Aku tidak dapat tertidur lagi malam ini. Suara yang berdentum ramai dalam kepoloku gaduhnya seperti tetabuhan atraksi barongsai dan petasan. Kemarin sore sempat aku saksikan pada upacara sembahyangan di kuil/klenteng belakang rumah .
Memoriku seperti ingin berlompatan keluar, enggan berdiam di pojok ruang batinku yang selama ini selalu terkunci rapat dan tak sekalipun kubiarkan meraja di fikiranku.
Tapi tidak kali ini. Tidak malam ini, mereka seperti sengaja mengacau, datang mengacak-acak jiwa .
Ada apa ini,?
Aagh! Bibir rasa kelu, bahkan sekedar menyebut sepotong kalimat Illahiah pun Aku tak sanggup. Seingatku dulu bibir dan hatiku selalu akrab dengan dzikir pun shalawat. Apakah hati sudah berubah menjadi semacam tempat tak bertuan di kutub utara ?
"Sudahkah engkau shalat anakku sayang?" Suara emak seperti tepat berada di Rongga dua telingaku, berbisik lembut dan lirih. Sebutir bening luruh . Rindu lebih dari sekedar dahsyat.
Iya, aku rindu emak.
“Dengan shalat , kau akan mampu menjernihkan segala hal keruh dalam bathinmu. Karena sesungguhnya, shalat adalah interaksi paling intim antara bathinmu dengan sang khalik. Shalat adalah sebaik-baik komunikasi antara Engkau dengan Penciptamu, Nak."
Aku ingat dengan percakapan terakhir Kami sehari sebelum Aku terbang ke Negri langit ini.
Emak !!!!
Aku tergugu dalam hening, hati mendadak histeris, berteriak keras menembus langit. Meski tentu saja semua hanya bisa terdengar oleh telingaku. Ia menyepak, menendang. Sumpah serapah kesumat melonjak, menari-nari liar.
Api telah membakar segala ilalang kering yang dulu pernah begitu subur dan hijau . Duluuu,,, sekali, sebelum semua menjadi seperti sekarang.
“Shalatmu, sayang. Shalatmu adalah sebuah jati diri hakiki. Sebuah kartu tanda penduduk, diberikan langsung oleh Penciptamu. Shalatmulah yang akan membedakanmu dari Non muslim. Shalatmu nak, Shalatmu yang akan terhisab pertama kali saat kita semua sampai di padang pengadilan, yaumil akhir.”
Emak!!!
Akhirnya Letih juga setelah mengamuk itu hati. hening, senyap.
Perlahan kuseret langkah keluar kamar. Terlebih dahulu mengecek dan memastikan, pasien yang kujaga telah pulas hingga tidak terusik oleh gerakanku.
Brrr!!!
Dingin udara bersuhu tujuh derajat celcius masuk lewat jendela kamar mandu yang terbuka sedikit. Lupa kututup rapat petang tadi. Aku menggigil.
Bukan raga ini yang mnggigil , melainkan hatiku. Mungkin telah lupa cara berinteraksi dengan dinginnya percikan air wudhu .
Aku lupa , kapan terakhir aku berwudhu lalu melaksanakan shalat. Hampir setahun setengah semenjak aku sampai, aku tak pernah shalat.
“Shalatlah nak!! Apapun yang akan menghalangimu, cukup Engkau letakkan segala ketakutanmu pada sebuah doa dalam rakaatmu, niscaya Allah yang akan mengurus semua . Bukankah Allah itu maha pengabul segala doa dan penolong segala kesulitan semua makhluknya?
Bissmillah,!!
Izinkan kutempelkan keningku pada bumimu duhai Rabbi, Zat penguasa seluruh jagat dan seisinya. Kening kotor ini terlalu lama terberangus ketakutan akan fananya duniawi. Negri langit ini terlalu kokoh memasang jeruji besi, memasung kebebasanku menjalani segala hal yang harusnya telah menjadi darah dan nadiku.
