Minggu, 01 Juli 2018

JANJI HENING

JANJI HENING

(cerpen)

Lena Pamungkas

Malam menua, ada embun terlalu cepat turun, dedaunan gersang musim panas tak mampu lagi menampung tetesannya, ia tumpah,ruah ,luruh di kedua netranya.

Suara detik jarum di jam dinding berdetak monoton, ia adalah gemuruh debar jantungnya yang terwakili.

Di hadapannya, secangkir kopi pahit hitam _yang seharusnya tak boleh lagi mengisi lambungnya_ nyaris setengahnha tandas ia seruput. Sebungkus ld putih _inipun sudah tak layak lagi menyumpal paru parunya_ cepat sekali berubah menjadi puntung, berebut menyesaki asbak hitam.

Kebiasaan super buruk, entah kapan mampu ia perbaiki, seperti hari harinya yang juga selalu ia perlakukan buruk, ia tak pernah bisa memperbaiki segala hal yang telah ia rusak.

Untuk kesekian kali Rin menarik nafas seiring asap congkak bertandang ke paru parunya.secepat itu ia hempas kembali.

Seraut wajah ikut mendusal, memenuhi hampir sebagian besar ruang pikirannya, air matanya kian tumpah laksana puncak penghujan.

"Kei, bersaksilah malam ini," suara nya lirih memantul mantul pada dinding buram kamar petakkan tempat ia menyembunyikan diri," Ini ku kembalikan lagi padamu janji yang dulu pernah kamu taruh di bebanku,"

Malam masih meramgkak memburu dini hari,
Dan Rin masih sibuk dengan obrolannya bersama keheningan.Ah,, bukan keheningan sesungguhnya, ia tengah menyapa Kei seperti biasa, lelaki dari masa lalu yg kini hanya berupa  imaji pendamping sunyi.

Selalu saja ada yang berderak patah tiap kali ia mulai mengingat nama itu. Rasa lelah mendekap harap semu sungguh sukses merejam batinnya hari ini.

Kei, kei, kei, seperti mantra ia langgamkan dengan dua celah bibir gemetar. Berharap dengan begitu sosok yang lebih dari sekedar ia rindukan itu dapat menjelma lekas ,

Tapi seperti biasa, Kei telah lama hilang, sosoknya telah lama hanya menjadi pendar buram di hidupnya,satu satunya yang tersisa hanyalah ingatan akan lelaki bermata almond itu.ingatan yang terkadang membuatnya hilang arah,sesat dan tenggelam oleh rasa kelu dan putus asa.

Tidak malam ini, Rin menAtap nanap kertas merah marun bertinta kaligrafi emas.
Malam ini semua akan tuntas ,kei.
Aku akan buang semua hal.tentang kamu, esok... ku pastikan kamu hanya akan melihat senyumku.Tak akan pernah ku biarkan lagi kau melihat wajahku yang gulita.

Selamat berbahagia kei.Selamat merayakan keberhasilanmu membuatku hancur dan terpuruk.Tapi tenanglah! Seperti kataku tadi, tak akan ku biarkan kau melihat aku hancur.

Esok,Kei ,esok aku akan melangkah tegap menuju altar bahagiamu, esok akan ku tatap wajah sumringah kalian dengan dagu tengadah.
Esok juga adalah hari pertama ku mulai janji heningku ini. Aku akan membuang ingatanku tentang kamu.
Aku akan menjadi aku yang baru.Aku yang hanya punya senyum untuk di pamerkan pada dunia.
Lukaku ? Ah biar saja ia berdarah darah di pojok hati sana. Jangan manjakan ...

Malam tiba di bibir pagi.semburat merah mulai menyapu ufuk timur.
Rin menyeruput sisa kopinya yang tinggal.seteguk, dua batang ld putih tersisa pada bungkusnya, selembar surat undangan pernikahan merah marun terkepal erat di tangannya yang seputih kapas.

Hening menghitung detik, mengantarnya menjadi menit. Lalu menuju jam.

Adzan subuh tak sempat mampir ketelinganya.Namun aneh, ia masih mendengar suara teriakan bunda memanggil namanya, dari ujung langit2 Rin bisa melihat bunda meraung, histeris...
Dan merah bercecer di sekelilingnya ,merah pekat mengalahkan warna undangan pernikahan kei dan seira..

Lalu gelap melabrak,

Chiayi city 27 05 2018

Tommorow you ll only see my smile. I ll forget all about you,,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar