Lelakiku, besok katanya ibu tanah kita akan merayakan merdekanya, Matahari akan mengalunkan sinarnya yang paling cerlang, angin akan menghembuskan mimpi-mimpi paling riuh , mereka akan berpora dalam pesta paling marak, meski entah berbias morgana atau tidak.
Lelakiku, kita yang terpental jauh dari hiruk semesta, melayangkan kepal tinju sejauh langit angkasa, tetap serupa menebas air beraroma luka. Geliat merdeka ibu tanah kita, euforia kompetisi bertawa ringah, mereka jauh sekali , tak sanggup kukayuh dayung patah untuk sekedar singgah lalu turut menikmati segala pesta rakyat .
Ingatanku tentang secuil lomba kelereng, di lapangan pojok lingkungan rukun tetangga , nun di sudut jatiwaringin, sejatinya itulah merdekaku yang pernah bungah sempurna , belum kukenal lagi aral lintang busuk buana seperti sekarang ini. Ah ! Kuyakin kaupun punya seponggel kenangan tentang merdeka yang lain, merdeka yang manis seperti gulali, di sepojok ruang masa kanakmu,
Manis, bukan? Tidak segetir seperti sekarang ini.
Apalah kita? Hanya cabikan cerita kecil tentang pejuang keluarga, hanya cuplikan adegan tentang para pengemis waktu yang setiap saat dipaksa menjadi optimis, terus mengingsut , atau kekalahan akan menggulung kita tanpa ampun, jadi akan kulupakan saja soal angan menonton panjat pinang dengan semerbak bunga di dada, ketika kau akan melindungiku dari dorongan massa yang juga ikut menonton, saat ini, mendoaimu terasa lebih penting dari sekedar mimpi romansa yang terasa agak bangsat.
Lelakiku, berjuanglah terus! Setidaknya mengingsutlah terus, jangan berhenti! Jangan menoleh lagi kebelakang , jangan ulangi lagi kekacauan semesta , cukup tekadmu sekepal baja, seperti semangat mereka yang telah rebah terpasung tanah dan masa, dahulu mereka membayar tumpah darah kita dengan darah-darah mereka sendiri, semangat pekik merdeka ada, karena sumbangan tulang dan ruh mereka, ambil saja semangat itu, dan ajak aku suatu hari nanti, menikmati merdeka sepenuh jiwa sepenuh raga.
Bukan sekarang memang, sekarang kita hanya sigila penuh mimpi yang kakinya bengkak terpasung tekad, menjadi marginal sudra, itu bukan kesalahan, anggap saja kita hanya korban dari sistem yang salah berabad-abad. Yang penting kurasa, teruslah berjuang! Jangan tumbang, jangan membuatku menangis dengan kepedihanmu, sepanjat doa kugaungkan ,kutitipkan ke tepi langit sana,
Semoga kau tegar seperti para gerilyawan dulu berjuang, semoga kau kukuh, seperti bambu-bambu runcing dulu, lalu... kita akan sampai juga ke tanah ibu kita, memekikkan merdeka seperti mereka kasta brahmana.
#Kei ni wo te nansen ciayoo
Cc 16 08 2018
Tidak ada komentar:
Posting Komentar