"Anna ni caai na,,,??!! "~anna di mana kamu?~
Gelegar datang , tak memberiku kesempatan untuk bergerak sama sekali, bahkan sekedar untuk menyelesaikan tasyahud akhirku.
"Ni cai kansheme,?" ~kamu sedang apa?~
Thai thai ~majikan perempuanku~ tiba tiba saja telah berdiri di hadapanku, suaranya selembut biasa jika Dia bicara padaku, dengan irama dan intonasi yang sempurna. Tapi kali ini matanya menghujam langsung ke arah mukena putih yang tergesa ku lepas dan kulipat. Jelas tergambar ketakutan dan kemarahan pada wajahnya.
“tuipuci thai thai.”-maaf, nyonya- Tergagap Aku menjelaskan.
"Wo siangnin citau, u fencung kau lah, kheyi ma?”
~maaf , Nyonya, Saya rindu shalat, lima menit cukuplah, bolehkah?~
"Puyunglah! " ~ Tidak usahlah~
Matanya makin tajam menghunjam, meski intonasi suaranya tidak berubah.
"Women iting tongyi, ni pu neng citao cai women ciali."
~kita sudah sepakat, Kamu tidak boleh sembahyang dirumah kami, ~
Tangan lentik itu terulur, tanpa kata meminta mukenah di tanganku, tanpa repot repot menunggu jawabanku. Jika kesepakatan yang Dia maksud tidak pernah melibatkan persetujuanku. Seperti hampir semua teman-temanku yang lain. Kami bekerja sebagai tenaga kerja wanita di wilayah aspac. Agency kami terkadang memaksa kami menandatangani kesepakatan kontrak soal hal-hal pribadi, seperti Handphone atau hak kami untuk beribadah, tidak semua seperti itu memang, Aku hanya salah satu orang yang tidak seberuntung teman-teman lain. Thai thai , menantu dari lansia yang kujaga, memang sangat baik memperlakukan Aku selama ikut mereka.
Hanya soal satu ini Mereka sama sekali enggan memberiku toleransi, sebubuh tanda tangan di atas materai tentang peraturan satu ini selalu dia ingatkan , setiap kali Aku mencoba mengusik hak rohaniku.
“kamu masih mau kerja di sini kan , Anna ? Kalau mau , tolong ikuti peraturan rumah kami, kalau tidak , terpaksa kami harus mengembalikanmu pada egency " Kali inipun Dia masih bersikukuh .
Aku menunduk lemah , serasa menjadi pandir seketika.
“Kamu fikirkan baik baik Anna ! Selama ini kami perlakukan kamu dengan baik , kan? Hanya untuk satu ini saja kami tidak memperbolehkanmu ."
Gemulai tangan lembut Thai-thai meringkas mukenahku.
"Cai women ciali, pu neng you liangke sin." ~ Di rumah kami, tidak boleh ada dua Tuhan.~
Sambil memasukkan mukenahku ke dalam kantong kresek, Dia menatapku lagi, kali ini dengan tatapan lebih lunak seraya berkata , "cepatlah kembali kekamar! Sudah waktunya Ama minum susu . Kita bicarakan lagi soal ini besok ."
Diam... Kata orang bijak lebih berharga dari sekwintal emas. Tapi diam bisa juga sebagai tanda betapa lemah dan kerdilnya keimanan kita . Betapa pengecutnya sikap kita ketika menghadapi satu keadaan yang membuat kita tersudut dan tak berkutik.
Malam ini Aku kembali tak dapat tidur. Badai dan angin dingin mengamuk lebih dahsyat dari semalam kemarin.
Benakku sedang sibuk mengeja makna kata pulang . Tempat di mana bisa kuletakkan segala nestapa yang sekarang ini sedang kurasakan.
Ya pulang ! Berhenti berjalan dan melupakan semua cita-cita serta tekad awal saat pertama kali aku nekat memutuskan menjadi tenaga kerja wanita ke negri langit ini . Rumah mungkin adalah pelipur satu-satunya untuk airmataku saat ini.
