Kamis, 02 Agustus 2018

SESAT

Aku pernah bertemu dia sang penggelisah,ketika angin membawanya ke barat,Ia malah meronta,kakinya menyepak nyepak,suaranya meraung raung, ratapnya mendengking dengking persis kucing yang ekornya tertindih batu gunung ,

"aku lelah terhimpit udara pengap ini, barat tak pernah memberiku kedamaian, apa harus air mataku berhamburan setiap saat?"rutukannya berhamburan ,berceceran di tembok tembok rumah beratap cahaya yang ia sebut penjara

"kau tahu? mereka meracuniku dengan tuba paling tuba,bagaimana aku harus bertahan dengan segala neraka ini,? 

Ah! pokoknya aku harus pindah ke timur, harus. Aku pasti akan lebih baik di sana," Cercanya berlompatan bersama liur yang terhambur, mengotori sepiring jamuan surgawi yang ia sebut sampah.

Angin menghela nafas, meraup wajahnya yang bijak bestari, bibirnya meniup lembut,menerbangkan sang penggelisah ketimur, di mana ia pikir bahagia sedang menunggunya bersama rentangan tangan selebar langit bumi.

"Kenapa timur tak lebih baik dari barat?" Belum genap ratusan purnama tiba. Ia sudah merengek, melontarkan segala keluh dan kesah, menyepak lebih dahsyat, nafasnya ngak ngik persis anjing terhimpit dadanya.

"Tenggara pasti lebih baik, ah tidak...utara jauh lebih damai..atau,...selatan?"

Sang penggelisah memerah wajah, terlalu banyak muntah serapah, terlalu dalam menggali rutuk,

Di sudut sana, angin terduduk lelah, sayapnya terkulai,  matanya kuyu, bibirnya rengas kering ,terlalu banyak meniup sang penggelisah kesana kemari,tenaganya rumpak,buyar. Sisa-sisa suaranya selirih bisikan hati.

"kau tahu? kemanapun kau pergi, kemanapun kau ingin singgah, surga dan bahagia tak akan pernah kamu temui, selama hatimu hanya sibuk menghitung beban yang harus menderamu. 

Bahagia bukan tempat di mana kamu berdiam, damai bukan arah kemana kamu harus pergi. 

Bahagia adalah hatimu.hatimu yang lapang seluas padang sabana, jiwamu yang besar sebesar bola dunia.

Berfikirlah! bukankah sudah saatnya kamu menetap? dan bersibuklah menghitung syukur lewat ruas jari jemarimu,dengan dzikir lantun bagi sang penguasa," 

Angin lembut menepuk nepuk pipi ranum sang penggelisah, lalu melesat pergi ,pulang ketempat ia tertitah untuk pulang.

Sepeninggal angin sang penggelisah resah, pipinya basah menganak sungai, jemarinya lurus mengais ngais ibu sang bumi, suaranya mendengking pelan,

Ia memeluk lutut seraya  menatap kelam malam,bahkan bintangpun pergi membawa serta arah nya. Sementara rembulan telah lama berpaling mengkhianatinya.

Ia sesat, terlupa arah mencari bahagianya.

Cc 23 April 2018

self reminder

happynes is about your soul,not about your place,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar