Kacung (dan) goni
(Bukan karung goni)
Di pojok jalan umbul-umbul memahat udara
Gapura pongah menjaga gang kecil kampung kita
Kemarin dulu anak karang taruna sibuk mendekornya
Tentu saja setelah Pak Rt ribut bertitah
Besok lusa ulang tahun tanah tumpah kita, Neng
Kata Emak wajahnya sumringah bertahta harap
Sebab berarti akan ada panggung gembira di lapangan barat tepi bak sampah
Emakpun bisa menggelar lapak cangcimennya
Sudah pasti aku ikut berbungah hati
Karena nanti akan pakai baju putih
Dengan kembang setaman di corak warnanya yang pasi
Tidak lupa harapan sebuncah panci
Dagangan Emak akan laris manis
Pagi-pagi udara telah bersekutu dengan mentari
Panas berpesta-pora di gang sempit kami
Belum ada tanda-tanda panggung berdiri
Padahal ulang tahun tumpah terlewat sudah satu hari
Hanya Emak menatap sayu buntalan baju dekil
Terburu-buru Ia meraup sekena tangan meraih
Lantas kami lari terkaing-kaing hingga lupa menjerit
Larilah, Nak! Sebelum kacung-kacung pongah itu mampir
Membawa karung-karung sialan dan muka-muka sok garang
Setidaknya begitulah cara mereka meneruskan titah sang Goni penguasa mereka
Ayo kita,lari, Nak! Lari sampai kaki kebas
Jangan kembali dan jangan terkenang
Kampung kita telah lantak mereka benam dalam karung tamak
Udara petang lembab berkeringat duka
Bahkan senja ikut bersekutu dengan panas
Warna jingga suramnya menyala laksana bara api neraka
Yang kulihat berkobar di atas rumah-rumah kami nan padat
Tadi siang para kacung pembawa karung-karung goni
Sibuk membakarnya sambil terbahak puas
Membayangkan pujian penguasa mereka
Usir kami dengan cara membakar
Kata om dul ketua karang taruna kami
Yang matanya jadi kuyu bak cacing kremi
Besok-besok akan ada taman indah sepanjang bantaran kampung kami
Jauh lebih indah dari rumah-rumah kami
Malam merayap lebih dari gelisah
Aku meringkuk dalam gigil lapar
Tak mengerti kata pasrah yang emak terus gumamkan
Yang aku tahu, punggungku lengket,gatal tersentuh alas karung goni
Aku lapar, dan merindukan ruang dapur,sekaligus kamar dan ruang tamu kami
Kata emak, semua sudah habis, sampai nanti kita mampu membangun kembali sebuah kamar
Dengan apa? Bagaimana? Kapan?
Emak hanya menyuruhku terpejam memindahkan kepalaku di pahanya yang sarat belulang
Dari alun-alun utama kota
Lagu dirgahayu menghentak gempita
Sepenuh semangat seperti sukarno hatta dahulu berteriak merdeka
Dan bendera pusaka berkibar
Cc 09_agustus_2018
Tidak ada komentar:
Posting Komentar