Mataku menerawang , menggumuli langit langit kamar.
Seperti yang pernah emak katakan dulu , saat melepasku pergi , "Harus ada titik untuk Kau berhenti mengembara, an. Emak tidak ingin Kamu selamanya di luar sana."
Mungkin ini saat yang tepat ? Saat yang bijak untuk berhenti dan meletakkan semua letih tak terhingga ini ?
Ku hela nafas , berat sekali , terbayang percakapan dengan Putri semata wayangku beberapa hari kemarin.
"Ibuu,,,, Widya kalau lulus SD mau masuk pesantren boleh ya ? " Suaranya manja dan riang, Tiga bulan lagi Dia akan menyelesaikan sekolah dasarnya , dan harus melanjutkan ke tingkat menengah , bukan biaya sedikit untuk memenuhi keinginannya masuk ke sebuah pondok pesantren terkenal di kota Kami . Sejak usia taman kanak-kanak Dia bercita-cita ingin menjadi seorang Guru , terutama guru agama .
AH! Sedang apakah dia sekarang ? Pukul sepuluh waktu indonesia , pasti dia sudah terlelap , membawa semua harapan masa depannya .
"Anna , gendeng bagian dapur dan kamar mandi rumah kita ambruk , sudah rapuh kayu-kayunya , perlu segera di perbaiki butuh sekian juta untuk itu. " Yang ini suara bapak , ketika Kami bicara lewat telpon minggu kemarin .
“Dian sudah waktunya cuci darah dan ambil obat lagi , Ann.“ Itu tangisan Bunda juga minggu kemarin , "setidaknya kita harus ada pegangan lima jutaan , "
Aku makin meringkuk seperti udang yang siap di rebus , Dengan mata nyalang dan otak makin ribut serta kacau , tanganku erat menggenggam tasbih mungil pemberian Ari, sahabatku yang lebih dahulu kembali ke tanah air. Ini satu-satunya barang rohaniku yang tidak berhasil disita Thai-thai untuk diserahkan pada agency tadi siang . Aku menyembunyikannya di bawah kasur Ahma.
Kata pulang sepertinya harus kembali mental entah ke sisi mana , bukankah hidup itu berarti kita harus berjuang dan menjalani apa yang ada di hadapan kita tanpa mengeluh ? meskipun itu bukan sesuatu yang ingin kita pilih ?
Detak jam menembus angka pukul tiga dini hari , dan belum ada tanda-tanda mataku akan terpejam , bahkan makin banjir oleh airmata.
Bolehkan Aku merasa Lelah , mak? Aku makin meringkuk seperti udang rebus siap santap.
Dalam setiap perjalanan, akan selalu kita temui sebuah simpang. Untuk kita memilih. Ke kanan ? Atau ke kiri ? Lebih banyak dari kita tidak beruntung sama sekali untuk memilih. Selain terus berjalan, membawa semua pikulan di kedua bahunya. Sampai waktu mempertemukannya pada tempat pemberhentian akhir.
@lenspam jalankarang mailiau 24 oktober 2013 ~revisi Cc 19 maret 2021~
Dedikasi buat semua pekerja dan calon pekerja domestik di luar negri, khususnya di aspac . Cerita ini terinspirasi dari cerita seorang teman di tahun 2013, semoga bisa menjadi semacam inspirasi , renungan dan bahan untuk bersyukur saat kita tidak di hadapkan pada kesulitan seperti tokoh dalam cerita ini.
Ingat!!! Nikmat terbesar selain nikmat sehat itu adalah nikmat iman dan keleluasaan untuk menjalankan kewajiban kita sebagai muslim. Yang punya kesempatan seperti itu, manfaatkanlah sebesar besarnya. Semoga Allah senantiasa mempermudah segala langkah kita sampai finish kontrak aamiin.