Perjalanan
Mailiau 24 oktober2013
Winter season
Aku hanya tidak dapat tertidur lagi malam ini. Ada suara yang berdentum dentum dalam kepoloku. Gaduhnya seperti tetabuhan atraksi barongsai dan petasan yang sempat aku saksikan pada upacara sembahyangan di kuil/klenteng belakang rumah kemarin.
Memoriku seperti ingin berlompatan keluar,enggan sudah berdiam d pojok ruang batinku yg selama ini selalu ku kunci rapat rapat, dan tak sekalipun kubiarkan keluar merajai fikiranku.tapi tidak kali ini,tidak malam ini,mereka seperti sengaja mengacau dan mengacak acak jiwaku yg biasanya selalu bisa kupaksa tenang.
Ada apa ini,?
Aagh!!!
Rasanya bibir ini kelu,bahkan untuk sekedar menyebut sepotong kalimat yg dulu begitu intim denganku ia tak sanggup.
Ada apa dengan hatiku?mengutubkah ia,,,?
"Sudahkah engkau shalat anakku sayang,,,?"
Ah, rindukah ini,?Seperti kudengar suara bunda menyusup lembut di sela riuh genderang dalam otakku.
“Dengan shalat kau akan mampu menjernihkan segala sesuatu yang mengeruh dalam bathinmu. Karena sesungguhnya,shalat adalah interaksi paling intim antara bathinmu dengan sang khalik.shalat adalah sebaik baik komunikasi antara engkau dengan allah swt,nak.”
Bunda!!
Aku tergugu dalam hening,hati ini histeris.berteriak ,sekeras ia bisa,meski hanya butir yg luruh diam diam. Tapi sesungguhnya hati ini sedang mengamuk dahsyat. Ia menyepak, menendang, dan, sumpah serapah kesumat melonjak,menari~nari liar. Apinya sontak membakar segala ilalang kering yg dulu pernah begitu subur dan hijau .
“Shalatmu,sayang,! Shalatmu adalah sebuah jati diri hakiki . Sebuah kartu tanda penduduk. Tak terlihat yang di berikan langsung oleh penciptamu. Shalatmulah yang akan membedakanmu dari yg bukan muslim. Shalatmu nak,shalatmu yang akan terhisab pertama kali saat kita semua sampai di padang pengadilan, yaumil akhir.”
Bunda!!
Akhirnya Letih juga setelah mengamuk itu hati,kemudian hening,lungkrah,senyap seperti kelengangan padang es di sebuah kutub.
Dan secara perlahan kuseret langkah keluar kamar,setelah lebih dahulu mengecek dan memastikan,pasien yang kujaga terlelap dan tak akan terusik oleh gerakanku.
Brrr!!!!
Angin dingin dari hembusan cuaca 15 derajat celcius menggigilkan tulang tulangku begitu aku keluar ruangan kamar.meninggalkan khangatan pemanas ruangan.
Bukan! bukan raga ini yg mnggigil,tapi hatikulah yang menggigil. Mungkin ia telah terlupa cara berinteraksi dengan dinginnya percikan air wudhu . Ia lupa ,kapan terakhir ia berwudhu lalu melaksanakan shalat.
“Shalatlah nak!! Apapun yg akan menghalangimu,cukup engkau letakkan segala ketakutanmu pada sebuah doa dalam rakaatmu,niscaya allahlah yg akan mengurus segala ketakutanmu. Bukankah allah itu maha pengabul segala doa dan penolong segala nya?”
Bissmillah,!!
Izinkan kutempelkan keningku pada bumimu duhai rabbii!! Zat yang maha menguasai seluruh jagat dan seisinya.Kening ini telah sekian lama terberangus oleh ketakutan dan kecintaan pada duniawimu. Negri langit ini telah lama memasang jeruji besi pada rongga kebebasanku menjalani.segala hal yg dulu begitu intim q lakukan.
"Anna ni caai nalii,,,??!! "~anna di mana kamu?~
Gelegar datang ,tak memberiku kesempatan untuk bergerak sama sekali,bahkan sekedar untuk menyelesaikan tasyahud akhirku.
"Ni cai sheme,?" ~kamu sedang apa?~
thai thai ~majikan perempuanku~ tiba tiba saja telah berdiri di hadapanku.Suaranya masih selembut biasa jika dia bicara padaku,dengan irama dan intonasi yang sempurna. Tapi matanya menghujam langsung ke arah mukena putih yang tergesa ku lepas dan ku lipat.jelas tergambar ketakutan dan kemarahan pada wajahnya.
“thuipuchi thai thai.”tergagap aku menjelaskan,“ wo siang pai pai isia, u fencung kau lah,kheyi ma?”
~maaf ,nyonya,saya rindu shalat,lima menit cukuplah,bolehkah?~
"pu yung lah!!” matanya makin menghunjam,meski intonasi suaranya tidak berubah.“secien women iting tongle ,ni pu kheneng pai pai cai womente cia,she pu she? ”
~janganlah! Sebelumnya kita sudah sepakat ,kamu tidak boleh sembahyang dirumah kami,ya tidak?~
Tangan lentik itu terulur,tanpa kata meminta mukenah di tanganku,bahkan tanpa repot repot menunggu jawabanku.
“kamu masih mau kerja di sini kan,anna? Kalau mau ,tolong ikuti peraturan rumah kami,kalau tidak,terpaksa kami harus mengembalikanmu pada egent.”
Aku menunduk,lemah,
“kamu fikirkan baik baik anna! Selama ini kami perlakukan kamu baik baik kan? hanya untuk satu ini saja kami tidak memperbolehkanmu, tidak boleh ada dua tuhan dalam rumah kami.”
Gemulai ,tangan lembut thai thai meringkas mukenahku.menatapku lagi,kali ini dengan tatapan lebih lunak,“cepatlah kembali kekamar! Sudah waktunya ama minum susu.kita bicarakan lagi soal ini besok.”
Diam, kata orang bijak lebih berharga dari sekwintal emas sekalipun. Tapi diam kadang bisa jadi hanya sebagai penanda ,betapa lemah dan kerdilnya keimanan kita.betapa pengecutnya sikap kita ketika menghadapi satu keadaan yang membuat kita tersudut dan tak berkutik.
Malam ini aku hanya tak dapat tidur kembali.Badai dan angin dingin mengamuk lebih dahsyat dari semalam kemarin.tapi seperti biasa,hanya ada di hati.
Benakku sedang sibukmengeja makna kata pulang.
Ya pulang!! Berhenti dan melupakan semua cita cita dan tekad awal saat pertama kali aku nekat memutuskan menjadi tkw ke negri langit ini.
Mataku menerawang,menggumuli langit langit kamar,
Seperti yang pernah bunda katakan dulu,saat melepasku pergi,harus ada titik ketika aku harus berhenti mengembara,
mungkin ini saat yang tepat ? Saat yang bijak untuk berhenti dan meletekkan semua letih tak terhingga ini?
"Ibuu,nja kalau lulus sd mau masuk pesantren boleh ya??” suara manja dan riang putri semata wayangku menyusup ruang ingatanku,ah!!sedang apakah dia sekarang?
"anna,rumah kita hampir ambruk dapurnya perlu segera di benahi, dan sepertinya banyak biaya untuk itu,,," Yang ini suara bapak, ketika mereka bicara lewat telpon minggu kemarin.
“dian sudah waktunya periksa darah dan ambil obat lagi, an“ itu tangisan bunda juga minggu kemarin,”setidaknya kita harus ada pegangan lima juta,an”
Aku makin meringkuk seperti udang yang siap di rebus. Dengan mata nyalang dan otak makin ribut dan kacau.tanganku erat menggenggam tasbih mungil pemberian ari,sahabatku yang lebih dahulu kembali ke tanah air.ini satu satunya yang tidak berhasil di sita thai thai dan di serahkan ke egent tadi siang.
Kata pulang,sepertinya harus kembali mental entah ke sisi mana,
Bukankah hidup itu berarti kita harus berjuang dan menjalani apa yang ada di hadapan kita tanpa mengeluh?meskipun itu bukan sesuatu yang ingin kita pilih?
Detak jam menembus angka pukul tiga dini hari,belum ada tanda tanda mataku akan terpejam,hanya ia makin banjir oleh airmata.
Aku lelah bunda!!!
--perjalanan.mungkin ini saatnya aku kembali memilih.atau diam.saja mengunyah segala.bara keparat ini??tapi sampai ia berakhirpun tak ada yang bisa kupilih--
Revisi chiayi city 07 juli 2017
Dedikasi buat semua pekerja dan calon pekerja domestik di luar negri, khususnya di aspac .cerita ini cuma fiktif,tapi semoga bisa menjadi semacam inspirasi ,renungan dan bahan untuk bersyukur saat kita tidak di hadapkan pada kesulitan seperti tokoh dalam cerita ini,
Ingat!!!nikmat terbesar selain nikmat sehat itu adalah nikmat iman dan keleluasaan untuk menjalankan kewajiban kita sebagai muslim,yang punya kesempatan seperti itu, manfaatkanlah sebesar besarnya,,semoga allah senantiasa mempermudah segala langkah kita sampai finish kontrak aamiin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar