Para pemilik telunjuk lurus
Senantiasa mengacak-acak aurat pihak yang tak mereka suka
Mereka tak berniat menata harmonisasi kehidupan
Bahkan mereka takkan pernah rela jika kehidupan mapan kita
Biarpun kita mesti menyingkir seribu depa

Aku tak
Tak hendak beda pendapat denganmu
Hanya pintaku
Mari kita galang kebersamaan
Cukup jadi saksi-saksi dalam kehidupan ini
Dengan menjaga masing-masing pribadi yang unik ini
Sementara biarkan mereka berkutat dalam ketakharmonisan

Biarkan saja covermu dan coverku terpampang apa adanya
Bukankah sudah pernah kau katakan
Kita kafilah yang baru menempuh separuh perjalanan dunia
Meski setiap saat kita mesti disapa segala macam ras anjing

Kakilangit Tanpa Pelangi, 22 Agustus 2018 M / 10 Dzu l-Hijjah 1439 H Pukul 10.53 AM

Senin, 20 Agustus 2018

ZAMAN FITNAH

ZAMAN FITNAH

congor-congor kosong bernyanyi tong
Kosong-kosong hanya cemooh
Pakailah kalam serumit benang kusut
Maka kun fayakun kau jadi maha guru

Tak peduli kau sumbar cuma petaka
Kau pikir kau mampu menembus langit dengan jumawa?
Ah, teringat aku, nanti kita akan hidup lagi di zaman bahlul
Di mana akhirat dan syariat hanya sekedar cerita

Kadang jadi anekdot agar bisa kau tertawakan dengan pongah
Kadang jadi bajingan agar bisa kau bilang bangsat dengan dada jumawa
Menjijikkan , manusia-manusia lapar merasa diri tercipta dari angin
Memuakkan, jiwa jiwa prikitiw merasa lebih pintar dari kalam illahi

Berlaga einstin membedah segala hal dengan rumus logika
Mencaci hal-hal yang sepatutnya cukup direnungkan dalam dalam
Ampuni aku duhai Rabbii, iyya kana'budu wa iyyaa kana's ta'im
Ghairil maghdubii walaadhoolin

Aamiin

#Selfreminder

Cc 08 2018

Minggu, 19 Agustus 2018

PELUK DIA UNTUKKU ( SEBUAH HATI )

Peluk dia untukku duhai wanita
Yang hatimu telah ia pinang
Yang ragamu telah ia sayang
Yang hidupmu telah ia timang

Cintai dia untukku duhai wanita
Aku yang telah cukup Ia kenang
Berbuntal episode kami terbuang
Demi hadirnya mimpi kalian

Sesajak lara kupintal selaksa duka
Saat hujan ribut memamerkan nestapa
Saat malam hening bertamu rembulan
Jiwaku tumpas dalam ingatan akan dia

Ada yang terpental untuk yang bahagia
Keniscayaan ambigu kudekap hingga lumat
Jikapun aku terpental demi surga kalian
Kapan ingatan sialan ini ikut berpulang?

Hai wanita , yang di pelukmu ada kisah tak berujungku
Tahukah bagaimana dahulu kami meramal angin dan kabut?
Menebarkan beribu kuntum mawar untuk udara subuh
Usai doa terpanjang pada tepi tahajudku

Tahukah kamu berapa lama aku dan dia menjadi kami?
Berayun-ayun ditentang buaian nasib
Timbul lalu tenggelam dilamun kerih
Sampai tamat segala janji

Dan kau hadir membawa bintang
Menjadi indah bagi tiap gelisahnya
Menjadi suar bagi tiap sesatnya
Menjadi dermaga bagi tiap sauhnya

Ada kekalahan yang tak kuasa kupasung dalam kamar gulita
Ia melonjak brutal mengangkangi air mata
Lalu aku terjun bebas kedalam jurang sana
Menamatkan aksara tentang harapan

Hanya ini kutitip di hari kalian
Peluk dia untukku sepenuh jiwa
Agar kelak malam-malam rindu akan dia
Menjadi bukan neraka bagi ingatan jiwa

Cc 20 08 2018

Rabu, 15 Agustus 2018

BERJUANGLAH (BUKAN DUKA)

Lelakiku, besok katanya ibu tanah kita akan merayakan merdekanya, Matahari akan mengalunkan sinarnya yang paling cerlang, angin akan menghembuskan mimpi-mimpi paling riuh , mereka akan berpora dalam pesta paling marak, meski entah berbias morgana atau tidak.

Lelakiku, kita yang terpental jauh dari hiruk semesta, melayangkan kepal tinju sejauh langit angkasa, tetap serupa menebas air beraroma luka. Geliat merdeka ibu tanah kita, euforia kompetisi bertawa ringah, mereka jauh sekali , tak sanggup kukayuh dayung patah untuk sekedar singgah lalu turut menikmati segala pesta rakyat .

Ingatanku tentang secuil lomba kelereng, di lapangan pojok lingkungan rukun tetangga , nun di sudut jatiwaringin, sejatinya itulah merdekaku yang pernah bungah sempurna , belum kukenal lagi aral lintang busuk buana seperti sekarang ini. Ah ! Kuyakin kaupun punya seponggel kenangan tentang merdeka yang lain, merdeka yang manis seperti gulali, di sepojok ruang masa kanakmu,
Manis, bukan? Tidak  segetir seperti sekarang ini.

Apalah kita? Hanya cabikan cerita kecil tentang pejuang keluarga, hanya cuplikan adegan tentang para pengemis waktu yang setiap saat dipaksa menjadi optimis, terus mengingsut , atau kekalahan akan menggulung kita tanpa ampun, jadi akan kulupakan saja soal angan menonton panjat pinang dengan semerbak bunga di dada, ketika kau akan melindungiku dari dorongan massa yang juga ikut menonton, saat ini, mendoaimu terasa lebih penting dari sekedar mimpi romansa yang terasa agak bangsat.

Lelakiku, berjuanglah terus! Setidaknya mengingsutlah terus, jangan berhenti! Jangan menoleh lagi kebelakang , jangan ulangi lagi kekacauan semesta , cukup tekadmu sekepal baja, seperti semangat mereka yang telah rebah terpasung tanah dan masa, dahulu mereka membayar tumpah darah kita dengan darah-darah mereka sendiri, semangat pekik merdeka ada, karena sumbangan tulang dan ruh mereka, ambil saja semangat itu, dan ajak aku suatu hari nanti, menikmati merdeka sepenuh jiwa sepenuh raga.

Bukan sekarang memang, sekarang kita hanya sigila penuh mimpi yang kakinya bengkak terpasung tekad, menjadi marginal sudra, itu bukan kesalahan, anggap saja kita hanya korban dari sistem yang salah berabad-abad. Yang penting kurasa, teruslah berjuang! Jangan tumbang, jangan membuatku menangis dengan kepedihanmu, sepanjat doa kugaungkan ,kutitipkan ke tepi langit sana,

Semoga kau tegar seperti para gerilyawan dulu berjuang, semoga kau kukuh, seperti bambu-bambu runcing dulu, lalu... kita akan sampai juga ke tanah ibu kita, memekikkan merdeka seperti mereka kasta brahmana.

#Kei ni wo te nansen ciayoo

Cc 16 08 2018

Senin, 13 Agustus 2018

HAMBAR

Kamu
Memberi kisah
Aku tertawa bahak
Lalu kumaki dinding tua

Kamu ikat aku katanya
Cinta beraroma dupa
Sementara jeda
Karam

Shitt
Cerita ini
Bulan menggantang mimpi
Kemarauku terbiar menjadi keri

Lepas atau peluk erat
Buang acuh berkarat
Tolong lihat
Kumohon

Lusa
Matahari  buyar
Aku berlalu jua
Kuletakkan lagi mimpi kita

Cc 14 agustus 2018

UNTUNG

UNTUNG

untung aku bukan penulis
Apalagi penyair kelas dewa geni
Untung aku cuma emak-emak
Yang suka salah kasih sen belok arah

