Minggu, 17 Maret 2013

260294,,,,#4

Dua tahun tanpa kehadiran Tori.dua tahun ia menyudut jauh meninggalkan kota yg ia tempati sejak usia sembilan bulan mungkin ia tidak terlahir sebagai darah betawi...mungkin abah tidak memiliki secuilpun tanah di kerat kerat betawi...tapi ia mendarah...mengurat bersama kota ini.
tetap saja perlu sebuah stempel untuk membuat keluarga besar Tori mengakuinya malangnya...sampai kapanpun stempel itu takkan pernah ia dapatkan bagaimana abah bisa membeli secuil tanah atau rumah unruk melepaskan titel pengontrak? sedang penghasilan abah sebagai buruh serabutan hanya cukup untuk makan dan membayar sewa rumah perbulan untuk biaya sekolah...emak harus rela ikut berjibaku mengais rupiah...agar hari ini ada sedikit ongkos untuknya pergi ke sekolah.
mengertikah rumpun Tori??
tak perlu berjawab rasa sakit di hatinya yg menjelaskan segalanya ketika akhirnya waktu mempertemukan mereka kembali.
o. harus bagaimana ia menindih segala pedih? bukan salah Tori jika akhirnya ia menemukan gadis tercintanya yg sesuai keinginan sang bunda.
bukan perantau, yang paling penting...ia santun..berjilbab..menyandang titel guru, meski hanya guru taman kanak kanak. cukuplah itu melengkapi status dan harkat rumpun Tori.
menjadi yang terkalahkan itu menyakitkan, harusnya ia menolak kehadiran Tori.tapi..oh..mana bisa..??? lelaki itu...telah menetap di pundi sanubarinya...mengalir bersama nadi.

lelaki itupun sepertinya sama . Mata mereka, bahasa tubuh mereka..tak pernah mampu berdusta, setahun lebih ia bertahan menjadi sela di antara Tori dan Nura.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar