Mati tiada keranda
Terbujur tiada makam
Hanya Jiwa melayang liar
Menjadi hantu sebelum raga berpulang
Riuh angin menabuh gerimis congkak
menaburkan ribuan kantil dan kenanga
Memahat aksara pada nisan udara
Telah berpulang seluruh ketegaran
Daun daun kamboja waktu gugur melayang
Menikam tepat pada jantung ingatan
Hingga tiada sisa tetes tetes darah pengharapan
luka ini adalah luka peradaban nan teramat purna
Sekarang aku hanya meminta keranda
Tempatku sauh segala muak bangkai nestapa
Usunglah ia dengan tangan tangan kalian
Gali juga ku satu makam untukku bersemayam
Tempat ku kubur sejuta petaka yang telah tercipta
Tak ada lagi yang ingin kubuat
Aku lelah menunggu indah kembali pulang
Baiknya ku usaikan saja lekas sajak sajak mimpi kehidupan
Toh, Hantu tak perlu lagi romansa ,bukan?
Baiklah,kubur aku dalam tanah merahmu,teman
Tapi oh tapi, mengapa
Jiwaku masih bertengger manis pada raganya
Seperti sinta bermanja pada sang rama
Tidak mengertikah ia
Kehidupan dan kematian dua hal yang asburd untukku sekarang
Aku hanya ingin berpulang,menjemput petang di ujung nirwana
Jiwa berbisik lirih perlahan
Jangan pernah terlupa sayang
Bahwa jiwamu ini bukan engkau pemiliknya
Jualah ALLAH penggenggam waktu kapan tiba
Jualah bunda serta nanda rantaimu tuk' kuat memijak
Aku akan tetap mesra menyandingmu sampai akhir duhai Raga
Jangan lagi meminta keranda pun makam
Ia adalah kepastian setiap jiwa
Nikmati saja detik_detik busuk milik kita
Aku terdiam
Semilir angin datang dari ujung ingatan
Harum bedak bayi nanda
Teduh lantun zikir bunda nun di sebrang samudra
Dua nafas tempat lelah berpulang
#dedikasi_for_emak_dan_Za_
#thanks_alot_always_to_be_my_soul
Mailiau township taiwan
11 april 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar