ANTAH BERANTAH
Terkadang aku membayangkan kamu sedang menuntunku,selangkah demi selangkah menuju altar surgawi,membangunkan lelap dini hariku,mengajakku berkidung zdikir mengetuk pintu langit, membuat yang mustahil menjadi mustajab dengan titah kun dari sang penguasa jagad dan hati manusia.
Aku tidak mengenalmu, namamu hanyalah kabut tebal yang melingkari setiap mimpi2ku,wajahmu hanyalah serupa asap meliuk liuk tak berupa, suaramu bahkan setara denging perlahan ,terlalu sayup untuk ku deteksi keberadaanmu.
Tetapi aksaramu serupa candu telah menghisap kesadaranku, menitahku untuk terus limbung mabuk seraya menarikan puisi puisi indah tentang cinta.
Iya kamu, lelaki asing bernama entah,berwajah misteri, bersuara ketiadaan, kamu hanya menari nari di sini,di benak dan khayalanku, membuatku ingin selekas mungkin melempar kesuramanku akan hari kemarin.
Menjelang malam ,setiap kali warna jingga menyapuku dengan semburat cahaya redupnya, jiwaku mulai saja berontak, ia terbang mengepak ,sibuk mencari kamu yang entah di mana semayammu.
Ku bayangkan kita di sisi beranda ,menikmati malam yang turun dengan segenap damai di dada.
Maukah kamu bergegas datang? Keluar dari khayalanku, sambut segala pasrah yang ku punya? Lalu tuntun aku seperti raja menuntun sang ratu?
Aku lelah menjadi sendiri seperti ini,aku lelah menangisi setiap duka yang tak tahu diri,datang setiap saat dengan cambuk berapinya.
Aku rindu bahu bidangmu yang nyaman, tempat ku tumpahkan segala ketakutanku bertahun tahun ini.
Kadang kau menjelma di antara wajah wajah asing yang tak ku kenal,ingin sekali ku sapa dirimu,sekedar hai, atau lambaian tangan saja,yang penting cukup kau tahu aku ada,dan diam diam memperhatikan,betapa indah dirimu.
Dan berharap,ada kisah yang segera terurai di antara kita,
Hai kamu, maukah kamu sejenak menolehku? Sedetik saja kurasa cukup.
#jalan_karang
Chiayi 23 may 2018
Tidak ada komentar:
Posting Komentar