CELOTEH SEHELAI DAUN RONTOK DI MALAM MUSIM GUGUR ( Sebuah torehan )
____ @Lenspam ____
Aku mulai terbiasa merasakan matinya udara, meski angin bertiup mengamuk menampar membawa serta cucukan dinginnya. Menyambut oktober di tengah rasa sunyi selalu saja menjadi kesah berkepanjangan yang tak pernah mampu kuurai dengan ribuan hela nafasku. Aku tetap tak pernah benar-benar bisa berdamai dengan sapuan angin gersang ini.
Sepertinya Aku harus mulai membaurkan rasa gelisah ini pada larutan udara malam. Berdamai lebih tepatnya. Ia ! Aku harus segera berdamai dengan harapan yang mulai meretak dan patah-patah dari hatiku.
Menatap garis penanda kepergianmu dengan bisu, serasa Abad sudah melantakkan sisa-sisa rasa yang kemarin mati-matian kutambal lalu kusulam dengan benang basah berwarna compang , bermotif camping. Ternyata Aku tidaklah sekukuh baja , aku tak ingin menyebut ini rasa kecewa , tapi jujur , ada yang terasa retak tak berbentuk lagi tiap kali kuingat , maknaku hanya sebatas coretan kecil untuk kisahmu.
Berkali kau mematahkan prasangka, berkali kau mementahkan praduga, tapi tak sekalipun kau mencuba buktikan kalau prasangka dan praduga yang kupunya tak bersandar pada hakiki. Lalu , bolehkah kupinta kau untuk memberi nama pada rasa sakitku sekarang ini,,?
Kau tahu ? Sebelum kemarin , Aku masih terus membiarkan pintu-pintu , jendela-jendela terbuka lebar-lebar , agar tiap kali kau datang kembali tak perlu lagi kau sibuk mencari anak kunci.
Tapi rasanya tidak kali ini . Aku benar- benar telah terbiasa dengan ketiadaanmu, benar-benar terbiasa dengan bisumu, dengan acuhmu, dengan tatapmu yang selalu menganggapku bukan siapa - siapa. Aku benar-benar terbiasa dengan dinding sepi yang kau ciptakan untukku berkali-kali.
Aku bahkan tak tahu bagaimana nanti aku akan bersikap, Tak tahu lagi bagaimana kita dapat kembali meniti jembatan yang kemarin dulu begitu gigih kita bangun, hanya untuk kita terjang dengan ombak ego kita. Aku.... tak tahu lagi cara meramu cinta untuk kisah kita yang terus terpenggal bak cerbung picisan.
Maafkan Aku, bisakah ? Sebab mulai malam ini Aku ingin menutup rapat pintu-pintu, dan jendela-jendela ini. Aku tidak merasa tegar dengan terpaan angin yang terus menerus mencucuk setiap poriku. Aku juga merasa lelah terus bertanya dan memulai awal setiap kali jeda kau hentak tanpa kata. Aku lelah,,, dan kurasa Sendiri menghitung menit akan jauh lebih menyenangkan untukku saat ini.
Jadi maafkan Aku , jika kemudian kau menemukan sepi lebih dari sepi , kelak jika kau putuskan datang lagi , Maaf ! Mungkin saat itu Aku sudah mengunci semuanya rapat-rapat .
Selamat malam, semoga harimu selalu indah tanpa ada lagi gurat mimpi kita.
Dariku sehelai daun yang rontok dihembus angin musim gugur
Chiayi city 04 oktober 2018
Tidak ada komentar:
Posting Komentar