Senin, 16 Agustus 2021

MERDEKA

MERDEKA ( BELENGGU )

Sekat kesekian hari adalah cuti paling indah bagi para dewa yang sibuk memutar uang, tapi neraka bagi kami yang setiap hari memulung suap nasi dari harumnya debu dan udara jalanan.

Kuaduk panci berbumbu temu kunci. Kemarin tanganku mengoreknya dari pinggir kali. Harum bahkan tidak sampai pada pintu bilik kami.

Segenggam beras sudah tanak tanpa sempurna, sekedar lunak bisa terkunyah tanpa gigi patah.

Ah, ilmu matematikaku akan teruji bagaimana cara membaginya untuk kami berempat.

Kurasa hanya sampai bilangan tiga nasi aron akan terlahap.

"Bu, masak apa?" Suara sulung memecah malam.

Aku senyum, pasti dia heran kenapa hari ini aku sanggup masak.

"Bangunkan adik2mu" kubelai harapan masa tuaku dengan suara setenang telaga.

Tiga piring plastik kusam terjejer rapi

Ah, syukurlah, segenggam beras tadi sanggup kubagi rata untuk mereka.

Tinggal tuang kuah, semoga mereka suka.

"Ibuuu,,, lela mau isinya.." rengek bungsu melongok isi panci.

"Makan saja apa yang diberi ibu" hardik sitengah sambil menjauhkan panci.

Kuhela nafas, membelai satu-satu kepala kusam belahan rahimku.

Dalam hitungan detik tandas sudah isi piring
Perut kempis mereka mengabarkan kenyang hanya sekedar wacana.

"Bu, anto yang cuci piring sama panci , ya. Ibu istirahat! Sebentar anto mau keluar . Kemarin bang gotam bilang ada kerjaan buat anto."

Tenggorokan cekat, kering bukan karena sedari kemarin tak dibasahi air, tetapi demi saling membagi tatap dengan sulung, calon perjakaku yang baru saja menginjak usia dua belas tahun.

Nak, kemana sisa-sisa masa kanakmu ? Kutatap punggung ringkih berbalut jersey kw nan kusam yang kubelikan empat tahun silam. Sulung lenyap dibalik pintu bilik kami. Ruangan berdinding triplek bekas mega proyek  kondominium seberang kali, bang gotam memberikannya beberapa waktu lalu. Pengganti kardus yang katanya tak lagi layak disebut dinding.

Sebelum covid-19 datang, kehidupan kami memang tidak kalah menyedihkan dari sekarang. Aku, yang hanya tamatan sd, menghidupi tiga anak dengan cara memulung rongsok dari jalan ke jalan. Setiap hari membawa uang lima ribu saja sudah untung sekali, kadang tak serupiahpun dapat kubawa.

Tapi setidaknya , saat itu aku bisa leluasa bergerak, ada saja rongsok yang berhasil kukumpul dari belakang restoran-restoran cepat saji yang berjejer sepanjang jalan utama kota kami. Bahkan sering mereka berbaik hati, memberiku sisa menu yang tidak habis terjual . Sebelum covid, aku tidak pernah memasak batu dengan bumbu temu kunci untuk anak-anakku.

Kemarin, mbak sanari mengeluhkan satu hal. Dia adalah pemilik warung kopi kecil di sudut jalan. Sejak ppkm berlaku, warungnya tutup total. Pendapatannya berkurang drastis katanya, sekarang dia hanya bisa mengandalkan penghasilannya dari jualan makanan online. Itupun berkurang jauh sejak negri kami dikacaukan covid.

"Gila, nik! Ppkm diperpanjang lagi. Wes angel wes. Tutup selawase yen ngene warungku, nik!"

Aku tidak mengerti apa itu, yang aku paham , sejak semua disekat-sekat aku makin sulit memulung suap untuk ketiga anakku. Rongsokan yang biasanya mudah kudapat, ikut lenyap bersamaan jalanan yang kian sepi. Tidak ada lagi manusia yang berkeliaran dan membuang sampah-sampah mereka sembarangan. 

Untung bang gotam berbaik hati. Mandor proyek  itu kadang memanggil anto tengah malam, aku tidak tahu apa yang dilakukan anto, bang gotam hanya bilang ada beberapa pekerjaan proyek yang bisa anto bantu, umur anto masih kecil, dia tidak bisa kelihatan bekerja di proyek pada siang hari karena akan menimbulkan masalah. Aku hanya tahu, ketika anto keluar, itu berarti akan ada beberapa lembar rupiah yang bisa anto berikan untukku. Dan kami bisa bernafas sejenak untuk beberapa hari. 

Subuh menjelang. Kulipat mukena kusam dan menaruhnya di atas para-para.

Pintu bilik terbuka, wajah anto muncul. Tampak lesu dan letih dengan rona kesakitan yang tak mampu ia sembunyikan. 

Ditaruhnya beberapa lembar rupiah ke tanganku,    lalu bergegas menjatuhkan badan ringkihnya di samping kedua adiknya dengan cara tengkurap. 

"Mandi dulu, nak! Biar capeknya sedikit hilang."

"Nngh... "

Tak ada suara. Remang cahaya dari bohlam lima wat bilik kami tak mampu menyamarkan pemandangan di depanku, di bagian celana anto tepatnya.

Jelas bercak darah dan kotoran di sana. Seketika ada bongkahan batu jatuh tepat ke jantungku. Yang aku heran, tak sebutirpun air mata sanggup jatuh meluncur di pipi kusamku. 

Apa kemiskinan juga ikut membunuh nuraniku sebagai seorang ibu , Tuhan ?

Kulirik kalender bergambar caleg salah satu partai. Slogan dan wajahnya sama-sama menggambarkan harapan dan optimisme yang dijanjikan bisa sampai ke tangan kami jika kami mau menusuk tepat wajahnya pada hari pemilihan setahun lalu . Ah, manusia memang pejanji yang ulung. Persis janji lelaki bangsat yang kini pergi entah ke sebelah bumi yang mana, membiarkan aku pontang-panting mengurus sisa perbuatannya. Tetapi, bukannya lebih baik lelaki itu menghilang ? Setidaknya tidak akan ada lagi yang harus babak belur setiap hari di antara aku dan ketiga anakku. 

Kuraih karung dari balik pintu, hari ini hari kemerdekaan negri kami, semoga akan ada perayaan seperti tahun-tahun kemarin. Sehingga aku bisa mengumpulkan botol-botol minum serta kotak-kotak bekas makan mereka. 

Jalanan lengang, umbul-umbul merah dan putih berjajar cantik, tetapi tidak ada tanda-tanda perayaan kemerdekaan . Lapangan tak kalah lengang. Hanya ada beberapa satpol pp yang berjaga. 

Ppkm diperpanjang kata mbak sanari, aku tak mengerti, yang aku mengerti hari inipun aku kembali gagal memulung rongsok. 