Andai aku penulis yang kau anggap kelas kambing
Mungkin Aku sudah nangis terkencing-kencing
Berdarah-darah ini ego dan hati
Ah, terima kasih ya ALLAH
Engkau jadikan aku sebagai emak-emak
Yang kadang sedikit galau plus badan berat

Dengan hobi yang nempel sejak lahir
Orat oret dari kertas sampe bungkus kuaci
Lukas lukis dari tembok sampai tutup panci
Tetap saja semua diam menjadi hobi

Jadi ketika congor-congor buas itu melolong
Aku ya aku tetap sibuk saja dengan hobiku
Biarkan saja mereka ribut menyalak lalu membebek
Merasa diri sudah sampai di ujung awan sana

_Menyesap_kopi_moccaku_dengan_cengiran

Cc 12 08 2018

SAJAK BUAT TUAN PEMILIK NEGRI PENDONGAK

Hei tuan,,
Wajahmu gagah
Namun sayang
Entah dari google bagian mana
Kau comot itu wajah
Kau jadikan topeng
Penghias tambur kecongkakan

Hei tuan yang punya pikir seribu rupawan
Tong kosong selalu berbunyi lebih nyaring
Nurani dangkal pikirmu jumawa
Mahkota otak kuningan kau rasa emas

Pfft,,
Biar Aku tkw nol edukasi dan ijazah
Tapi matAku tak silau lihat pesona
Yang coba kau tebar dengan gaya angkasa

Biar Aku  kasta sudra
Bolehlah kumenilai harga
Mana emas permata
Mana besi tembaga

Hina saja sesuka anda bung!
Cibir saja kami dengan berita hoax kacanganmu
Terlihat nanti kapan-kapan olehmu
Nurani jongkok tak akan tertukar dengan budi luhur

Tuan di negri pendongak
Sungkan  melirikku sebagai manusia
Aku lebih dari sungkan
Menatapmu sebagai seseorang

#GAHAR_MODE_ON

chiayi 04 07 2018

LELAKI BERBIBIR PERIGI

Lelaki berbibir perigi

Di tepimu beling menancap congkak
Timbamu bertuba kala
Banyumu keruh bermuat serapah
Otakmu pilu bermakam bijak

Dan aku hanya sanggup mendesah kesumat
Lelaki berbibir perigi
Mendulang air dari mata kami
Memerah perih dari hati kami

Percayalah!
Aku pernah bernaung neraka
Ketika kupaksa rusukku bersambung
Dengan lelaki sepertimu

Chiayi 24052018

RENJANA TANPA ASA

Dahulu indah
Kita menyatu mesra
Berkuntum mawar surga
Berkidung puisi asa

Masih indah
Kau luang jarak
Untuk senja yang terhebat
Katamu berurai nestapa

Tetiba
Bayangmu mengabur cepat
Tak terbendung berita
Kau lenyap berkawan hantu formosa

Sepucuk kabar mampir petang ini
Kei, ayo kita sudahi
Lepas aku untuk pergi
Aku tak ingin kembali

Ah, rin
Setidaknya beri aku isyarat
Agar aku siap
Menangkap renjana yang kau buat

Chiayi city 29 may 2018

KEMUNING

Mengingat ombak di ketiadaan
Rembulan hening
Ia datang sebelum sempat ku lambaikan tangan
Pada gurat emas sang senja
Di sisi angin telah terpetik gelisah
Lalu sepanjang usia menjadi onak

Limbung meski tak terhempas
Meraba tiap keping peninggalan 
Menyapa  tiap hening kenangan yang terlewat
Mengemasi tiap detik berharga yang pernah ada

Ini adalah pelukan kita yang  siang

Lambaian kita yang petang
Dan sisa langkah kita yang malam 
Semua mengantar kita  ke ujung penutup tahun kita

Tidak
Kebencian takkan pernah hadir kembali
Aku pujanggamu
Dan aku bukan pujanggamu
Mengingatimu renato

Dan sepenggal syair kita


Yunlin december 2012

LELAH

Lelah

Ketika tak ingin menjadi senyap
Jubahnya malah kian menyungkup tebal
Rindu terbuat dari jelaga

Kemarin kita berdua
Hari ini kita lerai terjurang
Esok akan bagaimana?
Menjadi kenangan?

