ku dengar tangismu
lirih
ditiupi angin
dari sebrang
mengalun
menyusuri lembah lembah
tebing terjal
sisa keangkuhan diri
duka yang kau hembuskan
menjadi kabut
yang menyelimuti
hatiku
tak sanggup ku eja
setiap jejak luka
yang
begitu getasnya
menanah
tak hendak ku sapa
duka telah menyelinap
diam
:diam
mencengkram
tiap buhul nadiku
haruskah kuberi nama
bilapun duka itu
bernama
dia yang hadir
diam
:diam
kini ada dalam mimpiku
masih kudengar tangismu
di sini
di dalam
sini.
maaf
aku tak selalu ada
untuk membasuh
laramu
By Herry suseno

Tidak ada komentar:
Posting Komentar