Pernah kudengar emak bertuah padaku, merdeka itu artinya ketika manusia lepas dari belenggunya. Apapun itu.

"Aku belum merdeka, dong, mak." Racauku mnyeret karung kosong menyusuri jalan lebih jauh. Berharap ada tempat para pembangkang yang mau melanggar Ppkm untuk merayakan kemerdekaannya.

( Dirgahayu ke 76 bumi nusantaraku. Biarkan kami memaknai lepasnya belenggumu dengan cara senaif kami bisa )

@Lenspam #jalankarang Cc 17 AGUSTUS 2021

Credit picture @the bohemian L from pinterest

Jumat, 04 Juni 2021

BUKANKAH HIDUP AKHIRNYA HARUS BAHAGIA



Saat dua tangan menangkup seiring tengadah wajah tepat menghadap pintu sang langit. Warna emas senja menyeringai, mengekalkan betapa lengangnya jalan yang sedang kau susuri. Mencari bahagia sampai lupa cara berlapang dada.

Harusnya bahagia tak perlu diminta dan dijanjikan, bagi para pemimpi dan pencari, mungkin saja bahagia itu pernah menghampiri , hanya saja kau tak pernah menyadari sebab kau hanya sibuk menghitung detikmu yang tak jua beranjak menjadi menit.

Jika kau paham, bahagia semata ada dalam ruang dadamu sendiri, ketika ia merasa lapang, ketika kau berhasil membuang semua rongsokan masa purba yang selama ini betah kau timbun dan kau simpan.

Bukankah hidup akhirnya harus bahagia? Lalu mengapa sulit sekali kau menerimanya ? Kau biarkan arah angin terus bermain-main dengan dirimu, menerbangkan arahmu sampai sesat nyaris tak lagi mengenal kata pulang.

Nong, coba sejenak kau pandang rona senja yang sejak titik nolmu selalu saja kau benci.

 Iya ! Tanpa sadar... Sejak itu kau selalu membenci senja. Membenci warna kuning emasnya, membenci kesunyiannya, ketika semua kembali ke sarang hangat. Sementara kau hanya riuh berputar , tanpa satupun pintu terbuka untukmu. Benar-benar sendiri.

Sekali saja cobalah berdamai dengan senja. Leburlah ! Rasakan ! Kadang keheningannya tak melulu soal lara, tak melulu soal kehilanganmu. Tak melulu soal kenangan luka yang kau paksa dekap entah sampai kapan. Di sana juga ada masa depanmu. Ada pintu tempat kelak kau bisa pulang , menaruh segala jenis koreng yang bertumpuk di lelahmu.

Bahagialah !!! Bukan karena dia pernah memintamu berjanji soal ini, bahagialah!!! Selayak kau harus bahagia. Tak perduli bagaimana, tak perduli siapa.

Cukup bahagia !!!! Lupakan semua ceritamu tentang meninggalkan dan ditinggalkan. 

BAHAGIA SAJA !!! 

Itu yang seharusnya, bukan ?? 

@lenspam jalankarang Cc 04 juni 2021



Pict by pinterest

Kamis, 20 Mei 2021

PERIHAL CINTA



Kepada mawar yang wanginya selalu samar
Kepada melati yang wanginya selalu liuk bak penari dara
Aku baitkan cinta dalam sunyi maha syahdu
Tentang indahmu ketika angin berhembus merayu

Bersiap mematahkan hati atau menjatuhkan hati hanya soal kekata
Dalam hening pastinya kau bisa membaca udara dini hari
Dimana para pemimpi membisikkan hibanya bagi sang illahi rabbi
Menggantungkan nama pada sempalan rusuk yang sembunyi

Perihal cinta selalu saja membuka mata angan lebih dari nyalang
Menggulung badai di lautan paling dalam dengan kisah pelaut yang lupa pulang
Melulu rindu berdentum seperti penyakit yang kehilangan obat

"Perihal cinta adalah membaca luka dan gelora pada detik paling sama , tanpa makna hanya tawa."

@lenspam jalankarang Cc 20 mai 2021

Source pict pinterest

Selasa, 18 Mei 2021

FALL

Jatuh hati selalu seumpama kecambah, entah dia akan tumbuh membentuk satu pokok berakar kokoh, berdaun rimbun, berbunga kuntum, berbuah sarat.

Atau... Hanya akan sempat menjadi kecambah, mati layu sebelum sempat menjadi pokok.

 Merasakan degup, hanya sekilas. Lalu tumpas tanpa sempat dan berani mengungkapkan. 

#coretankosong
#degubkosong

Jumat, 14 Mei 2021

SANG MANTAN

Setiap kali mengingatnya
Mengingat perjalanan panjang yang pernah tertempuh
Saat kita mencoba melawan takdir dengan cara yang kita bisa
Tak ingin menyakiti setiap tali rahim kita, ibuku, anakku, ayahmu, kakak2mu.

"Kelak , jika tiba waktunya kau bertemu dengan yang benar2 pantas untukmu, yang mencintaimu seperti aku pernah mencintaimu, yang kamu cintai seperti caramu pernah mencintaimu, saat itu aku akan benar benar ikut merasakan kebahagiaanmu,"

Dulu...saat aku bicara seperti ini, saat kita menangis karenanya, kita seperti tak akan mengalaminya. 

Senyata itu kini, aku bisa melihat kebahagiaan utuhmu. Caramu mencintai dia, persis seperti dulu kau pernah mencintaiku... 

Kau pernah memakiku, menuding akan ketidak setiannku di menit akhir kisah kita yang kubiarkan menjauh. 

Aku diam , tanpa perlu kujelaskan, hati yang kubiarkan kosong lamaa setelah kepergianmu. Semata karena aku ingin kau sampai ke titik ini. Menemukan belahan jiwa yang benar benar pantas untukmu. 

Yii ...bahagia selalu adamu.terima kasih dulu kau hadir menemani selama lima tahun itu. Pahit manisnya melengkapi perjalanan hidupku. 

Aku mengenangmu selalu dengan senyum.

@lenspam jalankarang Cc 15 mai 2021

NEGRI SERIBU SAFFRON




Merah saga mengkilat 
Langit biru di antara gelegar asap bom pekat
Ibu memeluk , lupa takut lupa air mata
Balita pejam hangat di dekap jantung yang denyutnya perlahan tiada

"Ibu,,, apakah di surga kelak kita akan berubah menjadi kuntum saffron ?"

"Tidak , anakku !!! Darah kita yang akan menjadi wangi mereka di dunia. Ayo kita tidur , esok kita bangun memetik anggur dibuaian awan!"

Merah saga mengkilat
Bau angkara menggila
Dua jantung berhenti berdetak
Lelap dalam selimut puing rumah tercinta

"No need to be religius to feel they suffer, just be a human, and you will reach it all "

Pict by pinterest

@lenspam jalankarang Cc 15 mai 2021

#prayforpalestine

Minggu, 09 Mei 2021

SINKED



Puisiku karam sudah
Seiring kosong ruang jiwa
Tiada tersisa bahkan sedebu sampah
Hanya ada aku dan jendela  kaca

Para lelaki bercerita soal tuba
Dikerjap matanya penuh sumpah
Janji sepotong tulang patah di rusuk mereka
Aku wajah yang asebab mereka langitkan doa

Pada puisiku yang tak lagi berdiksi majas
Pada tintaku yang kering tak berwarna
Aku dengar suara mereka dengan kantuk paling berat
Hanya sayup sebelum benar benar raib tak berupa

"Sebab kalian puisiku jatuh dalam palung paling marina, dan kurayakan hati yang kian mati tak beratma, aku dan ruang kosong melompong"

@lenspam jalankarangCc mai 2021
Pict by pinterest


Minggu, 02 Mei 2021

KEGAMANGAN

By: Afenk roziq

Diserambi kecemasan dadamu yang digiring suara parau hantu-hantu penyembah..
Kau saksikan kekelaman jalan yang memantik ketakutan dilangit anganmu..
Serapah angin yang keluar dari aroma mulut berbau..
Menggelontorkan buncah durganya legawa..
Ooh.. terjadilah..

Diketiak mega..
Ada aroma kecut menggeleparkan sesi cemerlang yang sempat terbangun dikultuskan..

Diketiak mega..
Serumpun anak panah beracun engkau pungut dari bumbung ..
Engkau bidik dada garuda negeri ..
Engkau ingin garuda itu tersungkur..
Ia  yang memapahmu terbang sebagai pipit yang menjelma elang yang justeru berbalik menyerang..

Diketiak mega..
Engkau larungkan hembusan angkara murka pada sekumpulan Awan putih cyrrus yang putihnya merata langit..
Kau tebar asap jelaga menodai cerahnya..

Dipermukaan mayapada ..
Aku dan banyak dari mereka menggunungkan secarik kertas interupsi sebagai pelana angin yang menembus angkasa..
Menyapu hitam pekatnya kekelaman altar Antara..

Dibalik ketiak mega engkau menderita kekeruhan yang berhasil menepis kebeningan jiwamu sendiri..

#RESOLUSI..

06 februari 2019

Rabu, 28 April 2021

I LL BE BACK TO LOVE YOU AGAIN

Lelaki itu pergi terlalu lama
Menyeret koper berisi kenangan
Membawanya entah ke belah waktu mana
Tidakkah ia paham, sepotong hati nyaris sekarat

Lelaki zaman purba tersedu tanpa baris kata
Hanya matanya meminta "jangan tinggalkan!"
Kemarin dialah yang lenyap serupa dupa
Hanya aroma lukanya terendap abadi dalam jiwa

"I ll be back to love you again, no matter what happened with you. As far as you still have the same feeling"

"Lelaki itu tak paham, menoreh gurat di tebing rapuh berkapur, kenangannya menjadi hantu bermuka hitam seperti malam berjelaga"

T.A

Inspirasi lagu always somewhere scorpion 

Pict credit. Pinterest

@lenspam jalankarang Cc 29 april 2021

Minggu, 25 April 2021

MUTIARA DI LAUT BALI


Seribu mimpi tunai sempurna
Tangan-tangan malaikat sigap menyambut wangi arwah
Dzikir para karang menasbih puja
Syahid seketika bersaksi ramadhan mulia

Kemarin kau cium keningnya penuh cinta
Renjana indah berkalung bunga mawar
Wanita wanita tabah berair mata  mutiara
Berisak  lirih titipkan hari esok pada sendirinya kehidupan

Selamat jalan para perwira
Sebaik baik akhir bagi pahlawan
Harummu bak taburan bunga kamboja
Tertabut dipeluk mesra riak  ombak lautan

"Duka taruna duka kusuma duka negri"

@lenspam jalankarang Cc25 april 21




Kamis, 25 Maret 2021

ANGEL



malaikat itu terpaksa patahkan sayapnya
Darah meleleh di punggung telanjang

Pada kabut dini hari berteman sebatang sampurna
Raung kalap  abang-abang malam mencapai puncak

Pada lapak-lapak sampah dipanggang surya
Belatung menari di sela tangan mengais kardus lembab

Menjelang subuh ia pulang menahan perih di kedua sela
Receh lima puluh ribu terkepit manja pada ketiak

Menjelang petang ia menyeret langkah , wajah pasi lapar tak perlu ditanya
Belum ada seperakpun masuk ke dalam sakunya yang usang

Di pintu rumah berdinding kardus kulkas type paling mutakhir
Tiga senyum cilik menyambut penuh harap

"Mak, bawa makanankah hari ini ?"

@Lenspam jalankarang Cc 25 maret 2021

Sumber pict pinterest

Kamis, 18 Maret 2021

PERJALANAN


Aku tidak dapat tertidur lagi malam ini. Suara yang berdentum ramai dalam kepoloku gaduhnya seperti tetabuhan atraksi barongsai dan petasan. Kemarin sore sempat aku saksikan pada upacara sembahyangan di kuil/klenteng belakang rumah .

Memoriku seperti ingin berlompatan keluar, enggan berdiam di pojok ruang batinku yang selama ini selalu terkunci rapat dan tak sekalipun kubiarkan meraja di fikiranku. 

Tapi tidak kali ini. Tidak malam ini, mereka seperti sengaja mengacau, datang  mengacak-acak jiwa .

Ada apa ini,?
Aagh! Bibir rasa kelu, bahkan sekedar menyebut sepotong kalimat Illahiah pun Aku tak sanggup. Seingatku dulu bibir dan hatiku  selalu akrab dengan dzikir pun shalawat. Apakah hati sudah berubah menjadi semacam tempat tak bertuan di kutub utara ?

"Sudahkah engkau shalat anakku sayang?" Suara emak seperti tepat berada di Rongga dua telingaku, berbisik lembut dan lirih. Sebutir bening luruh . Rindu lebih dari sekedar dahsyat. 

Iya, aku rindu emak.

“Dengan shalat , kau akan mampu menjernihkan segala hal keruh dalam bathinmu. Karena sesungguhnya, shalat adalah interaksi paling intim antara bathinmu dengan sang khalik. Shalat adalah sebaik-baik komunikasi antara Engkau dengan Penciptamu, Nak." 

Aku ingat dengan percakapan terakhir Kami sehari sebelum Aku terbang ke Negri langit ini.

Emak !!!!
Aku tergugu dalam hening, hati mendadak histeris, berteriak keras menembus langit. Meski tentu saja semua hanya bisa terdengar oleh telingaku. Ia menyepak, menendang. Sumpah serapah kesumat  melonjak, menari-nari liar. 