Atau tetap sepotong khayalan?

Kenyataan 
Berputar riuh merombak lalu goyah
Masihku disini mencoba kuat
Mendekap ribuan lara di musimnya

Aku percaya saja ya
Akhir koma ini mestinya nyata
Akan ada cerita renjana tentang kita.
Kala kita tersenyum sepenuh hati kepada sang awan

>kepada kehidupan<

Mailiau 051213

TIMPANG

TIMPANG
Lena Pamungkas

Duh jiwa jiwa marginal berkalang duka
Tenanglah engkau dalam pelukan sukma lautan
Ombak akan mengantarmu ke surga
Angin akan merapuhkan segala laknat dunia

Maafkan kami yang hanya bisa menatap
Lalu meratapi pergimu dalam linang kesumat
Apalah bedanya kita yang di lamun nestapa
Korban tusukan tombak tuan tuan serakah

Negri kita yang kata orang mutiara para dewa
Senyatanya hanya seperti penjara kemiskinan
Percayalah, lapar kita sama
Hanya cara berlari kita yang beda

Tenanglah kalian,

😢😢😢😢

Chiayi city 09 07 2018

#andai_kami_penumpang_vvip

HIKAYAT HATI

HIKAYAT HATI
Lena Pamungkas

Akulah zulaikhamu
Menyimpan cinta larang bagimu
Hingga rabun mata menangisimu
Hingga pecah jiwa meneriakimu

Akulah zulaikhamu
Menumpas kesah berhilir keluh
Merindu pilu duhai azizi kalbu
Bertunas tahun kemarau karenamu

Akulah zulaikhamu
Gurindam harpa kepedihanku
Menetra dari balik gulita kabut
Engkau dengan surga kecilmu

Akulah zulaikhamu
Berabad sudah kurangsak namamu
Ku tenun bak selimut malamku
Tanpa sejenakpun kau tahu

Akulah zulaikhamu
Menantimu sampai karam kalbu
Bukankah cinta tak kenal kelu
Dari lelahnya derita kalbu

Cc 20 april 2018

SERAPAH (BUKAN)

SERAPAH (BUKAN)

Lena Pamungkas

Tuan
Tahu nggak
Betapa aku lelah
Kemarin menjadi serumpun liar

Melilit kemanapun sulur menuju
Terkadang termangu  buntu
Menabrak dinding
Mati

Tuan
Harusnya bertanyalah
Apa inginnya kita
Bukan apa inginnya tuan

Aku enggan menjadi gulma
Yang kau biarkan
Ranggas terkulai
Mati

Aku
Ingin embun
Menyiramiku setiap waktu
Sampai kelak berdaun rimbun

Tapi sudahlah lupakan saja
Pintaku pintamu buram
Kita eja
Muram

Cc 14 august 2018

#efek_bete_nunggu_egent

Kamis, 09 Agustus 2018

DEDAUN

Dedaun

By : Lena pamungkas

Selain keterasingan
Hanya ada sonata
Mendenting di udara
Kurasa dibawa sang utara

Selain keterasingan
Hanya ada bilah kisah
Mencumbu kasmaran
Lalu hempas di batu rekah

Selain keterasingan
Apa yang kupunya?
Hanya mimpi bertilam luka
Dedaunan kering bernama angan

Aku pernah merona
Memerah dua pipi diamuk manja
Mendegup jiwa dilamun rasa
Lalu terbang terlempar duka

Sebelum asing sungguh-sungguh nyata
Senyata kisah yang ia bawa menghilang
Aku sibuk segera memunguti kenangan
Menyimpannya rapat-rapat dalam kotak

Menunggu Ia kembali pulang

Cc 10 august 2018

Rabu, 08 Agustus 2018

KACUNG (DAN) GONI

Kacung (dan) goni
(Bukan karung goni)

Di pojok jalan umbul-umbul memahat udara
Gapura pongah menjaga gang kecil kampung kita
Kemarin dulu anak karang taruna sibuk mendekornya
Tentu saja setelah Pak Rt ribut bertitah