Api telah membakar segala ilalang kering yang  dulu pernah begitu subur dan hijau . Duluuu,,, sekali, sebelum semua menjadi seperti sekarang.

“Shalatmu, sayang. Shalatmu adalah sebuah jati diri hakiki. Sebuah kartu tanda penduduk, diberikan langsung oleh Penciptamu. Shalatmulah yang akan  membedakanmu dari Non muslim. Shalatmu nak, Shalatmu yang akan terhisab pertama kali saat kita semua sampai di padang pengadilan, yaumil akhir.”

Emak!!!
Akhirnya Letih juga setelah mengamuk itu hati. hening, senyap.

Perlahan kuseret langkah keluar kamar. Terlebih dahulu mengecek dan memastikan, pasien yang kujaga telah pulas hingga tidak terusik oleh gerakanku.

Brrr!!!
Dingin udara bersuhu tujuh derajat celcius masuk lewat jendela kamar mandu yang terbuka sedikit. Lupa kututup rapat petang tadi. Aku menggigil.

Bukan raga ini yang mnggigil , melainkan hatiku. Mungkin telah lupa cara berinteraksi dengan dinginnya percikan air wudhu . 

Aku lupa , kapan terakhir aku berwudhu lalu melaksanakan shalat. Hampir setahun setengah semenjak aku sampai, aku tak pernah shalat.

“Shalatlah nak!! Apapun yang akan menghalangimu, cukup Engkau letakkan segala ketakutanmu pada sebuah doa dalam rakaatmu,  niscaya Allah yang akan mengurus semua . Bukankah Allah itu maha pengabul segala doa dan penolong segala kesulitan semua makhluknya?

Bissmillah,!!
Izinkan kutempelkan keningku pada bumimu duhai Rabbi, Zat penguasa seluruh jagat dan seisinya. Kening kotor ini terlalu lama terberangus ketakutan akan fananya duniawi. Negri langit ini terlalu kokoh memasang jeruji besi, memasung kebebasanku menjalani segala hal yang harusnya telah menjadi darah dan nadiku.

"Anna ni caai na,,,??!! "~anna di mana kamu?~

Gelegar datang , tak memberiku kesempatan untuk bergerak sama sekali, bahkan sekedar untuk menyelesaikan tasyahud akhirku.

"Ni cai kansheme,?" ~kamu sedang apa?~

Thai thai ~majikan perempuanku~ tiba tiba saja telah berdiri di hadapanku, suaranya selembut biasa jika Dia bicara padaku, dengan irama dan intonasi yang sempurna. Tapi kali ini matanya menghujam langsung  ke arah mukena putih yang tergesa ku lepas dan kulipat. Jelas tergambar ketakutan dan kemarahan pada wajahnya.

“tuipuci thai thai.”-maaf, nyonya- Tergagap Aku menjelaskan.

 "Wo siangnin citau, u fencung kau lah, kheyi ma?”

~maaf , Nyonya, Saya rindu shalat, lima menit cukuplah, bolehkah?~

"Puyunglah! " ~ Tidak usahlah~

 Matanya makin tajam menghunjam, meski intonasi suaranya tidak berubah.

"Women iting tongyi, ni pu neng citao cai women ciali."
~kita sudah sepakat, Kamu tidak boleh sembahyang dirumah kami, ~

Tangan lentik itu terulur, tanpa kata meminta mukenah di tanganku, tanpa repot repot menunggu jawabanku. Jika kesepakatan yang Dia maksud tidak pernah melibatkan persetujuanku. Seperti hampir semua teman-temanku yang lain. Kami bekerja sebagai tenaga kerja wanita di wilayah aspac. Agency kami terkadang memaksa kami menandatangani kesepakatan kontrak soal hal-hal pribadi, seperti Handphone atau hak kami untuk beribadah, tidak semua seperti itu memang, Aku hanya salah satu orang yang tidak seberuntung  teman-teman lain. Thai thai , menantu dari lansia yang kujaga, memang sangat baik memperlakukan Aku selama ikut mereka.

Hanya soal satu ini Mereka sama sekali enggan memberiku toleransi, sebubuh tanda tangan di atas materai tentang peraturan satu ini selalu dia ingatkan , setiap kali Aku mencoba mengusik hak rohaniku.

“kamu masih mau kerja di sini kan , Anna ? Kalau mau , tolong ikuti peraturan rumah kami, kalau tidak , terpaksa kami harus mengembalikanmu pada egency " Kali inipun Dia masih bersikukuh .

Aku menunduk lemah , serasa menjadi pandir seketika.

“Kamu fikirkan baik baik Anna ! Selama ini kami perlakukan kamu dengan baik , kan?  Hanya untuk satu ini saja kami tidak memperbolehkanmu ."

Gemulai tangan lembut Thai-thai meringkas mukenahku.

"Cai women ciali, pu neng you liangke sin." ~ Di rumah kami, tidak boleh ada dua Tuhan.~

Sambil memasukkan mukenahku ke dalam kantong kresek, Dia menatapku lagi, kali ini dengan tatapan lebih lunak seraya berkata , "cepatlah kembali kekamar! Sudah waktunya Ama minum susu . Kita bicarakan lagi soal ini besok ."

Diam... Kata orang bijak lebih berharga dari sekwintal emas. Tapi diam bisa juga sebagai tanda betapa lemah dan kerdilnya keimanan kita . Betapa pengecutnya sikap kita ketika menghadapi satu keadaan yang membuat kita tersudut dan tak berkutik.

Malam ini Aku kembali tak dapat tidur. Badai dan angin dingin mengamuk lebih dahsyat dari semalam kemarin. 

Benakku sedang sibuk mengeja makna kata pulang . Tempat di mana bisa kuletakkan segala nestapa yang sekarang ini sedang kurasakan.

Ya pulang ! Berhenti berjalan dan melupakan semua cita-cita serta tekad awal saat pertama kali aku nekat memutuskan menjadi tenaga kerja wanita ke negri langit ini . Rumah mungkin adalah pelipur satu-satunya untuk airmataku saat ini.

Mataku menerawang , menggumuli langit langit kamar. 


Seperti yang pernah emak katakan dulu , saat melepasku pergi , "Harus ada titik untuk Kau berhenti mengembara, an. Emak tidak ingin Kamu selamanya di luar sana."


Mungkin ini saat yang tepat ? Saat yang bijak untuk berhenti dan meletakkan semua letih tak terhingga ini ?

Ku hela nafas , berat sekali , terbayang percakapan dengan Putri semata wayangku beberapa hari kemarin.

"Ibuu,,,, Widya kalau lulus SD  mau masuk pesantren boleh ya ? " Suaranya  manja dan riang, Tiga bulan lagi Dia akan menyelesaikan sekolah dasarnya , dan harus melanjutkan ke tingkat menengah , bukan biaya sedikit untuk memenuhi keinginannya masuk ke sebuah pondok pesantren terkenal di kota Kami . Sejak usia taman kanak-kanak Dia bercita-cita ingin menjadi seorang Guru , terutama guru agama .

AH! Sedang apakah dia sekarang ? Pukul sepuluh waktu indonesia , pasti dia sudah terlelap , membawa semua harapan masa depannya .

"Anna , gendeng bagian dapur dan kamar mandi rumah kita ambruk , sudah rapuh kayu-kayunya , perlu segera di perbaiki  butuh sekian juta untuk itu. " Yang ini suara bapak , ketika Kami bicara lewat telpon minggu kemarin . 

“Dian sudah waktunya cuci darah dan ambil obat lagi , Ann.“ Itu tangisan Bunda juga minggu kemarin , "setidaknya kita harus ada pegangan lima jutaan , "

Aku makin meringkuk seperti udang yang siap di rebus ,  Dengan mata nyalang dan otak makin ribut serta kacau , tanganku erat menggenggam tasbih mungil pemberian Ari, sahabatku yang lebih dahulu kembali ke tanah air. Ini satu-satunya barang rohaniku yang tidak berhasil disita Thai-thai untuk diserahkan pada agency tadi siang . Aku menyembunyikannya di bawah kasur Ahma.

Kata pulang sepertinya harus kembali mental entah ke sisi mana , bukankah hidup itu berarti kita harus berjuang dan menjalani apa yang ada di hadapan kita tanpa mengeluh ? meskipun itu bukan sesuatu yang ingin kita pilih ?

Detak jam menembus angka pukul tiga dini hari , dan belum ada tanda-tanda mataku akan terpejam , bahkan makin banjir oleh airmata.

Bolehkan Aku merasa Lelah , mak? Aku makin meringkuk seperti udang rebus siap santap.

Dalam setiap perjalanan, akan selalu kita temui sebuah simpang. Untuk kita memilih. Ke kanan ? Atau ke kiri ? Lebih banyak dari kita tidak beruntung sama sekali untuk memilih. Selain terus berjalan, membawa semua pikulan di kedua bahunya. Sampai waktu mempertemukannya pada tempat pemberhentian akhir.


@lenspam jalankarang mailiau 24 oktober 2013 ~revisi Cc 19 maret 2021~

Dedikasi buat semua pekerja dan calon pekerja  domestik di luar negri, khususnya di aspac . Cerita ini terinspirasi dari cerita seorang teman di tahun 2013, semoga bisa menjadi semacam inspirasi , renungan dan bahan untuk bersyukur saat kita tidak di hadapkan pada kesulitan seperti tokoh dalam cerita ini.
Ingat!!! Nikmat terbesar selain nikmat sehat itu adalah nikmat iman dan keleluasaan untuk menjalankan kewajiban kita sebagai muslim. Yang punya kesempatan seperti itu, manfaatkanlah sebesar besarnya. Semoga Allah senantiasa mempermudah segala langkah kita sampai finish kontrak aamiin.

Rabu, 17 Maret 2021

SELEPAS JUNI



Selepas juni kita buyar terombak prahara
Masih dengan rasa linglung bak si buta
Apakah bias rembulan terlampau jelas 
Mencetak segala raut gelisah nan tegas

Ta, sampai saat ini namamu patri di tiap doa
Bahagiamu terlimpah semoga 
Jangan terluka seperti hati  tua veteran perang
Jangan tak berarah bak putusnya layang-layang 

Dini hari janji embun tak akan lagi menyapa
Fajar tak perlu lagi bias sinar surya
Gerhana abadi setelah juni kita kau rompak
Bahkan air mata dan tawa tak mampu lagi kompak

Ta, usai juni kita kehilangan arahnya
Aku masih saja menggumamkan tembang kita
Selirih kisruh dedaun saling bergesekan
Di musim angin sebelum penghujan

"Aku harap ini hanya soal kehilangan. Bukan lagi soal rindu "

@lenspam jalankarang Cc 18 maret 2021

Kamis, 11 Maret 2021

BIR DI DALAM CANGKIR

By : NYAMINK


Antara bir dan kopi,
Ada nyanyi atau semacam tragedi,
Pada ketiadaan juang dialamatkan,
Harapan jadi semacam doa yang dilantunkan.

Hisap lagi rokok mu kawan,
Dan protes kita lantunkan,
Entah, kepada siapa?
Mungkin kepada perut masing-masing atau kepada kesendirian.

Kita angkat cangkir dan pikiran melompat lintasi batas kedaulatan,
Menerobos aksara sejarah sambil kusadari:
"Baru kulihat bir dituang di dalam cangkir".

Persetan, ku nikmati yang ada padaku,
Kini atau nanti sambil menunggu kau mabuk,
Nanti, malam pun pasti datang jangkrik yang mendengkur,
Lalu, kembali kita bertafakur.

Indonesia  11 maret 2012

Selasa, 02 Maret 2021

CINTA



Seribu hati umbar bual "tak bisa hidup tanpamu "
Tercipta sosok iblis bertanduk rayu maut
Saga mata, degup denyut penanda belukar ranggas mengabu
Tetap saja sendiri, mencari kata sesat di tengah belantara ambigu 

Jika Ia adalah wajah, sekujur nanah berbelatung  angkara
Kemarin sibuk melesatkan mimpi-mimpinya bergores nama sinta
 Hari ini sibuk pula menggeram penuh laknat  
Di genggam tangan jemari para dewi mengekalkan kekalahan

Lupa cara memerah airmata yang hangat
Hanya paham cara mengusap darah dari tiap sayatan peninggalan mereka
Masih berbentukkah ??
Entah, bahkan rasa lelah telah mati tenggelam 

@lenspam jalan karang  Cc05 maret 2020

Edisi revisi

Kamis, 25 Februari 2021

26 FEBRUARI

Aku senang, karena hari ini aku sempat melupakanmu. 

Aku senang, karena hari ini tidak ada setetespun air mata jatuh kala aku sadar, melirik kalender sobek.

Tuhan, hari ini 26 februari. Telah sangat purba segala endapan rasa dan kenangan yang kumiliki untuknya.

Hari ini, aku benar-benar senang. Aku mengenangnya tanpa segorespun sakit di hati.

............🌺🌺🌺🌺..........

260294


@lenspam jalankarang Cc 26 februari 2021

Selasa, 23 Februari 2021

BILA ESOK


Bila esok raga lelah
Mencari jalan pulang
Tiada pintu terbuka
Tiada jendela terbentang
 
Rasa rindu berdentum pekak
Tanpa tahu tuju pasti
Tentang sebuah udara subuh
Embun tipis di selipan dedaun pisang

Tak ada sesiapa
Hanya aku dengan sesat 
Tentang kata pulang
Kehilangan makna seketika


"Jadi arah mana harus tertuju?"

@lenspam jalankarang Cc 23februari2021

Jumat, 12 Februari 2021

LEPAS



Kemarin dia meranggaskan seluruh dedaun
Membiarkan ranting-ranting kurus menusuk langit
Hari ini muncul kembali kesegaran baru
Bertumpuk kelopak rapat memeluk setiap lekuk

Bunga dan doa kuhatur bagimu
Tanpa sadar gumam luncur syahdu melangit
Reranting yang rela melepas seluruh dedaunnya
Hatiku yang lapang rela melepas semua hal tentangmu

"Pergilah dengan sebenar-benar pergi, ta! Waktu kita memang telah sampai."

@lenspam jalankarang Cc  13 februari 2021

Minggu, 07 Februari 2021

KABUT



Pagi bercerita tentang kabut
Singgah di jalan sama seperti hari lalu
Menyambangi tiap sudut udara kota chiayi
Batas pandangan gigil sisa musim dingin

Kabut selalu bercerita tentang hari esok
Seperti mengorek berkeping puzle 
Menyatukan satu demi satu agar utuh
Hidup, puzle, kabut, pencarian

Kemarin aku begitu lancang mencoba menerka 
Menuju arah selayak buta tanpa penuntun
Merapal yakin semata agar kian bebal rasa lemah
Duga sia-sia, kabut tetaplah kabut

Hari ini aku berdiam diri saja
Merelakan buntalan kisah  tertelan misterinya
Kunamakan ini berdamai dan pasrah
Sampai kelak matahari hadir menggantikannya


"Tuhan, izinkan kujabat semua luka yang kupunya"


Pict by pinterest


@lenspam jalankarang Cc 08 februari 2021

Rabu, 03 Februari 2021

JAUH



Lugu pernah kuketuk langitmu
Lugu pernah kubuncah tangisku
Menitipkan gulana di tiap helai sujudku
Ombak datang aku menjauh

Sangat jauh sampai jalan pulang lupa kurindu
Sesat sampai lupa ibu pernah berkidung
Lumpur sampai di leherku , hitam membusuk
ALLAH, sampai bila aku kembali menangis pada sebuah sujud ?

"START WHERE MY STEP IS BEGAN"

#MYDIARY
#HARDDAY

@lenspam jalankarang Cc 04 02 21

Minggu, 31 Januari 2021

CRACKED CUP



Menuang rindu sepekat robusta
Pada cangkir retak terbelah
Untuk kalian , ya ! Kalian
Yang telah menaruhku di sisi jalan

Berteman sesat di hutan kelam
Rinduku tumpah diluap udara
Bahkan gelisah tak lagi bernama 
Mereka telah buyar menjadi asap

Berpuntung sesak penuhi otak
Paruparu lelah berteman arang
Gemintangku redup disaput tanya 
Bulanpun suka rela berkhianat

Rindu telah kutuang semanis jiwa
Kelak mungkin ketika raga sirna
Akan sampai juga pada kalian
Maukah saat itu kalian paham ?

Bahwa Aku pernah berjuang
Bahwa Aku pernah melanglang
Bahwa Aku pernah kalian Sayang
Sebelum Aku terbiar di tepi malam

Nafas serupa helaian daun kerontang
Menunggu angin datang menyapa
Membawanya singgah dan menetap
Di pelukan bunda segala nyawa


"Here when i m tired to be your angel
I put the tears to shoulder of wind"

@lenspam jalankarangCc 29 Januari 2019


Pict by pinterest

Rabu, 27 Januari 2021

ANGIN



Masalahnya ada di angin 
Ia menampar sesuka hati
Inginnya kumaki lalu kubunuh sampai mati
Tapi nanti aku kualat , sebab berarti aku memaki sang illahi

Masalahnya aku tak juga bisa berdamai dengan dinginnya
Bahkan geligikupun sekarang sibuk berontak
Mencucuk-cucuk otak setiap kali angin bertandang ke wajah
Ah! Menjadi renta menyusahkan sangat
Aku tak lagi nikmat menjadi mellow ketika angin berbicara

Tulangku gemerutuk ikut menderita rupanya
Hidungku membatu nyaris seperti es batangan
Belum itu telapak kaki anyeb padahal kaos kaki rangkap
Dan perutku, tuhan,,, perutku seperti kain lembab tak sedap di rasa

Jadi nong, mana yang ingin kau pilih untuk bergenjat senjata 
Dalam perang waktu yang tak kenal jeda ?
Bongkah kerikil beling bercampur karang 
Atau tamparan angin yang datang bersama es kutub utara ?

"Jalani saja ! Jangan bermimpi untuk menjadi pemilih, masamu memilih sudah telat"

@lenspam jalankarang Cc 28 januari 2021

Pict : pinterest

Minggu, 24 Januari 2021

DEJAVU



Malam kosong
Lorong waktu
Menimbun kopong
Teriak bisu

Lelaki tuba
Luka bicara
Aku koyak
Meretak kaca

360 kali lima
Neraka hakiki
Enggan kembali
Aku lelah

Aku durjana?
Meremas asa
Merungkut duka
Tetap meluka

Kocar kacir
Semangat ambyar
Melangkahi dejavu
Lelah, boleh ?

@lenspam jalankarang 19 desember 2019

TERGANTI



Kau mengira tak ada usai, tuan
Inilah usai ketika matahari ranggas
Mengusir dingin yang kemarin bungah
Tak berbekas meski angin mencucuk ganas

Aku menghangat di tengah winter nan hebat
Tangannya adalah bulu cerpelai lembut mengusap
Sesederhana duha mengusir sisa udara fajar
Ia tanamkan arti mencinta tanpa melaknat

Sudah kulupa setiap kelebat sungging kita tentang senja
Sudah tercerabik segala luap tentang batara kala
Tak ada debu pun arang , kisah puan punah bertawar rasa
Melengganglah dengan damai seperti kala tuan tiba di awal cerita

Kelak mungkin akan ada jabat kembali antara kita
Seperti pelancong bertemu di ruas dermaga
Tuan menatap lalu mencibir sebelum sebat sempurna 
Aku, dia , kami memulai cerita kita yang sirna

@lenspam jalankarang Cc 27 desember 2019

SOMEWHERE IN THE GOLD EVENING



Bukankan senja itu selalu indah, za
Bahkan ketika hanya sepi menemani hadirnya
Warna emas yang berebut tempat dengan malam
Tak pernah gagal mengingatkan diri akan rindu pada kampung halaman

Kita tak pernah punya senja , di mana kau dan aku duduk berbagi cerita seharian
Lalu bersiap menakar rancang asa tentang esok yang lain
Yang kita punya hanya patahan-patahan angan berderak buyar di rampas realita
Senyumpun tak lagi yakin, mengembang atau ciut disaput getir

Jangan menyerah ! Hanya itu yang bisa kutitipkan setiap kali senja bertandang
Membawa kabar tentang hangatnya kata pulang
Membagi ceritanya tentang nyamannya saat menetap
Jangan menyerah ! Sebab yang kutahu hanya tentang bertahan

Sejauh ini kita mampu melewati senja , terpisah raga ternaung awan-awan
Berapa air mata tumpah tak perlu lagi kita takar
Biarkan ia rapi menggenangi pelataran bathin kita
Yakin saja ! Kristalnya akan menjadi maha indah kelak di waktu yang paling tepat

Kita orang-orang berhati kuat, bukan ?
Meski kini bola mataku tengah nanar ketakutan menatap senja
Tetapi menghidu nafasmu dalam dunia yang kupunya
Itu adalah super energi yang akan terus menguatkan

@lenspam jalankarang Cc  02 02 2020

Kepada Hafidza widhyadhari kurniawan

WABAH



Aku berhadapan dengan hantu
Bersembunyi pada lapisan kabut 
Matanya pedang menusuk bisu
Cakarnya runcing tuba merasuk

Makilah angin penyebar lara
Makilah udara pembawa petaka
Makilah manusia peloba tamak
Dendam alam bahkan sedahsyat  kiamat

Para penjual retorika kemarin berteriak garang
Hari ini di bibirnya tersumpal kain kotor
Mata melolong seringai sungging menatap bangkai
Daging jelata sayat terimbas kebijakan badut

Ayal , bodoh, kelewat tipis perbedaannya
Sudahlah, aku kehabisan kata serapah
Nanti kukumpulkan airmata satu bak
Kubuat tinta untuk makian yang lain 

@Lenspam  Cc jalan karang 17 maret 2020

DEAR FREEDOM

Aku hanya sedang cemburu pada udara yang sedang kau hirup di luar sana 
Cahaya purnama langsung jatuh di wajahmu, menyamarkan segala air mata

@Lenspam Cc jalankarang 05juni2020 

Pic koleksi pribadi

Jumat, 22 Januari 2021

WOUND



Aku semakin tidak bisa mengeja kekata rindu
Kurasa ia telah menjadi tuak paling tua sampai membuatku mabuk
Tak lagi bisa kuingat berapa panjang sudah perjalananku
Seperti perdu yang ranggas terpanggang mentari , begitu juga hatiku

Kalian tahu, apa sebenarnya hal yang paling menakutkan ?
Aku takut benar-benar akan melupakan semua garis wajah kalian
Aku takut benar-benar akan menjadi asing bagi kalian
Aku takut tak pernah sempat lagi menikmati segelas teh hangat bersama kalian

Berpura-pura tak lagi bisa merasakan apapun itu hal paling melelahkan
Melupakan pecahan beling yang kian dalam menancap itu juga menyakitkan
Ya, aku pikir aku sedang lelah memikul segala karang ini sendirian
Mungkin yang kuperlukan saat ini hanya sebidang bahu, untuk kutitipkan sejenak satu isak tangisan

Tak lebih tak kurang, seperti biasa, aku hanya diam mengatup menatap awan-awan.

@lenspam jalankarang Cc 27 sept 2020

ANOTHER SINKED

ANOTHER SINKED

Kemudian tengah malam penuh awan 
Berenang dalam halimun, sebelum benar-benar karam

@lenspam jalankarang Cc 27 sept 2020

Pict koleksi pribadi

PAPA



Menyundul langit
Dengan kepalanya yang hanya sebesar kelapa
Menyepak batu gunung
Dengan ibu jari kaki
Sebesar kerikil

Tidakkah kita mau belajar
Dari mahkota tak kasat mata  bernama covid ?
Tidakkah kita mau menyimak ?
Dari banyak histori seantero buana 

Manusia bertingkah seakan dewa
Lalu  membawa keangkuhannya
Pada liang bernama lahat
La ila ha illallah pun terlambat lisankan

#coretanbasi

@lenspam jalankarang Cc 22 sept 2020

KEPADA PAK TUA

Aku tidak sedang lelah 
Hanya ingin rebah sebadan
Mulai menghitung mundur bilangan
Ah, masih terlampau panjang

Di kerutmu bersaksi karat
Bagaimana kau koyak zaman
Merobek waktu dengan kesunyian
Sebotol ciu setia mengangkang

Mereka kau bilang ananda
Sibuk sendiri mengejar fana
Seraya menanti nadimu kelar
Seperti aku menanti pulang

Pak tua tak lekang
Alis menaut gelegar nada
Pak tua lupa meninggal
Pagi siang hanya kiamat

"Pak tua mesin atmku, jangan dulu purna sampai aku purna tugas!"

#coretanbasi

@lenspam jalankarang Cc 22 sept 2020

RENGKAH

Untukmu yang sedang patah
Tersenyum saja dan legalah
Kau hanya perlu berjalan
Menembus gelap yang panjang

Ada saat kau sesat
Terjebak rindu dan ingatan
Garis-garis wajah seakan lekat
Rima tawa seakan dekap

Jangan berhenti untuk lemah
Jangan menoleh  ke belakang
Teruskan saja kau melangkah
Sampai tiba di tujuan

Padang bunga tanpa onak
Hanya ada dirimu seorang
Lihat ! Tidakkah ini indah
Ketika  berhenti menahan kenangan

Kisah antah di berantah
Sepatutnya kau biarkan lepas
Air mata singgah sejenak
Sebelum luka pergi menghilang

@lenspam jalan karang Cc 17 sept 2020

I MISS YOU BADLY



Begitulah kita
Berulang tingkah
Berebut luka
Bersaput amarah

Batu gunung
Bisu keluh
Biramaku sedu
Bisakah padu

@lenspam jalankarang Cc 16 sept 2020

SINTING



Mereka menyebutku sinting
Padahal aku tidak bawa gunting
Tidak juga wara-wiri mencari korban berjubah suci
Apalagi membual tipu sana-sini

Mereka menyebutku sinting
Merapal mantra berbaris-baris
Hanya karena aku jatuh cinta pada diksi
Hanya karena mereka pikir aku lain

Ah, tapi sudahlah biarin
Bukannya kita memang sedang ada di zaman serba sinting 
Bahkan udarapun ikutan miring
Kian sesak digayuti mahkota beling

Coretan basi
@lenspam jalankarang Cc 15 sept 2020

KEPADA LELAKI YANG DI BAHUNYA PERNAH KUTITIPKAN AIR MATA



(Bukan) luka mengalir perlahan bak arus hilir
Kemarin kubuat kau pergi agar kau sampai juga ke detik ini
Perjumpaanmu dengan raut nawang peneman surgawi
Berapa lama kau mengutuk aku yang bisu tanpa hati ?

Hari ini tak payah berterima kasih
Tak payah juga kau tarik serapah basi
Ketidak setiaanku untuk tetap berjalan ditempat denganmu
Aku berhenti mendobrak takdir denganmu

Sekarang tersenyumlah 
Puanmu manis dengan manja di dada
Seluas hati kuhuluk salam bahagia
Dan terima kasih kau pernah singgah meski tak menetap

#kepadaAF

@LENSPAM jalan karang Cc 14 sept 2020

ABSURD



Aku datang lagi sambangi kedai ini
Sepotong roti berselai merah hati
Secangkir kelat kopi tanpa pemanis
Hanya asapnya berkepul seperti kabut dini hari

Aku mengernyit, atau meringis
Kedai apa ini ? Belum juga sewindu kutinggal pergi
Kopiku telah lagi bercampur susu basi
Lebih meringis , markonah melenggok pamer gincu setebal daki

Deuh, markonah , kau campur kopiku dengan susu basi 
Rinduku akan kedai sontak tunggang langgang pergi
Harusnya kau pahamlah, puan cantik
Ini kedai kopi tempat kau seruput hitam sambil menakar majas diksi
Bukan melenggok absurd sambil menyebar susu basi

@lenspam jalan karang Cc 11 september 2020

JIKA AKU MENJADI BUIH DI LAUTAN



kelak pandangi lautan
Awan nan putih berarak
Langit biru membentang
Ombak dan pantai berkejaran

Ada buih pernah terlupakan
Ada buih pernah terabaikan
Ketika Ia sebagai lilin temaram
Ketika Ia segenap menjaga kalian

Ketika aku menjadi buih lautan
Akankah wajah kalian nyata dapat kupandang ?
Dengan segenap rindu bertahun membuncah
Atau , seperti biasa kalian hanya serupa bias.

Ketika aku menjadi buih lautan
Menyatu bersama angin dan malam 
Berhenti menghitung detak kalender tua
Berhenti menyulam helai helai perak

Ketika Aku menjadi buih lautan
Kenangan, luka, kepedihan
Berjajar manis di tepi pelabuhan
Membisikkan kata sayonara puan

@LENSPAM JALAN KARANG CC 07 SEPTEMBER 2020

Minggu, 17 Januari 2021

SEPANJANG JALAN



Sepanjang jalan kau sebar pecahan beling
Mengikutimu seperti buta tanpa kerlip
Aku merasakan koyak telapak kaki
Menembus sampai jantung tak bernadi

Tetap kuikuti meski tulangku tak lagi berwarna putih
Tak juga henti kau sebar pecahan beling
Bodohkah aku ? Menaruh puja bagimu selayak kerang ajaib
Demi sepotong senja terlanjur berkait janji

Berulang kali kedunguan menampar otakku, menyuruhku berhenti
Bebal ya bebal, aku terus memeluk harap selayak pandir
Tak juga sadar, kau telah lesat menjauh dan tertawa degil
"Bodoh! Kau terlalu puitis untuk mengetahui taring iblis"

Hei! Jika bumi yang ikhlas terinjak kau anggap sebuah ketololan abadi
Mari kuceritakan tentang kisah pilu koran-koran kuning
Ada saat ketulusan terus kusemai bukan semata aku pandir
Nanti kelak kau paham, bagaimana menangisi malam yang senjanya kau usir pergi

"Ta, waktu sehari hanya sampai di jarum angka dua belas, tak lebih tak kurang "

@Lenspam jalankarang Cc 18 januari 2021

#mydiary
#iamgettingsickwith

Sumber pict pinterest

Kamis, 14 Januari 2021

LARUNG

Aku masih menganggapmu sebuah biduk
Sejak hari kita berjanji saling mengikat padu
Kini kau melarung entah ke selat mana
Sebelum sempat sampai di pulau senja

Dayung patah badai pasrah biduk pecah
Ombak membawa sisa pecahan pada pantai tak bertuan
Lengang tanpa nyiur pun aroma ikan asap nelayan
Hanya ada aku, malam , sedikit bintang di timur lautan

Ta, sampai kutulis huruf demi huruf perlambang kehilanganku ini
Aku masih menganggapmu biduk, tempat kusandarkan segala harap akan tuju yang kau janji
Meski kau telah menyerupa serpih, buyar di mangsa waktu dan hari
Jauh, di pojok pulau sepi tak berhuni ini


Aku menunggu kau kembali utuh, ta 


@Lenspam jalan karang Cc 14 januari 2021


Kamis, 07 Januari 2021

RAHANG GUE KENA TINJU



Dulu, aku pernah nakal
Waktu sd , pulang sekolah kabur sama teman
Asyik bermain di pabrik patung kerabatnya
Memetik rambutan yang penuh sampai tanah

Sampai rumah hari nyaris petang
Mimi dan abah menatap gemas campur cemas
Sebatang pucuk singkongpun melecut di paha
Aku menangis dan tertidur, lupa kata maaf

Bangun tidur mimi sedang menatapku dengan mata kacanya
Di tangannya sebuah ikat rambut cantik penyesalannya akan lecutan
Aku benar-benar lupa akan tangis dan maaf
Asyik menata secuil rambut dengan hadiahnya

Lima tahun di neraka aku memang tak pernah kena tinju atau lecutan
Hanya teror dan ketakutan dari lelaki yang tak ingin kusebut bangsat
Karena darinya aku punya bidadari secantik nirwana
Nafas keduaku yang insya Allah akan selalu kujaga

Hari ini, rahangku kena tinju mentah
Pasien super duper   itu mengaduk semua emosi yang kupunya
Udara dingin tanpa kopi dan sarapan bukan apa-apa
Entah kenapa rasa sakitnya terasa tidak sama seperti waktu mimi melecut paha

Akhirnya aku duduk mencangkung di tangga
Merasakan gigil dapur tanpa kompor yang enggan kunyalakan
Pelan-pelan aku meredam emosi gila
Dan menghitung mundur waktu yang tinggal dua tahun

"Aku sedang nyupang, dengan tumbal jiwa raga"

@Lenspam jalankarang Cc 8 01 21

Rabu, 06 Januari 2021

YANK

YANK

Pagi ini membuka mata disambut hujan gerimis
Basahnya melengkapi secuil beranda depan 
Mendung dan kabutpun berlomba menyiangi mentari
Udara lima belas derajat lebih dari cukup menutup pernafasan

Aku teringat perasaan yang kemarin siap kuletakkan di hatimu
Sekarang seperti kemuraman pagi ini, dia siap buyar kembali menjadi hantu
Tiba-tiba sayap pungukku kembali tumbuh 
Meringkuk disepokok tumbangan dahan tua dan tersedu

Ah, yank...
Maafkan aku terlalu kurang ajar
Dengan pongah berani mengeja diksi-diksi bualan
Menjadikannya pegangan bak tongkat pejalan

Sumber photo :pinterest

@lenspam jalankarang Cc 07 januari 21