Besok lusa ulang tahun tanah tumpah kita, Neng
Kata Emak wajahnya sumringah bertahta harap
Sebab berarti akan ada panggung gembira di lapangan  barat tepi bak sampah
Emakpun  bisa menggelar lapak cangcimennya

Sudah pasti aku ikut berbungah hati
Karena nanti akan pakai baju putih
Dengan kembang setaman di corak warnanya yang pasi
Tidak lupa harapan sebuncah panci
Dagangan Emak akan laris manis

Pagi-pagi udara telah bersekutu dengan mentari
Panas berpesta-pora di gang sempit kami
Belum ada tanda-tanda panggung berdiri
Padahal ulang tahun tumpah terlewat sudah satu hari

Hanya Emak menatap sayu buntalan baju dekil
Terburu-buru Ia meraup sekena tangan meraih
Lantas kami lari terkaing-kaing hingga lupa menjerit
Larilah, Nak! Sebelum kacung-kacung pongah itu mampir

Membawa karung-karung sialan dan muka-muka sok garang
Setidaknya begitulah cara mereka meneruskan titah sang Goni penguasa mereka
Ayo kita,lari, Nak! Lari sampai kaki kebas
Jangan kembali dan jangan terkenang
Kampung kita telah lantak mereka benam dalam karung tamak

Udara petang lembab berkeringat duka
Bahkan senja ikut bersekutu dengan panas
Warna jingga suramnya menyala laksana bara api neraka
Yang kulihat berkobar di atas rumah-rumah kami nan padat

Tadi siang para kacung pembawa karung-karung goni
Sibuk membakarnya sambil terbahak puas
Membayangkan pujian penguasa mereka
Usir kami dengan cara membakar

Kata om dul ketua karang taruna kami
Yang matanya jadi kuyu bak cacing kremi
Besok-besok akan ada taman indah sepanjang bantaran kampung kami
Jauh lebih indah dari rumah-rumah kami

Malam merayap lebih dari gelisah
Aku meringkuk dalam gigil lapar
Tak mengerti kata pasrah yang emak terus gumamkan
Yang aku tahu, punggungku lengket,gatal tersentuh alas karung goni
Aku lapar, dan merindukan ruang dapur,sekaligus kamar dan ruang tamu kami

Kata emak, semua sudah habis, sampai nanti kita mampu membangun kembali sebuah kamar
Dengan apa? Bagaimana? Kapan?
Emak hanya menyuruhku terpejam memindahkan kepalaku di pahanya yang sarat belulang
Dari alun-alun utama kota
Lagu dirgahayu menghentak gempita
Sepenuh semangat seperti sukarno hatta dahulu berteriak merdeka

Dan bendera pusaka berkibar

Cc 09_agustus_2018

Selasa, 07 Agustus 2018

PRAY

PRAY

BY : Lena Pamungkas

Keping terikat
Karpet terkebas
Keping berontak
Rentak humbalang

Tumpah duka
Tumpah nestapa
Bumi gonjang
Histeria neraka

Di sudut bima
Mataku nanap
Mencarimu kawan
Pernah berjabat

Sepanjat doa
Semoga selamat
Senampan asa
Esok jumpa

#kepada_lombok

Cc 06 agustus 2018

Senin, 06 Agustus 2018

LELAKI KOLAM RENANG

Lelaki Kolam Renang

By Sun dari

Aku menyebutnya Lelaki Kolam Renang
Karena dia begitu tenang
Nyaris tanpa gelombang
Kecuali aku aduk~aduk kolam dengan garang

Lelaki Kolam Renang begitu mempesona
Meskipun dia tak banyak kata
Tatapan matanya bukan tatapan Buaya
Kasihnya melindungi bagaikan Singa

Senyumnya bagai padang ilalang
Aduhai begitu sedap dipandang
Kerlip matanya bagai Kunang~kunang
Menggoda jiwaku untuk melayang

Duhai Lelaki Kolam Renang
Bolehkah aku cipak~cipakkan parasmu yang tenang
Aku ingin engkau senang
Karena kau telah menjadi pemenang
Lihatlah!! Cintamu tengah asyik berenang
Mengitari hatiku dengan riang

02Agustus2018

#remahanmimpi

Sabtu, 04 Agustus 2018

KENANGAN

Bumi tergesa menawarkan kehidupan
Matahari menjajakan panasnya
Aku kacau
Rusuh

Diam-diam
Lautan limbung
Angin gelisah berlindung
Bintang bulan merapal lara

Kekasihku tertawa dalam hujan
Tersedu airmata tumpah
Kisah kita
Kenanglah

Kitalah
Gurindam nada
Mencoba mengalahkan suratan
Sia-sia jemari erat menekad

Pada akhirnya kandas meraja
letakkanlah impian renjana
Bergegaslah pulang
Lupakan

Cc  04 Agustus 2018

Kamis, 02 Agustus 2018

SESAT

Aku pernah bertemu dia sang penggelisah,ketika angin membawanya ke barat,Ia malah meronta,kakinya menyepak nyepak,suaranya meraung raung, ratapnya mendengking dengking persis kucing yang ekornya tertindih batu gunung ,

"aku lelah terhimpit udara pengap ini, barat tak pernah memberiku kedamaian, apa harus air mataku berhamburan setiap saat?"rutukannya berhamburan ,berceceran di tembok tembok rumah beratap cahaya yang ia sebut penjara

"kau tahu? mereka meracuniku dengan tuba paling tuba,bagaimana aku harus bertahan dengan segala neraka ini,? 

Ah! pokoknya aku harus pindah ke timur, harus. Aku pasti akan lebih baik di sana," Cercanya berlompatan bersama liur yang terhambur, mengotori sepiring jamuan surgawi yang ia sebut sampah.

Angin menghela nafas, meraup wajahnya yang bijak bestari, bibirnya meniup lembut,menerbangkan sang penggelisah ketimur, di mana ia pikir bahagia sedang menunggunya bersama rentangan tangan selebar langit bumi.

"Kenapa timur tak lebih baik dari barat?" Belum genap ratusan purnama tiba. Ia sudah merengek, melontarkan segala keluh dan kesah, menyepak lebih dahsyat, nafasnya ngak ngik persis anjing terhimpit dadanya.

"Tenggara pasti lebih baik, ah tidak...utara jauh lebih damai..atau,...selatan?"

Sang penggelisah memerah wajah, terlalu banyak muntah serapah, terlalu dalam menggali rutuk,

Di sudut sana, angin terduduk lelah, sayapnya terkulai,  matanya kuyu, bibirnya rengas kering ,terlalu banyak meniup sang penggelisah kesana kemari,tenaganya rumpak,buyar. Sisa-sisa suaranya selirih bisikan hati.

"kau tahu? kemanapun kau pergi, kemanapun kau ingin singgah, surga dan bahagia tak akan pernah kamu temui, selama hatimu hanya sibuk menghitung beban yang harus menderamu. 

Bahagia bukan tempat di mana kamu berdiam, damai bukan arah kemana kamu harus pergi. 

Bahagia adalah hatimu.hatimu yang lapang seluas padang sabana, jiwamu yang besar sebesar bola dunia.

Berfikirlah! bukankah sudah saatnya kamu menetap? dan bersibuklah menghitung syukur lewat ruas jari jemarimu,dengan dzikir lantun bagi sang penguasa," 

Angin lembut menepuk nepuk pipi ranum sang penggelisah, lalu melesat pergi ,pulang ketempat ia tertitah untuk pulang.

Sepeninggal angin sang penggelisah resah, pipinya basah menganak sungai, jemarinya lurus mengais ngais ibu sang bumi, suaranya mendengking pelan,

Ia memeluk lutut seraya  menatap kelam malam,bahkan bintangpun pergi membawa serta arah nya. Sementara rembulan telah lama berpaling mengkhianatinya.

Ia sesat, terlupa arah mencari bahagianya.

Cc 23 April 2018

self reminder

happynes is about your soul,not about your place,